
RENDAHNYA capaian imunisasi dasar pada anak-anak seperti untuk polio, difteri, campak, rubela dan pertusis (batuk rejan), jika tidak segera diatasi, bisa berisiko meningkatkan wabah penyakit.
“Imunisasi tambahan yang diberikan selama Bulan Imunisasi Anak Nasional (BIAN) diharapkan dapat mengatasi ketertinggalan saat pandemi Covid-19, walau cakupan saat ini belum optimal, “ kata Menkes Budi Gunadi Sadikin pada Raker dengan Komisi IX DPR (30/11).
Pemerintah pada medio 2022 menggelar imunisasi kejar untuk memacu cakupan imunisasi dasar yang rendah selama pandemi, termasuk pemberian imunisasi polio oral (OPV), polio suntik (IPV) serta DPT-HB-Hib (kombinasi vaksin difteri, pertusis, tetanus dan campak rubela.
Menurut menkes, cakupan imunisasi kejar di luar Jawa-Bali (rata-rata 33,6 persen) jauh lebih rendah dibandingkan wilayah Jawa-Bali yang rata-rata mencapai 84,6 persen.
Cakupan OPV di DI Aceh misalnya mencapai 36,7 persen, sedangkan di 17 propinsi lainnya di bawah angka tersebut, bahkan NTB misalnya, yang terendah (7,9 persen), Kalimantan Barat (8,4 persen) dan Kalimantan Tengah (9,4 persen).
Sedangkan IPV, rata-rata imunisasi kejar nasional di luar Jawa-Bali 23,8 persen, sementara 18 propinsi lainnya berada di bawahnya misalnya Papua (3,3 persen), Kalimantan Timur (4,1 persen), Kalimantan Tengah (4,6 persen), NTB (5,9 persen) dan DI Aceh (6,2 persen).
Capaian rendah juga terjadi pada imunisasi kejar DPT-HB-Hib di luar Jawa-Bali (rata-rata 30,1 persen), dengan cakupan terendah Papua (lima persen), Kalimantan Barat (10,7 persen) dan Aceh 13 persen, sedangkan di Jawa-Bali, cakupan terendah di DKI Jakarta (74,1 persen).
Rendahnya capaian di DKI Jakarta, menurut Budi, perlu dibahas bersama, mengingat kemungkinan ada perbedaan data terkait sasaran antara pusat dan daerah.
Selain itu kendala lain imunisasi kejar yakni isu kehalalan vaksin yang diangkat publik, jumlah tenaga kesehatan dan rendahnya dukungan pemerintah daerah.
“Sukses tidaknya program imunisasi bergantung pada pemerintah daerah. Jika pemdanya sangat concern, bakal berdampak positif pada percepatan pelaksanaannya, “ tutur menkes.
Sementara itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim Basarah juga mengingatkan, potensi penyebaran wabah penyakit yang dapat dicegah melalui imunisasi patut menjadi perhatian bersama.Untuk itu, IDAI juga sudah menyusun rekomendasi terkait KLB yang terjadi di Aceh.
Ayo tingkatkan program imunisasi kejar, demi menyelamatkan anak-anak, generasi penerus bangsa.



