ANAK muda sekarang sepertinya tak bisa hidup tanpa HP, padahal smartpone tersebut belum tentu beli sendiri, masih minta orangtua. HP memang bisa bikin pintar, tapi juga bisa bikin tolol sekalian. Bagaimana mungkin, hanya karena tak dibelikan HP baru oleh orangtua, lalu dengan mudahnya bunuh diri. Ada pula perkelahian antar teman sampai korban jiwa, gara-gara grup WA juga. Dan ternyata grup WA juga bisa jadi ajang pamer segala masalah.
Ini cerita remaja setelah tahun 2000 ke atas tentunya. Sebab sebelum tahun itu, HP hanya sekedar alat komunikasi, hanya bisa untuk telepon dan SMS. Tapi kini dengan HP android, serasa dunia dalam genggaman. Informasi apa saja bisa diperoleh, karena internet sudah masuk di dalamnya. Dulu gara-gara HP, wartel bangkrut. Giliran ada smartpone, warnet ikutan menyusul gulung tikar.
Data dari Kementrian Kominfo menyebutkan, jumlah HP yang beredar di Indonesia sekarang ini lebih dari 345 juta, padahal penduduk RI baru 270 juta. Bukan karena bayi-bayi merah ikut pegang HP pula, tapi karena banyak orang yang memiliki HP lebih dari satu. Ada HP untuk keluarga, HP untuk bisnis, bahkan HP untuk PIL maupun WIL juga disiapkan secara khusus. Untungnya HP tak dipajaki, sehingga tak perlu ada pajak progresif untuk HP.
Sementara kakek-neneknya masih gagap pegang HP, kini bocah usia 3 tahun sudah bisa mengoperasikan HP. Berkat nonton Youtube, balita Indonesia menjadi lebih pintar, karena sudah bisa celetukan bahasa Inggris. Jika tidak setuju bisa bilang, no, no! Saat minta tolong ngomongnya: help, help! Istilah asing juga banyak keluar dari mulut mungilnya. Masak balita sudah kenal istilah: perlu proses, misi gagal, dan intervensi.
Dari berbagai aplikasi medsos, paling populer dan paling banyak umatnya adalah grup WhatsApp yang populer disebut WA. Lewat chatting orang bisa curhat apa saja, bisa ngolok-olok dan kritik teman, pejabat dan politisi. Mau nelanjangi keburukan orang juga bisa, termasuk pamer kekayaan dan kesuksesan. Bahkan ngasong alias jualan barang pada teman-teman juga bisa.
Tapi ketika grup WA sudah dimasuki politik dan agama, bisa terjadi gesekan. Sebab tak semua anggota grup seiman, begitu pula pilihan politiknya juga tak selalu sama. Ada grup WA pagi-pagi sudah kampanye dukung Anies Capres 2024, langsung dipotong oleh anggota yang lain, “Stop! Tak semua anggota grup suka pada Anies!”
Ada pula yang pagi-pagi sudah posting ceramahnya ustadz Anu, padahal anggota grup banyak juga yang non muslim. Paling memprihatinkan, ada pula anggota grup yang suka pamer ibadahnya. Baru buka puasa sunah, posting foto saat dia berbuka. Tengah malam posting lagi, saya mau salat tahajud nih. Lain waktu pamer foto-fotonya saat umroh. Tentu saja yang beragama lain jadi jengah melihatnya.
Masalah ibadah itu urusan pribadi, jika dipamer-pamerkan kan namanya jadi riya. Jika susah menghilangkan pamer ibadahnya, pastikan bahwa semua anggota grup seiman. Seiman pun bisa ada yang Muhammadiyah, ada pula yang NU. Jika ada anggota yang Muhammadiyah kok grup WA membahas tahlilan, pasti ada yang tidak nyaman. Bisa yang tidak nyaman itu memilih diam atau keluar dari grup, bisa pula gentian menyerangnya. Kan bisa terjadi gesekan malah.
Grup WA itu tujuan utamanya untuk silaturahmi sekaligus hiburan. Karenanya isinya sekedar tukar pengalaman, nostalgianan, berbagi informasi. Jika membahas politik dan agama, sedangkan sesama anggota grup tak sehaluan, bisa bubar itu barang, paling tidak menjadi sepi, gara-gara anggota banyak yang keluar.
Main WA dalam grup memang harus dewasa, jangan ikut-ikutan jadi sumbu pendek, mudah tersulut emosi. Di kalangan anak muda, khususnya ABG, banyak kejadian lucu tapi panas gara-gara WA. Seperti di Pasuruan misalnya, pelajar SMP di Prigen dikeroyok sejumlah temannya hanya gara-gara tidak aktif dalam grup WA mereka.
Lalu di Bogor beberapa hari lalu, gara-gara saling serang di medsos, sejumlah remaja cari musuh sambil membawa parang. Kasihan nasib AS pelajar SMK Bina Warga. Saat menyeberang di simpang Pomad, tahu-tahu dibacok lehernya oleh sekelompok ABG yang sedang cari musuh tersebut. Para pelakunya berhasil ditangkap di antaranya ngumpet di Serang Banten. Seseorang yang berusaha menyembunyikan tersangka, ikut pula terseret.
Begitulah dampak HP canggih. Di satu sisi bisa mempercepat sampainya informasi, tapi di sisi lain bisa mempercepat pula kembali ke alam baka. Gara-gara HP canggih pula, dunia heboh dan panas terus tiada henti. (Cantrik Metaram)





