MESKI mengajar di sekolah negeri, ternyata Pak Guru Ahmad Budi Cahyono, 27, dari Sampang (Madura) ini masih pegawai honorer (wiyata bakti). Dengan upah Rp 600.000,- sebulan, dia terpaksa mengorbankan nyawanya gara-gara ketemu murid SMA bermental preman. Ini sungguh kisah horor. Hanya karena menegor seorang muridnya yang bandel, dia dibalas dengan pukulan bertubi-tubi. Tak lama kemudian Ahmad Budi Cahyono pun tewas gegar otak. Kasihan benar profesi guru, sekian lama jadi korban kriminalisasi orangtua murid, kini harus mengorbankan nyawanya pula.
Guru itu jarwa dosok (baca: bermakna)-nya: bisa digugu dan ditiru. Karena itulah karakter dan integritasnya harus terjaga. Demi label digugu dan ditiru tersebut, seorang guru sedapat mungkin bisa menularkan karakter dan integritas dirinya pada murid. Target itu bisa dicapai bukan hanya karena keteladanan, tapi juga berupa teguran dan peringatan, mana kala si murid misalnya, melanggar kedisiplinan sekolah.
Di SMAN I Torjun Sampang, Ahmad Budi Cahyono mengajar Seni Rupa. Dikiranya mapel (mata pelajaran) sepele, murid bernama MH, 17, dari kelas XII tak memperhatikan apa yang tengah diajarkan Pak Guru di depan kelas. Teman-teman sekelas sedang menggambar, MH tak mengerjakannya. Justru dia malah asyik mengganggu teman-teman yang lain. Hasil karya mereka dicorat-coret. Pak Guru Ahmad segera memperingatkan.
Teguran itu berupa mencoreng muka MH dengan cat. Celakanya, anak Kepala Pasar itu bukannya sadar akan kesalahannya, justru menjadi marah. Tak peduli bahwa Pak Guru adalah sosok yang harus dihormati, MH langsung melayangkan tinju bertubi-tubi tanpa perlawanan. Para murid berusaha melerai, dan guru Ahmad Budi Cahyono pulang. Tapi sungguh mengejutkan, beberapa jam kemudian dikabarkan Pak Guru meninggal di RS karena gegar otak.
Peristiwa horor yang terjadi Kamis 1 Februari 2018 di Sampang Madura itu sungguh melukai dan mencabik-cabik profesi guru. Mereka bekerja bukan sekedar mencari sesuap nasi, tapi mendidik anak-anak bangsa. Di seluruh dunia, tak ada bangsa yang menafikan peran guru. Yang jadi bupati, jadi gubernur, jadi tentara, jadi dokter, presiden bahkan tukang becak sekalipun, tak pernah lepas dari peran guru.
Tapi kenapa, di era gombalisasi ini, guru demikian sering dikriminalisasi orangtua murid, bahkan kini harus kehilangan nyawa pula? Ketika murid –yang kini disebut peserta didik– dijewer, dicubit sampai dipukul guru, itu semua itu bagian dari pendidikan anak. Tapi orangtua sekarang mencak-mencak. Tak hanya melabrak ke sekolah, banyak juga yang mengintimidasi secara fisik, bahkan sampai ke tuntutan hukum.
Ketika pelajaran Budi Pekerti tak lagi diajarkan secara khusus di kelas, beginilah akibatnya. Murid kurang mengetahui bagaimana harus bertatakrama pada gurunya. Orangtuanya, karena dulu juga tak memperoleh pelajaran Budi Pekerti, bawaannya marah saja begitu dapat laporan anak-anaknya dihukum Pak Guru.
Murid-murid, eh peserta didik, yang “mangan sekolahan” tahun 1970-an ke bawah, ketika dijewer atau ditempeleng guru-guru mereka, hanya diam saja. Jarang yang mau mengadu pada orangtuanya. Sebab yang didapat bukan dibela, tapi malah dimarahi atau bahkan disamblek (disabet) sendiri oleh orangtua.
Tapi anak sekarang, banyak murid eh peserta didik, yang bersikap seperti Ontosena dalam pewayangan. Berani pada orangtua, berani pula pada guru. Bahkan mantan Mensos Khofifah Indarparawansa pernah menemukan, sekarang ini ada aplikasi game yang mengajarkan bagaimana melawan guru. Dalam game judul “Pukul Guru Anda”, di situ diajarkan bagaimana melawan guru dengan piranti dalam kelas. Dalam game itu bahkan diarahkan, “Jika kamu masih stress pukul gurumu sampai meninggal.” Coba, mau jadi generasi cap apa jika begini? (Cantrik Metaram)





