
HARGA emas dunia melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah pada perdagangan Senin (12/1) didorong eskalasi ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Mengutip Bloomberg, lonjakan harga emas terjadi setelah Departemen Kehakiman AS mengancam Federal Reserve (The Fed) dengan dakwaan pidana.
Di saat bersamaan, meluasnya eskalasi aksi-aksi unjuk rasa di Iran juga ikut mendorong peningkatan  ketidakpastian global.
Harga emas batangan (bullion) naik hingga mendekati 4.600 dollar AS (sekitar Rp77,5 juta per troy ons) pada  12 Januari 2026 setelah Ketua The Fed Jerome Powell menyatakan bahwa bank sentral telah menerima surat panggilan pengadilan dari dewan juri Departemen Kehakiman terkait kesaksiannya di Kongres pada musim panas lalu soal proyek renovasi gedung Federal Reserve.
Situasi tersebut mencerminkan eskalasi konflik antara Presiden AS Donald Trump dan Jerome Powell, yang kembali menimbulkan kekhawatiran pasar atas independensi bank sentral.
Dampak gelombang demo di Iran
Di sisi lain, aksi-aksi  protes jalanan yang menyebar di 100 kota di Iran dan mematikan juga ikut menaikkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai.
Sky News melaporkan, sudah  544 orang tewas di berbagai aksi yang digelar sejak 28 Desember lalu.
Ketidakpastian muncul seiring spekulasi kemungkinan tumbangnya Republik Islam Iran, yang berpotensi mengguncang geopolitik dan pasar minyak global.
Donald Trump, Minggu mengatakan sedang mempertimbangkan berbagai opsi terkait Iran.
Sementara itu harga emas di Galeri 24 dan UBS Pegadaian 12 Januari 2026, dilaporkan stabil.
Sementara itu Presiden Trump kembali mengulangi ancaman untuk mengambil alih Greenland serta mempertanyakan nilai aliansi NATO. Pernyataan itu disampaikan lebih dari sepekan setelah AS menangkap Presiden Venezuela, Nicolas Maduro.
âIni menjadi pengingat bahwa pasar tengah menghadapi banyak ketidakpastianâmulai dari geopolitik, perdebatan pertumbuhan dan suku bunga, hingga risiko institusional yang dipicu oleh isu-isu terbaru,â ujar analis Saxo Markets di Singapura, Charu Chanana.
Harga Emas Harga emas sendiri ditutup di penghujung tahun 2025 dengan rekor tertinggi, seiring berbagai faktor pendukung yang terjadi bersamaan.
Faktor tersebut meliputi penurunan suku bunga, meningkatnya ketegangan geopolitik, serta menurunnya kepercayaan terhadap dollar AS.
Lebih dari selusin manajer investasi menyatakan memilih untuk tetap mempertahankan kepemilikan emas karena menilai daya tarik jangka panjang logam mulia tersebut masih kuat
Harga emas Antam hari ini (12/1)kembali melonjak tinggi , melajutkan kenaikan sejak akhir pekan lalu yakni naik Rp29.000 per gram menjadi 2.631.000 per gram.
Sebelumnya harga emas tertnggi sempat bertengger di level Rp2.605.000 pada 27 Des. lalu, setelah menyentuh Rp2.602.000, Sabtu (10/1)
Sementara itu, laporan pertumbuhan lapangan kerja bulan lalu berada di bawah perkiraan, sehingga memperkuat keyakinan, Bank Cntral AS (The Fed) akan terus memangkas suku bunga untuk menopang perekonomian.
Dua kali penurunan
Pasar memperkirakan setidaknya dua kali penurunan suku bunga tahun ini, setelah The Fed memangkas suku bunga sebanyak tiga kali berturut-turut pada paruh kedua tahun lalu.
Kondisi ini menguntungkan emas yang tidak memberikan imbal hasil bunga.
Pada pukul 09.08 waktu Singapura, harga emas naik 1,7 persen menjadi 4.585,39 dollar AS per ons. Indeks Bloomberg Dollar Spot turun 0,2 persen.
Harga perak melonjak 4,6 persen, setelah naik hampir 10 persen pekan lalu, dan diperdagangkan mendekati rekor tertinggi sepanjang masa,sedangkan palladium dan platinum juga mencatatkan kenaikan.
Sementara itu, Mahkamah Agung AS belum memberikan keputusan terkait tarif yang diberlakukan Trump dan menjadwalkan opini berikutnya pada Rabu (14/1).
Putusan yang menolak kebijakan tarif tersebut berpotensi menjadi kekalahan hukum terbesar Trump sejak kembali menjabat sebagai presiden.
Situasi tidak menentu sehingga perlu kecermatan untuk bertindak cermat dan mengencangkan ikat pinggang.




