Pengalaman Dai Ambasador Dompet Dhuafa Dakwah di China

Ustad Ahmad Zaini, Dai Cordofa Dompet Dhuafa di KBRI Beijing. Foto:Ist

BEIJING – Puasa Ramadhan di rantau itu cukup unik terutama di negeri non muslim atau penduduk muslim minoritas seperti di Tiongkok (RRT) misalnya. Dengan penganut agama Islam sekitar 23 juta atau sekitar 1,8% dari total penduduk China yang berjumlah 1,3 milyar jiwa ternyata China menyimpan cerita tersendiri dengan puasa di sini durasinya sekitar 17 jam. Maghrib Pukul 19.38 dan imsak sekitar Pukul 03.12

Menurut Ketua China Islamic Assoation, Mr. Xilaluding Chen Guangyuan terdapat sekitar 23 juta pemeluk Islam di RRT yang tersebar di dengan konsentrasi tersebar di Xinjiang, Nigxia, Gansu, dan Qinghai.

Saya Ustad Ahmad Zaini, Dai Ambassador Cordofa 2017 (Ramadhan 1438 H), hari pertama menginjakkan kaki di Beijing, sebelum memulai tugas dakawah di negeri tirai bambu ini; merasa tersanjung disambut oleh Duta besar RI di Beijing (Duta Besar RI untuk RRT merangkap Mongolia, Soegeng Rahardjo). Penyambutan itu layaknya tamu negara, saya diterima di ruang beliau biasa menerima tamu-tamu penting perwakilan RI.

Menurut saya ini sebuah dukungan dan apresiasi perwakilan RI kepada program-program DD baik sosial maupun keagamaan.

WNI yang tinggal di ibukota Bejing; selain para pejabat, diplomat, dan staff KBRI juga ada para mahasasiswa yang kuliah di sini dengan berbagai jurusan juga ada kaum profesian dan ekpatriat yang bekerja di perusahaan-perusahaan milik china.

Mahasiswa muslim mereka mendirikan komunitas Lingkar Pengajian Beijing (LPB) yang diketuai M. Hafizd, mereka aktif membuat program dan kegiatan kerohanian khususnya di bulan ramadhan ini.

KBRI juga menyelenggarakan program ramadhan yang diketuai Suargana, Atase Politik di KBRI. Program Ramadhan KBRI tahun ini meliputi Buka Bersama, Shalat Maghrib, Isya dan Tarawih berjamaah serta kultum tarawih.

Ibu-ibu Dharma Wanita KBRI yakni ibu dubes dan istri-istri para pejabat diplomatik pun tak mau ketinggalan, mereka menyelenggarakan program Tadarrus bersama dengan target 2 juz setiap hari sekali duduk, plus tahsin langsung di bawah bimbingan saya, Dai Cordofa, Ambassador Dompet Dhuafa.

Dalam safari dakwah tahun ini tim Cordofa Dompet Dhuafa mengutus saya sebagai Dai ambassador bermitra dengan KBRI di Beijing untuk menjadi Imam shalat tarawih, ceramah agama (kultum), membimbing tadarrus dan tahsin alquran yang sudah dischedulkan oleh panitia Ramadhan KBRI Beijing.

Suasana akrab dan kekeluargaan amat terasa dalam momen kebersamaan ini apalagi dengan menu buka puasa dan sahur masakan Indonesia seperti sayur sop, ayam goreng, sambal terasi, ikan balado, kerupuk udang, nasi putih dll jadi terasa di negeri sendiri. Panitia kegiatan ramadhan tahun ini diketuai Suargana selaku atase politik dibantu staffnya Arif, keduanya juga yang menjemput Dai ambassador di bandara pada saat kedatangan di bandara Beijing.

Dalam kesempatan shalat jumat pertama Ramadhan 1438 H, Saya turut melaksanakan shalat jumat di Masjid Dhungzimen (https://www.muslim2china.com/china-mosques/Beijing-Dongzhimen-Mosque-6.html) masjid yang terdekat dengan KBRI Beijing bersama para pejabat diplomatik KBRI; para atase, para kepalu fungsional, protokoler konsuler dan para staff baik local staff maupun home staff.

Karena di KBRI tidak menyelenggarakan shalat Jumat sehingga shalat Jumat ikut di masjid milik warga lokal Beijing. Terdapat banyak masjid di Beijing sehingga dari Jumat ke Jumat bisa pindah-pindah dari masjid satu ke masjid lain.

Pada jumat kedua nanti diagendakan shalat jumat ke Masjid Niujie https://www.muslim2china.com/china-mosques/Beijing-Niujie-Mosque-1.html masjid terbesar di Kota Beijing yang dikunjungi presiden Jokowi pada beberapa waktu yang lalu.

Yang unik dari masjid-masjid di sini bentuk bangunanya seperti kuil, makanya orang sini menyebutnya sebagi Muslim Temple jadi disamakan seperti temple yang dimiliki agama lain. Dan Alhamdulillah di sini bisa melaksanakan ibadah puasa dan dan shalat Jumat dengan tenang tanpa ada gangguan seperti yang diberitakan negatife di media-media sosial di Indonesia. Hanya saja memang kita tidak menemukan suara adzan menggema secara terbuka seperti halnya di Indonesia, karena memang di sini Islam hanya sebagai agama minoritas.

Sebenarnya saya juga berkeinginan untuk mengunjungi Ghuang Zhu salah satu Kota Muslim di Tiongkok, sekalian ingin ziarah ke makam Sayyidina Sa’ad Ibn Abi Waqqash namun karena jaraknya cukup jauh lebih dari 300 km jika ditempuh dengan kereta cepat sekitar 8 jam, menurut informasi dari warga Indonesia di Beijing sehingga keinginan itu nampaknya belum bisa terwujud.

Saya juga berkewajiban mengisi kegiatan di Beijing yang cukup padat kegiatanya. Semoga lain kesempatan harapan tersebut terwujud dan semoga dakwah Islam terus menggema di seluruh pelosok penjuru dunia min masyariqil ardhi ilaa magharibiha. Amiin

Dituturkan Ustad Ahmad Zaini, Dai Ambasador Dompet Dhuafa untuk Beijing, Ramadhan 1438 H/2017 M.

Advertisement