Ikan Batak, Penghuni Terakhir Danau Toba yang Hampir Punah

Ilustrasi ikan batak. (Foto: Instagram.com/gianttrevally)

JAKARTA – Ketika membicarakan tentang Danau Toba, orang-orang biasanya langsung teringat akan pemandangan alamnya yang indah dan luas, terbentuk dari letusan gunung purba Toba sekitar 74.000 tahun yang lalu.

Namun, tidak banyak yang mengetahui bahwa danau seluas 1.130 kilometer persegi ini juga memiliki spesies endemik yang telah hidup dan berkembang biak selama ribuan tahun.

Spesies tersebut bernama Neolissochilus thienemanni, atau yang dikenal oleh masyarakat setempat sebagai ikan jurung atau ikan batak. Secara ilmiah, ikan ini termasuk dalam famili yang sama dengan ikan mas, yaitu famili Cyprinidae atau suku ikan karper. Namun, secara morfologi, ikan batak memiliki ciri-ciri khusus.

Menurut situs web Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), ikan batak memiliki tubuh pipih yang memanjang, dengan warna keperakan pada usia kurang dari enam bulan yang kemudian berubah menjadi kuning kehijauan seiring bertambahnya usia.

Ikan batak memiliki cuping berukuran sedang di bagian bawah bibir. Sirip punggungnya berbentuk cekung, sedangkan sirip dubur dan sirip ekornya bercabang dengan ujung yang meruncing.

Terdapat 10 sisik di depan sirip punggung dan 26 sisik sepanjang sisi tubuh. Selain itu, terdapat 24-28 sisik yang menutupi bagian garis sisi tubuh ikan, yang biasanya terlihat di tengah tubuh ikan.

Di setiap sisi moncong dan di bawah mata, terdapat 10 baris pori-pori yang tidak beraturan. Pori-pori ini membentang dari belakang hingga ke bagian bawah bibir.

Selain itu, perbedaan jenis kelamin dapat dilihat dari bentuk tubuhnya, di mana betina memiliki tubuh yang lebih gemuk daripada jantan. Perbedaan lainnya terletak pada warnanya, di mana ikan jantan memiliki warna yang lebih gelap daripada betina.

Menurut peneliti dari Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar dan Penyuluhan Perikanan KKP, Deni Radona, ikan batak, terutama anak-anaknya, banyak ditemui di perairan dangkal danau, pada kedalaman 4-5 meter dengan dasar pasir atau batu serta arus yang deras.

Mereka menyukai air yang jernih dengan suhu rendah sekitar 16-26 derajat Celsius dan kandungan oksigen yang tinggi.

Seiring bertambahnya usia, ikan batak akan bermigrasi ke daerah perairan yang lebih dalam dengan kedalaman maksimal 15 meter. Ikan ini termasuk jenis yang mencari makan pada malam hari (nocturnal) dan pada siang hari sering bersembunyi di balik batu.

Makanan alaminya meliputi siput, cacing, dan azazolla (Mosquito ferns) atau sejenis tanaman paku yang tumbuh mengapung di permukaan air.

Sebagai ikan penghuni hulu dengan arus air deras, gerakannya sangat cepat dan agresif. Ikan batak membutuhkan waktu hingga 54 bulan untuk mencapai ukuran tubuh maksimal 1 meter dan berat 30 kilogram.

Usia hidup ikan ini lumayan panjang, mencapai 40 tahun. Sepintas, ikan batak mirip dengan marga Tor seperti kancra, tombro, semah, lempon, atau ikan dewa.

Ikan Dilindungi

Ikan batak memiliki nilai ekonomi yang tinggi karena dagingnya yang padat, empuk, dan memiliki cita rasa yang gurih saat dimasak.

Anakan ikan dengan ukuran sekitar 2-3 cm memiliki harga rata-rata Rp7.000 per ekor, sedangkan ikan dengan berat 100 gram dan panjang 21 cm dijual seharga Rp90.000. Dengan demikian, harga ikan berukuran 1 kg dapat mencapai hampir Rp1 juta.

Selain itu, melansir indonesia.go.id, sejak zaman dahulu ikan batak menjadi hidangan yang wajib ada dalam keluarga kerajaan dan bangsawan di Toba. Saat acara keagamaan, ikan ini dijadikan persembahan kepada Tuhan yang disebut “mula jadi na bolon”.

Ikan batak juga menjadi hidangan yang paling ditunggu-tunggu dalam ritual adat masyarakat Mandailing yang disebut “upa-upa” atau “mangupa”, yang merupakan doa untuk meminta keselamatan, kesehatan, dan ungkapan syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Biasanya, ikan batak digunakan sebagai bahan utama dalam masakan arsik, masakan ikan berkuah khas masyarakat Batak Toba.

Dalam setiap pernikahan adat di Toba, hidangan arsik dari ikan batak wajib diberikan sebagai hadiah dari keluarga mempelai pria kepada mempelai wanita atau disebut “tudu-tudu sipanganon”.

Namun, sayangnya hidangan arsik yang menggunakan ikan batak perlahan digantikan oleh ikan mas. Hal ini karena semakin langkanya ikan batak di habitat aslinya.

Penangkapan ikan secara besar-besaran oleh nelayan dan pemancing disebabkan oleh tingginya harga ikan dan meningkatnya permintaan dari masyarakat.

Bahkan, Dewan Konservasi Alam Internasional (International Union Conservation Nature/IUCN) telah memasukkan ikan ini ke dalam Daftar Merah (Red List) dengan kategori “Vulnerable” (Rentan).

Ini berarti bahwa ikan batak rentan terhadap kepunahan dari habitatnya di Danau Toba. Oleh karena itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menerbitkan Surat Keputusan Menteri KKP Nomor 1 tahun 2021 tentang Jenis Ikan yang Dilindungi.

Dalam peraturan tersebut, ikan batak dimasukkan ke dalam jenis ikan yang dilindungi sepenuhnya. Melalui peraturan ini, pemerintah melakukan pengawasan terhadap setiap penangkapan ikan batak oleh masyarakat untuk mencegah eksploitasi berlebihan.

Baik di sekitar Danau Toba maupun sungai-sungai yang bermuara ke danau tersebut, yang merupakan danau vulkanik terbesar di dunia. Selain itu, masyarakat juga didorong untuk mulai mengonsumsi jenis ikan selain ikan batak.

Saat ini, Instalasi Riset Plasma Nuftah KKP yang terletak di Cijeruk, Sukabumi, Jawa Barat, telah berhasil melakukan budidaya ikan batak dalam jumlah yang signifikan. Sebagian besar ikan hasil budi daya tersebut dilepaskan kembali ke habitat aslinya di Danau Toba untuk meningkatkan populasi ikan tersebut.

Pemerintah kabupaten di Humbang Hasundutan dan Samosir, misalnya, telah meminta masyarakat untuk membatasi penangkapan ikan batak. Mereka juga melibatkan kelompok-kelompok nelayan di sekitar

Danau Toba untuk melakukan pembiakan ikan batak di kolam-kolam penangkaran dan kemudian melepaskan anak ikan tersebut ke habitat aslinya setelah mencapai usia tertentu.

Semua upaya tersebut dilakukan agar ikan batak tetap dapat menjadi penghuni yang lestari di perairan Danau Toba dan agar masyarakat tetap dapat menikmati cita rasa lezat dari hidangan arsik yang menggunakan ikan batak tanpa perlu khawatir bahwa populasi ikan tersebut semakin berkurang.

Advertisement