Hassan, Selamat dari Serangan Teroris karena Tertimpuk Jenazah

Abdi Sheikh Hassan, 28, Selamat dari serangan teroris di Selandia Baru, karena tertimpuk mayat. Foto: Al Jazeera

CHRISTCHURCH – Sekitar Pukul 14.00 waktu Selandia Baru, Jumat, (15/3/2019), setelah penembakan brutal oleh teroris di Masjid Linwood, Christchurch, Abdi Sheikh Hassan menemukan dirinya berada di bawah tumpukan jenazah korban lainnya.

Hassan mengatakan dia berada di dekat mihrab masjid, di belakang imam, ketika teroris asal Australia dengan senjata otomatis menyerang dan melepaskan tembakan membabi buta ke jamaah yang sedang shalat Jumat.

Mereka yang tertembak dari belakang terjatuh ke bagian depan dan menimpuk jamaah yang di shaf depan itu. Beberapa dari mereka tidak bangkit membiarkan badannya tertimpuk tubuh saudaranya. Salashsatunya Abdi Sheikh Hassan.

“Ada darah di mana-mana,” kenang Hassan.

Setelah suasana tenang, sambil gemetar ketakutan meskipun ia tidak terluka, pria berusia 28 tahun itu berdiri untuk melihat akibat dari pembantaian itu. Temannya, yang berbaring di sebelahnya, ditembak di bagian kepala.

Hassan kemudian sadar bahwa komunitas Muslim Christchurch yang kecil itu telah menjadi sasaran penembakan massal paling mematikan dalam sejarah Selandia Baru.

Sebelum menyerang di Masjid Linwood, pria bersenjata itu telah membunuh lebih dari 40 jemaah di Masjid Al Noor, sekitar tujuh kilometer jauhnya dari Linwood. Secara keseluruhan, setidaknya 50 orang terbunuh, dan lusinan lainnya terluka.

Jacinda Ardern, perdana menteri Selandia Baru, menyebut pembantaian itu sebagai “serangan teroris” yang direncanakan dengan baik.

Seorang pria Australia berusia 28 tahun, yang diidentifikasi sebagai Brenton Harrison Tarrant, telah didakwa dengan satu tuduhan pembunuhan sejauh ini, dengan banyak tuduhan lainnya yang akan dituntutkan terhadapnya.

Hasan menceritakan, salah satu dari mereka yang diduga terbunuh dalam pembantaian itu adalah anak-anak, Mucaad Ibrahim yang berusia tiga tahun. Hassan kenal baik dengan keluarga itu.

Ayah Mucaad lahir di Somalia, Adan Ibrahim, Hassan bersama Mucaad juga komunitas yang melarikan diri dari kekerasan dan ketidakstabilan di Somalia delapan tahun lalu. Mereka ke Selandia Baru mencari tempat yang tenang dan damai.

“Keamanan buruk di kampung kami dan kami tidak pernah terpikir akan mengalami hal yang lebih buruk terjadi di sini,” kata Hassan.

“Tapi kita, sebagai Muslim, percaya apa pun yang terjadi, baik atau buruk, adalah ujian dari Allah Swt, yang akan melihat kita apakah kita masih mengikuti aturan Nabi Muhammad,” tambahnya.

Sekitar 50.000 Muslim menyebut Selandia Baru sudah menjadi rumah mereka. Mereka termasuk minoritas dari populasi di Selandia Baru yang hampir mencapai lima juta penduduk. Komunitas muslim di Selandia baru berasal dari India, Indonesia, Pakistan dan Palestina, dan muslim yang berasal dari Pasifik serta negara dari belahan dunia lainnya.

Di Christchurch, sebuah kota dengan hampir 400.000 orang, jumlah Muslim tidak lebih dari beberapa ribu orang, dan tragedi ‘Jumat Berdarah’ itu telah mempengaruhi hampir setiap rumah tangga Muslim di kota itu.

“Kami saling kenal, di komunitas Muslim, dengan sangat baik,” kata Hassan. “Kami menghabiskan waktu lama beribadah bersama dan sekarang kami sibuk mengatur bagaimana cara mengubur semua mayat,” terang Hassan.

Meskipun sudah mengalami hal buruk, Hassan tidak punya rencana untuk meninggalkan Christchurch. Setelah berpendidikan sebagai insinyur dan membangun kehidupan di Selandia Baru, ia bertekad untuk terus hidup dan bekerja di tempat yang sekarang ia sebut sebagai rumahnya.

Ia juga berharap masjid Al Noor dan Linwood yang ditutup setelah kejadian, segera dibuka kembali.

“Saya masih percaya, Selandia Baru adalah tempat yang aman dan Selandia Baru adalah negara terbaik bagi kami,” katanya.

“Di mana saja, Anda dapat menemukan orang baik dan jahat, tetapi sebagian besar orang di sini, Alhamdullilah [terima kasih kepada Tuhan], adalah orang baik dan menjaga kami.”

“Apa yang telah diberikan Allah kepada kita, kita senang,” kata Hassan seperti dikutip KBKNews dari Al Jazeera.

Advertisement