
INDEKS Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok lebih dari empat persen dalam sekitar 1,5 jam perdagangan Senin (18/5), mendekati ambang penghentian sementara perdagangan (trading halt).
Berdasarkan data Bursa Effek Indonesia (BEI) seperti ditulis Kompas.com (18/5), hingga pukul 10.54 WIB, IHSG berada di level 6.434,28 atau turun 289,04 poin setara 4,30 persen.
IHSG dibuka di level 6.628,98 dan sempat menyentuh level tertinggi 6.631,28. Sementara level terendah indeks tercatat di posisi 6.425,95.
Tekanan jual di pasar saham terpantau semakin dominan sejak awal perdagangan. Volume transaksi mencapai 16,18 miliar saham bernilai Rp 9,538 triliun dan frekuensi perdagangan 1,405 juta kali transaksi.
Sebanyak 68 saham menguat, 720 saham melemah, dan sisanya stagnan. Seluruh sektor saham bergerak di zona merah, sementara pelemahan terdalam terjadi pada sektor material dasar yang terjun bebas hingga sekitar 9 persen.
Selain itu, sektor energi, industri, consumer primer, keuangan, infrastruktur, dan transportasi juga tercatat melemah lebih dari empat persen.
Mayoritas indeks saham utama turut terkoreksi. Indeks LQ45 turun 3,39 persen ke level 635,59, sedangkan indeks KOMPAS100 melemah 4,40 persen ke posisi 853,95.
Pelemahan juga terjadi pada indeks syariah seperti JII dan ISSI. Mendekati trading halt akibat penurunan tajam IHSG, membuat pasar mulai menyoroti potensi penerapan trading halt oleh BEI.
Trading halt merupakan kebijakan penghentian sementara perdagangan saham ketika IHSG turun hingga batas tertentu dalam satu hari perdagangan.
Kebijakan ini diterapkan untuk menjaga stabilitas pasar, melindungi investor, serta memastikan seluruh pelaku pasar memiliki akses informasi yang adil di tengah volatilitas tinggi.
Selama periode trading halt berlangsung, seluruh aktivitas perdagangan saham dihentikan sementara sehingga investor tidak dapat melakukan transaksi jual beli.
Mengacu pada ketentuan yang berlaku, trading halt diberlakukan apabila IHSG turun lebih dari lima persen dalam satu hari perdagangan.
Saham big caps jadi penekan utama Tekanan terhadap IHSG dipicu kejatuhan sejumlah saham berkapitalisasi besar atau big caps, terutama saham-saham yang sebelumnya terdampak penyesuaian indeks global.
Beberapa saham yang mengalami tekanan antara lain PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), dan PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN).
Selain itu, tekanan juga terjadi pada saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA), PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA), PT Elang Mahkota Teknologi Tbk (EMTK), hingga PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM).
Saham-saham jumbo juga alami pelemahan
Pelemahan turut melanda saham-saham perbankan jumbo seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI).
Efek MSCI dan FTSE Russell tekan sentimen Tekanan terhadap IHSG sejak akhir pekan lalu turut dipicu keluarnya sejumlah saham Indonesia dari indeks global Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Dalam penyesuaian indeks terbaru, MSCI resmi menghapus enam saham Indonesia dari MSCI Global Standard Indexes, yakni PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN), dan PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (AMRT).
Selain itu, MSCI juga menghapus 13 saham Indonesia dari MSCI Global Small Cap Indexes. Perubahan tersebut berlaku efektif mulai 1 Juni 2026.
Sentimen negatif semakin bertambah setelah FTSE Russell memberi sinyal keras terkait saham-saham Indonesia dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC).
Dalam tinjauan indeks Juni 2026, FTSE Russell menyatakan akan menghapus saham-saham terdampak HSC dengan harga nol mulai pembukaan perdagangan 22 Juni 2026.
Langkah itu diambil untuk menjaga integritas indeks dan mengantisipasi risiko penurunan likuiditas saham yang dinilai dapat menyulitkan investor institusi keluar dari saham terkait.
FTSE Russell juga memutuskan tetap menunda re-ranking indeks secara penuh, kenaikan free float, serta penambahan emiten baru hingga setidaknya tinjauan indeks September 2026.
Kebijakan tersebut semakin menambah kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi arus keluar dana asing dari pasar saham domestik. (Kompas.com/ns)




