Guru Alam

Saudaraku, hal terindah menikmati pagi adalah merambah bebukitan hijau.

Dalam perjalanan mendaki, kusaksikan hamparan alam hijau kekayaan hayati. Makin ragam hayati, makin kuat ekosistem.

Bentangan alam indah ini terkembang karena tumbuh dalam cinta; hasil perjumpaan kerjasama aneka sumberdaya: bibit hayati, sinar mentari, kesuburan bumi, dan semilir angin.

Di hamparan dedaunan hijau, masih tampak bebutiran embun. Meski terperangkap di daun lusuh, butir embun tetap bening, tak tercemar lingkungan yang kotor.

Tatkala sinar mentari menerpa kabut, alam membiaskan cahya perak berkilau. Saat gelap berganti terang dengan pelayanan sang surya, embun pun mengakhiri tugasnya, bergegas memuai membasahi terik langit dengan uap.

Alam tahu kapan harus datang dan pergi. Bisa saling berbagi meski tak bisa saling bercakap. Teguh mengemban misi suci, tak mudah goyah karena keadaan. Makin tinggi posisi, makin memberi ruang hidup bagi keragaman.

Embun dan mentari datang tanpa permisi, pergi tanpa pamit. Embun memberi pendinginan, mentari memberi kehangatan. Silih berganti berbagi tugas pelayanan tanpa pamrih, tanpa kecuali.

Jika alam yang tak bisa saling bercakap bisa saling berbagi dan melayani, mengapa manusia yang bisa saling menyapa tak bisa saling memberi dan mengasihi?

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here