
BAGI politisi dan orang-orang di lingkar kekuasaan, lowongnya suatu jabatan adalah peluang yang harus segera dimanfaatkan dan diperebutkan agar tidak keburu diisi pesaing.
Itu agaknya yang terjadi pasca tewasnya Presiden Haiti Jovenel Moise yang tewas ditembak sekelompok orang di rumah pribadinya di ibukota, Port- au-Prince (7/7) lalu.
Mantan PM Haiti, Claude Joseph yang mengundurkan diri beberapa waktu lalu dan penggantinya,  Ariel Henry yang ditunjuk oleh Presiden Moise menggantikannya selang beberapa hari sebelum ia terbunuh kini berebut kekuasaan lagi.
Joseph mengklaim masih bertanggung jawab atas negara di kawasan Laut Karibia berpenduduk sekitar 11 juta jiwa itu dan menyatakan darurat militer di tengah situasi kini yang tak menentu.
Sebaliknya, Ariel Henry yang ditunjuk sebagai  pengganti Joseph mengklaim sebagai perdana menteri resmi walau ia belum sempat dilantik secara resmi oleh Moise.
Situasi di Haiti sendiri pasca tewasnya Moise dilaporkan di ambang chaos, ditandai aksi-aksi kekerasan antargeng di tengah himpitan ekonomi termasuk akibat dampak pandemi Covid-19 di negara miskin tersebut.
Dukungan AS
Presiden AS Joe Biden sendiri melalui Jubir Kemenlu Ned Price seperti dikutip The Sun menyatakan negaranya mengakui Joseph sebagai PM Haiti yang sah dan berjanji untuk terus menjalin kerjasama.
Sementara Jubir Gedung Putih Jen Psaki mengatakan, AS mendukung pemilu yang digelar Haiti akhir tahun lalu dan menilai, Â pemilu yang umum, bebas dan adil akan memfasilitasi transisi kekuasaan secara damai bagi presiden yang baru terpilih.
“Kami terus mendukung lembaga-lembaga demokrasi Haiti,” kata Psaki kepada wartawan, amis (8/7).
Sementara itu, Kepala Kepolisian Haiti Jenderal Jorge Luis Vargas dalam jumpa pers (9/7) menyebutkan, 17 mantan anggota tentara Kolombia diduga terlibat pembunuhan Presiden Moise. Dua pelaku tewas dan 15 masih buron.
Selain tentara yang desersi antara 2018 sampai 2020 itu, dari seluruhnya 28 anggota regu pembunuh, 26 adalah warga negara Kolombia dan dua orang berkebangsaaan AS keturunan Haiti.
Di tengah proses transisi alih kekuasaan kini, agaknya Haiti sedang menghadapi hari-hari tersulit.




