Ijo Royo-Royo di Jalan Raya

Setiap hari Gojek dan Grab nampak ijo royo-royo di jalan raya.

DI masa Orde Baru istilah “ijo royo-royo” hanya ada di gedung DPR Senayan. Tapi sekarang, “ijo royo-royo” nampak sehari-hari di jalanan ibukota. Jangan salah, itu bukan karena banyak pohon besar di pinggir jalan, tapi karena banyaknya pengojek online (Ojol) di jalan raya berbagai kota. Mereka berbondong-bondong mencari rejeki  sesuap nasi. Celakanya, kaum yang disebut “pahlawan transportasi” itu mulai Senin kemarin menaikkan tarifnya secara nasional. Dikhawatirkan akan berimbas dengan menurunnya penumpang.

Di jaman Orde Baru, istilah “ijo royo-royo” memang untuk menyindir Fraksi ABRI di DPR. Soalnya berjumlah sampai 100, diperoleh secara otomatis tanpa melalui Pemilu. Tak hanya di DPR, di Kemendagri jabatan lurah, camat, bupati, walikota, sampai menteri banyak yang dipegang ABRI. Namun setelah era reformasi, dwifungsi ABRI menghilang termasuk juga Fraksi ABRI, karena sejak 2004 di Senayan tak ada lagi wakil dari TNI.

Tapi belasan tahun kemudian atau belakangan ini, istilah itu gantian untuk menyindir banyakya pasukan Ojol di jalan-jalan Ibukota. Bukan saja Jakarta yang sekarang masih ibukota negara, tapi juga kota-kota yang lain. Ekspansi mereka sering bikin pusing Pemda-Pemda, karena terjadi gejolak ketika ojek pangkalan merasa tersaingi oleh ojek online.

Bagaimana nggak tersaingi, Gojek tarifnya lebih murah, bisa dipanggil ke rumah lagi. Sedangkan ojek konvensional, penumpang harus mencegat atau mencari di mana mereka mangkal. Begitu murahnya, penumpang banyak yang tega, sehingga tanpa diminta pun memberi uang tambahan. Misalkan kesepakatan Rp 20.000,- sering dibulatkan menjadi Rp 25.000,-

Hebat memang Ojol ini. Berkat kreativitas otak encer anak muda, Ojol yang namanya Gojek dan  Grab mengindonesia. Ini luar biasa. Hanya pencet aplikasi di HP, Ojol akan datang ke rumah, siap mengantarkan Anda ke mana saja. Ongkosnya sudah jelas. Meski macet di jalan, tak dibebankan pada penumpang.

Tapi mulai Senin kemarin (02/09) tarif Ojol akan naik sesuai keputusan Menhub. Baik Grab yang beroperasi di 224 kota maupun  Gojek di 221 kota, diberlakukan tarif baru, yang di masa Orde Baru dulu disebut “disesuaikan”. Ketentuan tarif untuk masing-masing zona adalah, Zona I (Sumatra, Jawa, Bali kecuali Jabodetabek): Rp 1.850-2.300 per km dengan biaya minimal Rp 7.000-10.000. Berikutnya Zona II (Jabodetabek): Rp 2.000-2.500 per km dengan biaya minimal Rp 8.000-10.000. Terakhir Zona III (Kalimantan, Sulawesi, NTT, Maluku, dan lainnya): Rp 2.100-2.600 dengan biaya minimal Rp 7.000-10.000,-

Dikhawatirkan, tarif baru akan menurunkan animo penumpang, tapi itu hanya sementara, sebab kehadiran mereka sangat dibutuhkan. Karenanya di jalan-jalan, pasukan Ojol akan terus nampak “ijo royo-royo” di sepanjang hari. Saking Gojek dan Grab sudah menasional, sampai-sampai ada orang Malaysia meledek Indonesia sebagai negara miskin, gara-gara jumlah Ojol semakin ombyokan. Sepertinya mereka mengukur kemiskinan dari banyaknya rakyat Indonesia jadi Ojol.

Menurut data BPS, jumlah orang miskin di Indionesia tinggal 9,4 persen, dari 265  juta penduduk Indonesia. Kecil memang, tapi ketika mereka pating brubul (keluar serentak) macam laron di hujan pertama, sepertinya pengojek di jalan raya menjadi kaum mayoritas.

Tapi mau bagaimana lagi, faktanya memang demikian, jumlah ojol semakin ora umum (berlebihan). Tapi asal tahu saja ya, mereka menjadi pengojek baik yang mangkal maupun online bukan pilihan, tapi karena kepepet oleh tuntutan perut. Tak ada pengojek sebagai panggilan jiwa, tak ada orang bercita-cita setelah lulus S1 mau jadi pengojek. Mereka mengesampingkan gengsi, ketimbang perut tak terisi.

Kehadiran Ojol pada pertama kali ditolak oleh Gubernur Ahok Basuki, karena bertentangan dengan UU Lalulintas dan Angkutan Jalan. Tapi pada akhirnya sang gubernur mengalah, karena masyarakat membutuhkan, sementara alat tranporstasi di Jakarta belum memadai.

Karenanya, di kala pemerintah belum memadai menyediakan alat transportasi, Presiden Jokowi sampai mengatakan, Ojol adalah pahlawan trasnportasi. Tapi meski direken pahlawan, si pengemudia jika meninggal tak mungkin dikebumiklan di TMP.

Di Jakarta yang biangnya macet, Ojol sangat menolong para pejabat tinggi negara yang terjebak kemacetan. Agar bisa menghadiri sidang kabinet, mereka naik Ojol, misalnya Walikota Surabaya Tririsma Harini, mantan Menag Quraisy Shihab, Menteri Susi Pujiastuti. (Cantrik Metaram)

Advertisement