
AKSI-aksi demo anti pemerintah yang melumpuhkan pusat bisnis dan keuangan dan tutupnya pusat perkantoran akibat gangguan jaringan transportasi publik, menempatkan Hong Kong dalam situasi berbahaya.
Sekitar seribu pendemo dengan masker penutup wajah dan menggembol batu menutup jalanan di jantung distrik bisnis dan pusat pertokoan merk-merk kesohor di Hong Kong saat jam makan, Rabu (13/11).
Aksi massa menyusul terjadinya kerusuhan sehari sebelumnya, (Selasa, 12/11), karena massa marah atas intervensi dan kekerasan yang dilakukan polisi, sebaliknya penguasa China membantahnya dan balik menuding, AS dan Inggeris lah yang memicu persoalan di Hong Kong.
Sementara itu, para pengunjuk rasa di sejumlah kampus di Hong Kong sampai Rabu lalu juga masih bersitegang dengan aparat kepolisian dan mereka membangun barikade dan menjaga kampus dari penyusupan orang tak dikenal.
Sejumlah perguruan tinggi dan sekolah khususnya TK diliburkan, diganti pembelajaran online akibat kecemasan atas kemungkinan eskalasi kerusuhan seperti terjadi di kampus Universitas China di Hong Kong, Selasa malam.
Dalam kerusuhan itu, terdengar suara-suara ledakan, ada kepulan asap, teriakan dan tembakan gas air mata dan dilaporkan sejumlah pendemo terluka.
Polisi menuding ada mahasiswa yang membantu rekan-rekan meeka asal China daratan yang melarikan diri dari Universitas China dengan kapal karena mereka khawatir atas keselamatan mereka.
Di tempat lain di Hong Kong, para aktivis masih memblokade jalanan, membakar sejumlah mobil, menyerang pos kepolisian dengan bom Molotov dan sejumlah pusat perbelanjaan.
Sebanyak 142 pendemo ditangkap sejak Selasa lalu, menambah sekitar 4.000 pendemo yang ditangkap sebelumnya, sementara Otoritas RS Hong Kong menyatakan, 81 orang terluka dan dirawat di RS, Senin lalu termasuk dua korban kritis.
“Kekerasan oleh perusuh sudah mencapai titik paling berbahaya dan bahkan mematikan,” kata petugas kepolisian Tse Chun-chung seperti dikutip Reuters.
Dia mengatakan, beberapa kampus telah digunakan sebagai tempat untuk memproduksi bom Molotov dan basis bagi perusuh dan pelaku kriminal. “Hong Kong merupakan wilayah tanpa hukum,” jelasnya.
Kerusuhan tersebut menyebabkan ribuan warga Hong Kong harus mengantre di stasiun metro karena layanan kereta api dibatalkan dan jalanan ditutup. Sejumlah layanan kereta, stasiun, dan bus juga tidak beroperasi karena fasilitas yang mengalami kerusakan.
Gelombang aksi unjukrasa yang sudah memasuki lima bulan bermula dari protes terhadap rencana pemberlakuan UU Ekstradisi yang memungkinkan pelaku kejahatan di Hong Kong diadili di China daratan berubah menjadi upaya menurunkan penguasa Hong Kong Carrie Lam yang dinilai pro-Beijing.
Rusuh Hong Kong agaknya sudah mendekati hari-hari terakhir, menanti batas kesabaran penguasa China daratan yang sudah menyiapkan pasukannya di provinsi tetangga untuk menyerbu wilayah administrasinya itu. (AP/AFP/Reuters/ns)




