Idul Adha:  Momen Pengorbanan dan Introspeksi

Mari kita gelorakan semangat introspeksi dan pengorbanan di tengah helat Idul Adha 2443 H.

IDUL Adha 1443 H kali ini sangat bermakna bagi umat Islam sedunia dan juga di Indonesia karena masih di tengah pandemi Covid-19 dan perang Rusia – Ukraina dengan berbagai dampaknya secara global.

Khusus bagi umat Islam, semangat pengorbanan yang diteladankan oleh Nabi Ibrahim dan puteranya, Nabi Ismail di era now, harus diejawantahkan melalui laku,  keseharian, mau pun di panggung politik, berbangsa dan bernegara,

Covid-19 yang bermula terdeteksi di kota Wuhan, China medio Desember 2019 sampai 9 Juli ’22 telah menewaskan 6,35 juta orang dan memapar 555 juta warga dunia dan di indonesia sendiri menewaskan 156.635 orang dan memapar 6.058.736 orang.

Banyak dinamika yang terjadi di tengah pandemi, mulai dari kisah-kisah culas,  tidak peduli, sampai yang inspiratif, keteladanan dan kesetiakawanan serta filantrophis. Sampai hari ini Covid-19 masih ada, perlu pengorbanan, kerja keras dan kebersamaan menghadapinya.

Perang Rusia dan Ukraina juga menciptakan ketidakpastian global akibat terganggunya rantai pasokan pangan, kelangkaan dan melambungnya harga migas yang digunakan untuk tawar-menawar antara pihak yang bertikai dan negara-negara yang terlibat.

Negara-negara Uni Eropa yang sebagian tergantung migas dari Rusia mengalami kesulitan akibat pemotongan pasokan oleh Rusia sebagai balasan sanksi ekonomi dan penguncilan yang mereka (AS dan Barat terutama UE) lakukan terhadap Rusia.

Imbasnya kemana-mana, termasuk Indonesia, yang saat ini sudah merasakan lonjakan harga-harga kebutuhan pokok masyarakat, padahal kegiatan usaha baru mulai menggeliat lagi setelah tren penyebaran Covid-19 mulai melandai.

Berkaca Diri

Khususnya di Indonesia, dalam menyongsong Pemilu serentak dan Pilpres 2024, diharapkan para   politisi tidak lagi menggunakan politik identitas seperti pada Pilpres 2014 dan 2019 serta Pilkada DKI Jakarta 2017.

Semangat persatuan harus dikedepankan, tidak menghalalkan segala cara termasuk mengapitalisasi agama sehingga berujung perpecahan atau polarisasi di tengah masyarakat yang pada gilirannya membawa negara ke tubir jurang dissintegrasi.

Menghadapi kemungkinan ancaman krisis pangan yang sudah di hadapan mata, hendaknya para penentu kebijakan dan pemimpin negara dan bangsa memfokuskan diri untuk bekerja ekstra keras serta amanah.

Selain itu, umat muslim di Indonesia selayaknya bersatu padu melawan segala bentuk kecurangan dan perilaku menyimpang seperti kasus Aksi Cepat Tanggap (ACT) yang mengeruk keuntungan pribadi atau kelompok atas nama aksi kemanusiaan dan agama.

Dugaan kasus perkosaan dan kekerasan seks di ranah pendidikan keagamaan seperti terjadi di Pondok Pesantren Siddiqqiyah, Jombang, Pesantren Madani, Cibiru, Bandung, Pesantren Depok dan mungkin di tempat lain, juga sangat menodai citra Islam.

Tragedi kemanusiaan terjadi dalam kasus Pesantren Siddiqiyah dimana pengelolanya sengaja menutup-nutupi kasus yang dilakukan puteranya terhadap sejumlah santriwati sejak bertahun-tahun.

Lebih dari itu, pengasuh pesantren juga menunjukkan arogansi dan pembangkangan dengan memobilisasi santri dan pihak lain untuk menolak menyerahkan puteranya mengikuti proses hukum.

Semoga Idul Adha 1443 H dijadikan pintu masuk kebangkitan umat Islam melalui introspeksi dan tekad bersama untuk tidak mengulangi kesalahan dan keleiruan di masa lalu dan berbuat lebih baik lagi.

Gelorakan semangat pengorbanan dari helat Idul Adha!

 

 

 

 

 

Advertisement