CIPANAS (KBK) – Ratusan batang kaylan yang baru berusia 17 hari mulai menghijau di lahan milik Iyus Yusuf (52). Di atas lahan seluas 650 meter tersebut tidak hanya kaylan yang di tanam Iyus, tetapi juga ada salada air, pakcoi, wortel, labuh dan bayam yang tumbuh saling berdampingan.
Masing-masing tanaman itu hanya dibatasi oleh pematang lahan yang lebarnya tak lebih dari setapak kaki orang dewasa. Dengan wajah semringah ratapan mata Iyus memberi isyarat bahwa dalam waktu 15 hari mendatang seluruh komoditi yang ditanamnya sudah bisa dipanen.
“Kaylan yang ini paling bulan depan sudah bisa dipanen,” ucap Iyus sambil membabat gulma yang tumbuh di kanan -kiri bedengan.
Dengan mengusung pertanian sehat Iyus bisa memanen tiap 1 bulan sekali dan ketika masuk masa panen pun Iyus tetap bisa bernafas lega. Pasalnya semua hasil pertanian bapak dua orang anak itu tetap bisa terserap pasar berkat hadirnya program Green Hourti Dompet Dhuafa bertajuk Mustahik Move to Muzaki berbasis pertanian.
Sebelum Green Hourti mendarat di Desa Sindang Jaya, Cipanas, Cianjur, Jawa Barat 2 tahun lalu, Iyus tak lebih seorang petani gurem yang kondisi ekonominya morat-marit. Keadaan itu diperparah oleh ulah para tengkulak yang kerap membohongi petani terkait harga jual produk. Tak jarang Iyus mesti berhutang sana-sini untuk sekedar menyambung hidup dan mendapatkan modal tanam.
Namun kehidupan Iyus seakan berubah ketika dirinya menjadi petani binaan Green Hourti.Sebagai penerima manfaat sedikit banyak kondisi ekonomi keluarga Iyus mulai membaik.
“Untuk menyambut masa tanam nggak lagi pusing mikirin modal karena Green Hourti selalu ngasih dalam bentuk bibit, pupuk dan alat tani. Jadi keuntungan jual sayur ya buat saya semua,” kata Iyus.
kendati lahan yang digarapnya bukan milik pribadi namun Iyus mengaku pendapatannya melonjak hingga 3 kali lipat. Jika dahulu ia hanya bisa membawa pulang keuntungan kotor Rp 3-4 juta per bulan namun sekarang ia bisa mengantongi Rp 7-8 juta per setiap kali panen dengan meraup keuntungan bersih Rp 4 juta.
Dari keuntungan tersebut kini di rumah Iyus yang terletak dk RT 03, RW 04, Kampung Pada Jaya telah terparkir dua unit sepeda motor bebek keluaran teranyar. Hebatnya kedua kuda besi milik Iyus itu telah lunas pembayarannya.
“Dulu anak saya ojek pinjam motor tetangga. Tetapi sekarang sudah saya belikan motor sendiri. Jadi pagi ngojek, siang sampe sore bantu-bantu saya di kebun,” ujar Iyus bangga.
Bekat Green Hourti pula ke dua cucu Iyus jadi bisa sekolah dan tercukupi biaya pendidikannya. Tak berhenti disitu, berdirinya green house yang berjumlah 4 buah juga turut menjadi faktor keberhasilan panen.
Meningkatnya taraf ekonomi keluarga tak lantas membuat Iyus tinggi hati. Jika ada rezeki lebih Iyus kerap menyisihkannya untuk diberikan kepada anak yatim di desanya. Iyus menuturkan sistem kerja yang diterapkan Green Hourti patut diacungi jempol. Selain menanamkan nilai-nilai positif berbasis kearifan lokal, juga memberikan ilmu manajemen keuangan yang baik.
“Setiap sebulan sekali saya bersama 29 penerima manfaat lain kumpul. Kinerja kami dinilai dan diberikan motivasi. Dari sini juga kami diajarkan menambung,” kata Iyus.
“Enaknya di Green Hourti ittu modal dikasih cuma-cuma. Dulu beli sendiri, keutungan kepotong. Tetapi sekarang tidak. Berkat Green Hourti Dompet Dhuafa kehidupan saya jauh lebib baik,” tutup Iyus





