Hari Keluarga Nasional 2025: Menguatkan Keluarga, Menjaga Kesehatan Mental Bangsa

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Ksehatan RI, dr. Imran Pambudi (Foto: Ist)

JAKARTA, KBKNews.id – Indonesia saat ini menghadapi tantangan ekonomi yang signifikan. Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) terus meningkat, dengan lebih dari 77.965 pekerja terkena PHK sepanjang tahun 2024, dan lebih dari 3.325 orang kehilangan pekerjaan hanya pada Januari 2025.

Selain itu, daya beli masyarakat melemah, tercermin dari penurunan Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 127,2 pada Januari 2025 menjadi 126,4 pada Februari 2025. Deflasi selama dua bulan berturut-turut, yaitu 0,76% pada Januari dan 0,48% pada Februari 2025, juga menunjukkan lemahnya konsumsi masyarakat.

Tekanan ekonomi ini tidak hanya berdampak pada aspek finansial, tetapi juga pada kesehatan mental masyarakat. Berdasarkan survei Asia Care Survey 2024, 56% masyarakat Indonesia mengkhawatirkan stres atau burnout sebagai masalah kesehatan mental utama, diikuti oleh gangguan tidur (42,6%) dan kecemasan (28,2%).

Selain itu, data dari Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) menunjukkan bahwa 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, termasuk depresi dan kecemasan. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tekanan ekonomi dapat memperburuk kesehatan mental, yang pada akhirnya memengaruhi ketahanan keluarga.

Di tengah tantangan ekonomi global yang memengaruhi harga kebutuhan pokok, kestabilan pekerjaan, dan daya beli masyarakat, keluarga Indonesia kembali diuji. Tekanan ini tidak hanya menghantam sektor finansial, tetapi juga merambat ke ranah yang lebih senyap—kesehatan jiwa anggota keluarga. Masalah finansial menjadi salah satu pemicu utama gangguan kesehatan mental.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Populix, 59% masyarakat Indonesia melaporkan bahwa tekanan finansial adalah faktor terbesar yang memicu gangguan kesehatan mental. Tekanan ini muncul karena ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan, yang menyebabkan kecemasan, rasa takut, dan bahkan depresi. Selain itu, tuntutan untuk segera mendapatkan penghasilan atau melunasi utang sering kali memperburuk kondisi mental seseorang. Gejala yang sering muncul akibat tekanan finansial meliputi:

  1. Perubahan suasana hati yang cepat (mood swing), seperti mudah marah atau merasa sedih tanpa alasan jelas.
  2. Gangguan tidur atau perubahan pola makan.
  3. Kecemasan berlebihan terhadap masa depan finansial.
  4. Penarikan diri dari lingkungan sosial, karena rasa malu atau takut menghadapi tekanan eksternal.
  5. Depresi yang dapat berkembang menjadi keinginan untuk melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri dalam kasus ekstrem.

Hari Keluarga Nasional yang diperingati tanggal 29 Juni, tahun ini membawa semangat “Dari Keluarga untuk Indonesia Maju”. Sebuah pengingat bahwa kekuatan suatu bangsa terletak pada kekokohan unit terkecilnya—keluarga. Dalam ketidakpastian ekonomi, keluarga menjadi benteng pertama dan utama yang menopang individu agar tidak roboh oleh kecemasan, stres, dan keputusasaan.

Ketika angka pengangguran naik, ketika kepala keluarga harus memilih antara makan malam atau membayar listrik, maka pelukan hangat, komunikasi terbuka, dan saling pengertian dalam keluarga menjadi obat yang tak tergantikan. Di sinilah peran keluarga sebagai ruang penyangga psikologis—sebuah tempat berlindung, bukan tempat saling menyalahkan. Ketahanan keluarga adalah kemampuan keluarga untuk bertahan, beradaptasi, dan berkembang meskipun menghadapi tekanan.

Beberapa cara membangun ketahanan keluarga selama masa sulit:

  1. Membangun Kebersamaan

  • Gunakan waktu bersama untuk memperkuat hubungan antar anggota keluarga, seperti makan malam bersama, bermain permainan keluarga, atau berbicara sebelum tidur. Hal ini membantu mengurangi stres individu sekaligus menciptakan dukungan emosional bersama.
  1. Menanamkan Nilai Ketangguhan pada Anak

  • Libatkan anak-anak dalam memahami pentingnya mengelola keuangan dan bekerja sama sebagai keluarga. Ajarkan mereka untuk menghargai hal-hal sederhana yang tidak melibatkan pengeluaran besar, seperti bermain di rumah atau membuat kegiatan kreatif.
  1. Adaptasi dan Fleksibilitas

  • Bersedia untuk mengubah pola hidup atau gaya hidup demi menjaga stabilitas keuangan keluarga. Ini bisa termasuk mengurangi pengeluaran untuk hiburan atau menyesuaikan anggaran makan. Adaptasi juga berarti menerima perubahan peran dalam keluarga, seperti pasangan yang sebelumnya tidak bekerja mungkin mulai berkontribusi mencari pendapatan tambahan.
  1. Pencarian Bantuan Profesional

  • Jika tekanan finansial menyebabkan stres yang ekstrem atau konflik keluarga yang signifikan, jangan ragu mencari bantuan dari psikolog atau konselor keluarga. Bantuan ini dapat membantu keluarga belajar cara menyelesaikan konflik dengan sehat.

Tekanan finansial dapat memicu stres, kecemasan, dan konflik dalam keluarga.

Oleh karena itu, penting untuk mengelola stres dengan pendekatan yang terfokus pada:

  1. Komunikasi Terbuka dalam Keluarga

  • Diskusikan situasi keuangan secara jujur dengan anggota keluarga, termasuk tantangan yang dihadapi dan langkah-langkah yang dapat diambil bersama. Libatkan semua anggota keluarga dalam perencanaan keuangan agar tercipta rasa tanggung jawab dan solidaritas.
  1. Pengelolaan Emosi dan Kesehatan Mental

  • Tetapkan waktu untuk berbicara tentang perasaan dan kekhawatiran, baik dengan pasangan, anak-anak, atau keluarga besar.
  • Lakukan aktivitas yang dapat meredakan ketegangan, seperti olahraga bersama, bermain dengan anak-anak, atau sekadar berjalan-jalan di sekitar lingkungan.
  1. Menjaga Pola Hidup Sehat

  • Jangan abaikan kebutuhan dasar seperti makan bergizi dan tidur yang cukup meskipun tekanan ekonomi dirasakan. Kesehatan fisik yang terjaga membantu meningkatkan daya tahan terhadap stres.
  1. Memperkuat Dukungan Sosial

  • Manfaatkan jaringan keluarga besar dan komunitas sebagai sumber dukungan emosional atau bahkan dukungan finansial sementara jika diperlukan.
  • Bergabung dengan kelompok atau komunitas berbasis agama atau sosial yang dapat memberikan rasa aman dan solidaritas.
  1. Fokus pada Solusi, Bukan Masalah

  • Alihkan fokus dari permasalahan ke langkah-langkah praktis yang dapat dilakukan, seperti mencari sumber pendapatan baru atau menyusun anggaran keluarga yang lebih efisien.
  • Hindari menyalahkan anggota keluarga atas masalah finansial yang dihadapi, karena ini hanya akan memperburuk konflik.

Komunikasi dan perubahan mindset keluarga saja tidak cukup dalam menghadapi tekanan ekonomi yang terjadi saat ini, perlu adanya strategi keuangan yang mendukung ketahanan keluarga yang dilakukan dengan cara:

  1. Menyusun Anggaran Bersama dengan memprioritaskan kebutuhan pokok, seperti makanan, tempat tinggal, dan pendidikan anak. Selain itu, keluarga dilibatkan dalam perencanaan anggaran sehingga semua orang memahami keterbatasan keuangan saat ini.
  2. Menggunakan Dana Darurat dengan Bijak , pastikan dana darurat digunakan untuk hal yang benar-benar penting dan mendesak. Jika dana darurat belum tersedia, mulai sisihkan sebagian kecil penghasilan untuk membentuknya.
  3. Memanfaatkan Bantuan Pemerintah dengan cara mencari informasi tentang program bantuan sosial atau pelatihan kerja dari pemerintah yang dapat membantu mengurangi beban ekonomi keluarga.
  4. Mendapatkan Sumber Penghasilan Tambahan dengan Memanfaatkan keterampilan yang dimiliki untuk pekerjaan paruh waktu atau bisnis kecil yang dapat dilakukan dari rumah, seperti menjual makanan atau barang kebutuhan sehari-hari.

 

Di tengah badai ekonomi yang mengguncang, keluarga menjadi benteng terakhir harapan. Namun, bukan hanya kekuatan finansial yang menentukan daya tahan keluarga, melainkan juga kualitas hubungan di dalamnya. Di sinilah pengasuhan positif memainkan peran kunci sebagai fondasi ketahanan keluarga.

Pengasuhan positif—yang menekankan pengelolaan stress, komunikasi efektif, pengelolaan emosi, bersikap baik, pembagian peran orang tua dan disiplin positif—adalah strategi jangka panjang yang menguatkan ikatan emosional antar anggota keluarga. Ketika orang tua hadir secara empatik dan responsif, anak-anak tumbuh dengan rasa aman, resiliensi, dan kepercayaan diri. Nilai-nilai ini tak hanya penting untuk pertumbuhan anak, tetapi juga menjadi modal sosial keluarga dalam menghadapi tekanan eksternal, seperti kehilangan pekerjaan, naiknya harga kebutuhan pokok, atau ketidakpastian masa depan.

Di saat pemasukan menurun dan kecemasan meningkat, keluarga yang dibesarkan dengan pendekatan pengasuhan positif cenderung lebih mampu mengelola stres bersama. Anak-anak diajak terlibat dalam percakapan terbuka mengenai kondisi keluarga, belajar memahami prioritas, serta diajarkan untuk menghargai kesederhanaan dan solidaritas. Dalam rumah seperti ini, krisis tidak menjadi pemecah, melainkan pemersatu.

Lebih dari itu, pengasuhan positif menumbuhkan kemampuan adaptif keluarga. Orang tua tidak hanya menjadi penyedia, tapi juga menjadi pelatih kehidupan—membimbing anak-anak untuk berpikir kreatif, berempati, dan menemukan solusi bersama. Keluarga seperti ini menjelma menjadi ruang pembelajaran sosial, tempat nilai gotong royong tumbuh, dan ketangguhan emosional dipupuk dari hari ke hari.

Maka, dalam menghadapi krisis ekonomi, investasi terbaik bukan hanya pada tabungan atau aset, tetapi pada relasi dan pola asuh. Karena ketika semua hal di luar tidak menentu, rumah yang hangat dan penuh cinta—dibangun lewat pengasuhan positif—akan selalu menjadi tempat paling kokoh untuk bertahan dan bangkit.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here