NEW YORK – Human Rights Watch mengatakan pada Kamis (14/9/2017) bahwa lebih dari 500.000 anak pengungsi Suriah di tiga negara yakni Lebanon, Yordania, dan Turki telah keluar dari sekolah tahun lalu, dan sebagian disebabkan karena kekurangan dana.
Setidaknya ada 1,6 juta pengungsi anak-anak Suriah di wilayah tersebut.
Di Lebanon, kelas untuk anak-anak pengungsi Syria ditutup, dan siswa-siswi bersekolah secara “shift” hanya setengah hari.
Human Rights Watch mengatakan bahwa bantuan terlambat atau hilang telah menambah masalah tersebut.
Badan bantuan pemerintah AS USAID, misalnya, melaporkan telah memberikan bantuan sekolah sebesar $ 248 juta ke Yordania tahun lalu, namun pemerintah Yordania hanya melaporkan menerima $ 13 juta.
Database USAID yang terpisah hanya melacak pencairan $ 82 juta tahun itu.
Lembaga bantuan di Lebanon mencoba untuk mengisi defisit anggaran 25 juta dollar untuk mendapatkan siswa kembali di sekolah tahun ini, Abou Khaled mengatakan.
Human Rights Watch mengatakan bahwa negara-negara donor mangkir dari janji mereka untuk memberikan 250 juta dollar untuk sekolah di Lebanon pada tahun 2016.
Enam donor terbesar adalah Uni Eropa, Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Jepang, dan Norwegia.
Peneliti Human Rights Watch Simon Rau dan salah satu penulis laporan tersebut mengatakan bahwa diperlukan transparansi untuk mengidentifikasi kesenjangan pendanaan.
“Donor dan negara tuan rumah telah berjanji bahwa anak-anak Suriah tidak akan menjadi generasi yang hilang,” kata Rau. “Tapi inilah yang terjadi.” ucapnya, dilansir Al Jazeera.





