LAMPUNG -Harga singkong yang sempat jatuh sampai Rp 350 per kilogram dari harga normal Rp 1.200 per kilogram, telah meningkatkan kemiskinan di wilayah Lampung.
Gubernur Lampung, M Ridho Ficardo mengatakan, tingkat kemiskinan di Lampung menjadi di bawah Provinsi Sumatra Selatan (Sumsel), setelah beberapa tahun lalu berada di atasnya. “Kami ini kejar-kejaran saja dengan provinsi tetangga (Sumsel) soal kemiskinannya,” katanya, dikutip dari Republika.
Karenanya, ia berharap Mentan dapat memberikan solusi terkait merosotnya harga singkong petani yang terjadi sejak tahun lalu. Provinsi Lampung, kata dia, menjadi sentra produksi singkong terbesar di Indonesia, sehingga bila harganya terpukul, maka akan terjadi kerugian yang besar di tingkat petani.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Lampung, Yeane Irmaningrum mengatakan, salah satu pengaruh negatif pertumbuhan ekonomi di Lampung, harga singkong yang anjlok, sehingga menimbulkan kerugian di petani sebesar Rp 3,75 triliun.
Menurut dia, ada beberapa hal yang memengaruhi pertumbuhan ekonomi di Lampung pada tahun lalu. Diantaranya, curah hujan dan gelombang laut tinggi, pemotongan anggaran dari pemerintah pusat, penyaluran kredit pembiayaan yang melambat, dan anjloknya harga singkong di tingkat petani.
Ia mengatakan, harga singkong di sentra perkebunan singkong di Lampung mengalami masa krisis. Produksi singkong petani yang melimpah tidak dibarengi dengan harga yang diinginkan. Harga singkong di tingkat petani sebelumnya Rp 1.200 per kg, jatuh hingga Rp 350 per kg.
BPS mencatat, pertumbuhan ekonomi Lampung berada di atas nasional 5,02 persen, dan berada di peringkat keempat se-Sumatra, setelah Bengkulu, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Sedangakan pertumbuhan ekonomi Sumsel dan Kepulauan Riau berada di bawah Lampung masing-masing 5,03 persen.





