
Jakarta, KBKNews.id – Di tengah ketegangan yang menyelimuti salah satu jalur urat nadi perdagangan dunia, Malaysia mendapatkan angin segar dari Teheran. Pemerintah Iran secara resmi memberikan lampu hijau bagi kapal-kapal tanker asal Negeri Jiran untuk melintasi Selat Hormuz tanpa dikenakan biaya sepeser pun.
Kepastian ini menjadi bukti nyata dari keberhasilan diplomasi pragmatis yang dijalankan Malaysia di kawasan Timur Tengah, terutama dalam menjaga hubungan baik dengan Republik Islam Iran.
Persahabatan yang Membuahkan Hasil
Menteri Transportasi Malaysia, Anthony Loke, mengungkapkan kebijakan bebas tarif ini disampaikan langsung oleh pihak Teheran melalui perwakilan diplomatik mereka. Keistimewaan ini diberikan sebagai bentuk penghormatan atas hubungan bilateral yang solid di antara kedua negara.
“Duta Besar Iran telah menyatakan tidak ada bea masuk yang dikenakan kepada kapal-kapal Malaysia. Kita adalah pihak yang bersahabat, kita menjalin hubungan diplomatik yang baik dengan pemerintah Iran,” tegas Loke dalam sebuah acara resmi, Selasa (31/3/2026).
Sebelumnya, tujuh kapal tanker milik raksasa energi Malaysia, termasuk armada dari Petroliam Nasional Bhd. (Petronas), MISC Bhd., dan Sapura Energy Bhd., sempat tertahan di kawasan tersebut. Namun, terhitung sejak Sabtu (28/3/2026), seluruh kapal tersebut telah diizinkan melanjutkan pelayaran.
Dinamika RUU Selat Hormuz: Larangan Bagi AS dan Israel
Langkah Iran membebaskan tarif bagi Malaysia dilakukan bersamaan dengan penguatan kendali mereka di Selat Hormuz. Komite Keamanan Nasional Iran baru-baru ini menyetujui rancangan undang-undang (RUU) yang akan mempertegas kedaulatan mereka di jalur perairan strategis tersebut.
Jika aturan ini disahkan menjadi undang-undang, Iran akan memberlakukan tarif dalam mata uang Rial bagi kapal asing. Namun, aturan tersebut secara spesifik melarang keras kapal-kapal berbendera Amerika Serikat dan Israel untuk melintas. Selain itu, RUU ini menjadi tameng hukum bagi Teheran untuk menolak segala bentuk sanksi sepihak yang dijatuhkan negara luar terhadap mereka.
Guna memperkuat kerangka hukum internasional dari kebijakan ini, Iran dikabarkan menggandeng Oman dalam penyusunan prosedur teknis di lapangan.
Diplomasi Cerdik di Bawah Kepemimpinan Anwar Ibrahim
Keberhasilan Malaysia meloloskan armadanya tanpa hambatan tidak lepas dari posisi politik luar negeri Perdana Menteri Anwar Ibrahim. Ia dikenal konsisten mengakui hak kedaulatan Iran, namun tetap mendorong adanya resolusi damai di kawasan Timur Tengah.
Dalam pidatonya belum lama ini, Anwar menyampaikan apresiasi mendalam kepada pemerintah Iran atas kemudahan logistik yang diberikan kepada perusahaan-perusahaan Malaysia.
“Terima kasih kepada pemerintah Iran yang telah memfasilitasi jalur pelayaran bagi kapal-kapal Malaysia di Selat Hormuz,” ujar PM Anwar Ibrahim pada Kamis (26/3/2026) lalu.
Kebijakan ini memberikan napas lega bagi industri energi dan pelayaran Malaysia, mengingat Selat Hormuz merupakan jalur krusial bagi distribusi minyak dan gas global. Di saat banyak negara harus menghadapi risiko tinggi dan potensi biaya tambahan di wilayah tersebut, Malaysia justru mengamankan jalur hijaunya melalui kekuatan negosiasi dan persahabatan diplomatik.




