Hoaks Nyamuk Wolbachia Sebabkan Penyakit Kaki Gajah

Ilustrasi nyamuk

JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan akan memulai inovasi untuk mengurangi penyebaran Demam Berdarah Dengue (DBD) dengan menggunakan nyamuk Wolbachia.

Sebagai langkah awal, nyamuk Wolbachia ini akan diperkenalkan di lima kota, yaitu Jakarta Barat (DKI Jakarta), Bandung (Jawa Barat), Semarang (Jawa Tengah), Bontang (Kalimantan Timur), dan Kupang (Nusa Tenggara Timur).

Namun, ada postingan di Facebook yang menyebutkan bahwa nyamuk Wolbachia memiliki potensi untuk meningkatkan serangan kaki gajah dan mikro hidrosefalus.

Berikut narasi dalam unggahan tersebut:

“Menurut prof richard bahwa nyamuk wolbachia punya potensi membuat peningkatan serangan KAKI GAJAH dan mikro hidrosephalus….

Karena nyamuknya sudah terlanjur disebar, kita mesti pantau terus ke depan, apakah serangan kaki gajah dan mikro hidrosepalus meningkat??….

Kalau iya, menkes dan pemerintah mesti bertanggung jawab…. Siapa yang punya ide menjadikan masyarakat kelinci percobaan…. harus bertanggung jawab..”

Benarkah nyamuk Wolbachia berpotensi tularkan penyakit kaki gajah pada manusia?

Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta memastikan gigitan nyamuk Aedes Aegypti dengan kandungan bakteri Wolbachia tidak berbahaya bagi manusia dan ramah lingkungan. Hasil penelitian juga memperlihatkan bakteri wolbachia ini juga aman bagi serangga lainnnya.

“Tidak ada efek berbahaya bagi manusia. Nyamuk aedes aegypti dengan wolbachia ini aman untuk manusia dan ramah lingkungan,” kata Kepala Seksi Surveilans Epidemiologi dan Imunisasi Dinas Kesehatan DKI Jakarta, dilansir dari Antara.

Peneliti dari Departemen Kebijakan dan Manajemen Kesehatan Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan Universitas Gadjah Mada Prof. DR. Adi Utarini, M.Sc, MPH, PhD, menuturkan teknologi itu tidak terkait dengan kejadian filariasis atau penyakit kaki gajah.

“Wolbachia yang ada pada cacing yang menyebabkan filariasis itu berbeda jenisnya dengan Wolbachia pada nyamuk Aedes aegypti. Jadi Wolbachia ini bukan hanya satu jenis, tetapi ada ribuan jenis,” tuturnya.

Advertisement