TANGGAL 25 Nopember kemarin Hari Guru diperingati. Ini otomatis mengingatkan pada lagu Himne Guru, karya Sartono (1936-2015), guru musik yang putra Madiun. Lagu itu adalah rekaman dedikasi seorang guru, ketika mencerdaskan anak-anak bangsa. Siapapun mendengar lagu itu, pasti akan kembali teringat sosok Pak Guru-Bu Gurunya baik ketika di SD, SMP, maupun SMA/SMK.
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku, semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku, kata Sartono dalam penggalan lagu Himne Guru. Dalam bait lain juga disebutkan: t’rima kasihku ‘tuk pengabdianmu, engkau sebagai pelita dalam kegelapan,
engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan. Karena itu semua, guru kemudian mendapat puja-puji sebagai pahlawan tanpa tanda jasa.
Orang bijak mengatakan, guru bukanlah orang hebat, tapi karena guru banyak sosok menjadi orang hebat. Dan inilah ketulusan seorang guru, ketika anak didiknya menjadi orang, bahkan jadi orang besar, dia sangat merasa bangga. Bukan merasa kungkulan atau merasa melebihi dirinya. Dalam setiap kesempatan, dia akan cerita pada rekan dan sahabatnya. “Si Anu yang kini menjadi menteri, dulu murid saya waktu di SD.” Begitu kata Pak Guru/Bu Guru.
Jangankan anak didiknya jadi menteri dan presiden. Penulis sendiri yang hanya jadi wartawan yang pernah tugas liputan sampai Nederland dan Suriname di Amerika Selatan, guru saya di SR (1962-1964) senang betul melihat “karier” penulis. Pada murid-muridnya di SD Pak Ismadi sering menceritakan tentang diriku.
Bahkan saya ketika menjadi penulis tetap majalah bahasa Jawa Panjebar Semangat di Surabaya, mantan guruku itu rela berlangganan demi menyimak semua hasil tulisannku. Ketika tulisanku terlalu berani mengkritik pejabat dan politisi, Pak Ismadi pun mengingatkan, “Aja galak-galak tulisanmu, mengko yen ditangkep kepriye (jangan terlaklu berani nulisnya, nanti kalau ditangkap bagaimana)” kata Pak Guru.
Memang, ketika penulis ditugaskan Pos Kota meliput jejak-jejak orang Jawa Suriname Oktober 1996, begitu pesawat KLM mendarat di banda Adolf Pengel Paramaribo, ingatan penulis langsung pada guruke kelas IV sampai kelas VI di SR Margosari Kec. Ngombol Purworejo (Jateng). Soalnya Pak Ismadilah yang menerangkan negara Suriname dalam mapel Ilmu Bumi di tahun 1963. Tanpa dinyana dan diduga 33 tahun kemudian saya berhasil menapakkan kaki di bumi Suriname itu sendiri.
Banyak pengalaman gembira dan menyedihkan ketika diajar Pak Ismadi. Beberapa kali penulis kena hukuman gara-gara mbandhili (melempari) mangga orang bersama teman-teman. Pernah pula disetrap lantaran kepadapatan makan di rumah Bulik saat jam istirahat. Pernah juga dideg (dipaksa berdiri di depan kelas), karena tertangkap basah main “ketoprak bocah” menjelang ujian nasional SR.
Meskipun pernah juga ditempeleng dan dilempar kapur, saya tak pernah mengadu pada orangtua, atau menjadi dendam karennya. Sama sekali tidak! Sebab saya menyadari bahwa kerasnya pak guru pada murid-murid semata-mata demi melatih kedisiplinan pada anak didiknya. Kerenanya setiap mudik Lebaran, saya selalu menyempatkan diri sowan kepada guru SR-ku yang hingga kini masih sugeng (hidup).
Beda dengan anak-anak sekarang. Ketika kena tempeleng guru, segera mengadu pada orangtua. Orangtua sama gebleknya, dia marah dan kemudiam melabrak ke sekolah. Mending jika hanya adu otot dengan Pak Guru, banyak pula yang menyerang bahkan menganiaya Pak Guru. Gara-gara salah tafsir UU Perlindungan Anak, sudah banyak guru masuk penjara hanya karena menempeleng atau nyabet anak didik di sekolah.
“Nek aku dadi guru saiki, wis mlebu penjara aku (andaikan saya jadi guru sekarang, niscaya sudah masuk penjara),” kata Pak Ismadi ketika saya ketemu dengannya beberapa tahun lalu. Guru saya ini memang merasa miris, para guru sampai menyakiti anak didik demi pendidikan karakter, tapi oleh UU Perlindungan anak ditafsirkan sebagai penganiayaan yang membahayayakan. Untung saja banyak hakim yang berpikiran jernih, sehingga dengan alasan pendidikan karakter anak, sejumlah guru juga dibebaskan hakim dari hukuman penjara.
Guru-guru SR-ku yang lain sebagaimana Bu Sainem (kelas I), Pak Dono (kelas II), Pak Parkun (kelas III), Pak Wito-Pak Triyono (kelas IV), semuanya pernah memarahiku dan menghukumnya. Tapi mereka tetap berkesan buatku. Dari mereka semuanya ini saya memperoleh pendidikan karakter. Tak salah jika Sartono dalam Himn Guru menyebut: Engkau patriot pahlawan bangsa, pembangun insan cendekia. (Cantrik Metaram).





