
TIGA lokasi di Pulau Kalimantan sudah ditetapkan sebagai calon ibu kota RI yang baru, menggantikan Jakarta yang sudah sarat beban dan lilitan berbagai persoalan.
Dalam rapat kabinet, Selasa pekan lalu (6/8), demi mencegah aksi spekulan tanah, Presiden Jokowi tidak mengumumkan secara spesifik rencana kedudukan ibu kota yang baru, kecuali menyebutkan tiga provinsi pilihan yakni Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Pemindahan ibukota negara bukanlah hal yang aneh, karena paling tidak ada sembilan negara yang melakukannya, baik dengan alasan politis, geostrategis, beban daya dukung lahan atau lokasi yang lebih aman dari ancaman bencana atau faktor lainnya.
Ibu kota Myanmar misalnya dipindahkan dari Yangon yang dinilai sudah terlalu padat ke Napydaw yang dibangun khusus, (2005), sedangkan ibukota Kazakhstan dipindahkan dari Almaty ke Astana (1997) yang kemudian disulap menjadi kota modern di Asia Tengah dan kemudian berganti nama lagi Maret 2019 menjadi Nursultan, untuk menghormati jasa-jasa mantan Presiden Nursultan Nazarbayev.
Pemindahan ibukota Nigeria dari ke Abuja (1991) juga cukup unik, yakni lokasi yang tidak identik dengan tiga suku terbesar di negara itu, sementara ibukota Brazil dipindahkan dari Rio de Janeiro ke Brazilia dengan alasan keamanan.
Negara yang juga memindahkan ibukotanya yakni Pakistan dari Karachi ke Islamabad (1967) Filipina dari Quezon City ke Manila (1948), Australia dari Melbourne ke Canberra (1927), India dari Calcutta ke New Delhi (1911), dan Malaysia dari Kuala Lumpur ke Putrajaya (2002).
Terus kenapa ibukota RI akan dipindahkan? Selain persoalan daya dukung lahan yang terbatas, tata ruang juga terlanjur tumbuh rada liar sehingga memicu segudang persoalan, mulai dari sampah, pedagang K-5, kemacetan lalu-lintas, buruknya kualitas air dan udara.
Walau pun perlu dana besar (diperkirakan Rp466 triliun), pemindahan ibukota dipilih untuk mengakhiri kompleksitas penataan ibukota secara menyeluruh.
Aman dari gempa dan Ancaman Luar
Selain ketersediaan lahan dan seluruh daya dukungnya, salah satu lokasi di Kalimantan akan dipilih, karena secara geografis ada di pusat negeri, tidak berada di lintasan gempa dan juga relatif aman dari potensi ancaman musuh.
Namun di sisi lain, walau lokasi persisnya belum dipastikan, para sepekulan tanah di ketiga wilayah tersebut tetap saja beraksi, sehingga melambungkan harga lahan beberapa kali lipat dari sebelumnya.
Penulis sih membayangkan, ibukota baru nanti adalah tempat yang aman dan nyaman dihuni, baik bagi penduduk pribumi, warga, pekerja, pengusaha dan staf kantor perwakilan asing.
Kota dimana orang yang sakit atau mengalami kesulitan atau musibah segera mendapat pertolongan, yang warganya bersahabat, santun, beretika dan toleran, bebas dari SARA dan aman bagi orang yang sekedar mencari angin segar di tengah malam.
Alangkah nyamannya, jika Ibukota baru nanti dilintasi sungai-sungai dialiri kebeningan air, rindangnya pepohonan termasuk aneka tanaman buah-buahan tropis yang menghiasi taman-taman kota atau di sepanjang sisi jalan.
Jika di ibukota baru nanti, sebagai etalase Indonesia, orang bisa menyaksikan ragam bangunan dengan gaya arsitektur, menikmati kuliner dan menyaksikan seni-budaya dari seluruh nusantara.
Tidak mudah memang, berbagai aspek harus diwacanakan dan dirancang secara komprehensif, dan jika bisa diwujudkan, harus terus diawasi secara konsisten.




