Hari Ibu Lebih Ngetop

Hari Ayah meski sudah diperingati sebanyak 15 kali, tetao saja tidak populer.

HARI Ibu ke-94 kemarin baru saja diperingati, itu terjadi sejak  tahun 1929, tanpa pernah absen apapun keadaannya. Pertanyaannya, ada Hari Ibu, kok tidak ada Hari Ayah atau Hari Bapak? Ternyata, Hari Bapak juga ada lho, hanya kalah ngetop. Bila Hari Ibu sudah diperingati 94 kalinya, sedangkan Hari Ayah baru ke-15 kalinya. Tepatnya setiap tanggal 15 Nopember sejak tahun 2007.

Seperti dikutip dari Tirto. Id, asbabul nuzulnya Hari Ayah terjadi ketika tahun 2004 PPIP mengadakan peringatan Hari Ibu di Solo dengan cara mengadakan Sayembara Menulis Surat untuk Ibu. Acara ini disambut antusias oleh peserta sehingga menanyakan kapan peringatan yang sama untuk Ayah digelar.

Hingga pada 12 November, Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi menggelar deklarasi Hari Ayah untuk Indonesia dan menetapkan tanggal tersebut sebagai Peringatan Hari Ayah Nasional. Deklarasi tersebut digabung dengan hari kesehatan dengan mengambil semboyan ‘Semoga Bapak Bijak, Ayah Sehat, Papah Jaya’.

Deklarasi Hari Ayah juga dilakukan di Maumere, Flores, NTT. Dalam deklarasi itu juga diluncurkan buku ‘Kenangan untuk Ayah’ yang berisi 100 surat anak Nusantara yang diseleksi dari Sayembara Menulis Surat untuk Ayah.

Selepas deklarasi, mereka mengirimkan buku tersebut dan piagam deklarasi Hari Ayah kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) serta bupati di 4 penjuru Indonesia yakni Sabang, Merauke, Sangir Talaud dan Pulau Rote. Usai deklarasi ini, setiap tanggal 12 November ditetapkan sebagai Hari Ayah Nasional.

Mengapa Hari Ayah tidak sepopuler Hari Ibu? Pertama, kaum lelaki mayoritas tak suka ulangtahunan. Boro-boro ulang tahun lembaga, hari kelahirannya sendiri tak pernah terpikirkan. Malah dulu baru ingat ketika –bagi yang tinggal di Jakarta– Samsat Polda Metro Jaya kirim ucapan ulang tahun, ini berkaitan dengan telah habisnya STNK.

Kedua, kaum lelaki dengan kodratnya sebagai ayah, tidak butuh pengakuan dan penghargaan. Diingatkan atau tidak lewat Hari Ayah, seorang bapak akan terus bekerja untuk menafkahi keluarganya. Dia akan mendidik anak-anaknya sesuai wawasan dan  kemampuan ekonominya. Yang keluarga mapan dan otak si anak cukup briliyan dipilihkan sekolah yang bagus.

Beda dengan wanita, dalam rumahtangga ibu hanya menjadi orang kedua setelah bapak. Dalam kultur Jawa semakin jelas, istri disebutnya sebagai kanca wingking, teman untuk urusan di belakang. Kebijakan dalam sebuah keluarga yang memutuskan selalu ayah, dan ibu hanya tinggal mengikuti. Maka orang Jawa punya pepatah: suwarga nunut nraka katut. Artinya, bersama suami bahagia istri hanya ngikut saja.

Sebaliknya Hari Ibu menjadi demikian populer, selain kaum hawa kebanyakan demen ulangtahun, peringatan itu untuk mengakui bahwa meski hanya bekerja di belakang layar, tapi sesungguhnya seorang ibu adalah sosok dalam segala urusan. Dia sangat besar jasanya dalam rumahtangga, bagaimana keluarga bisa menjadi sakinah. Perhatikan saja, lelaki dalam status duda, ketika masih punya anak kecil-kecil akan pontang-panting mengurus anaknya.

Dalam hal lagu saja, sosok ibu lebih banyak dikenang dan didendangkan. Tahun 1960-an misalnya ada: Ibunda sayang (Retno), Kasih ibu (S. Warno), Mencari ibu (Ernie Johan), Oh  ibuku (Titik Sandhora), Mama (Rinto Harahap), Mama (Eddy Silitonga), dan masih banyak lagi. Kenangan untuk bapak memang ada, tetapi tidak banyak.  Hanya bagi masyarakat Jawa, sejak sebelum merdeka bahkan jaman kerajaan, satu-satunya tembang yang mengenang bapak adalah: bapak pucung….,

Tapi sesuai perkembangan jaman ditambah peran RA Kartini sebagai pendobrak kultur lama, kini banyak istri yang lebih menonjol ketimbang suami. Dalam level atas, orang lebih tahu Menkeu Sri Mulyani, sementara suaminya itu siapa sih? Begitu juga Ketua DPR Puan Maharani dan Menteri Lingkungan Hidup & Kehutanan Siti Nurbaya. Adapun Menlu Retno Marsudi bisa ditebak siapa nama suaminya, karena nama suami nempel dalam sebutan Bu Menlu dalam keseharian.

Di level menengah dan bawah, banyak sekali istri yang lebih ngetop ketimbang suami. Lebih-lebih setelah pandemi Covid-19, banyak istri yang mengambil peran sebagai pencari nafkah dalam keluarga, karena suami terkena PHK dan gagal menemukan pekerjaan baru.

Walhasil suami hanya petentang-petenteng di rumah. Tapi karena keadaan banyak istri yang ridla melakoninya. Kasarnya, peran suami tinggal jadi pejantan belaka. Duduk manis di rumah sambil mengasup menu-menu bergizi, sehingga ketika menjalankan tugas suami yang paling utama, bisa tetap rosa-rosa macam Mbah Marijan. (Cantrik Metaram)

 

Advertisement