ADA berita menggelikan dari Jimbaran, Bali. Sekelompok wisman dari Rusia kirim petisi ke Trantib Kecamatan Kuta Selatan, Badung. Isinya, mereka keberatan dan terganggu oleh suara kokok ayam jago menjelang subuh. Padahal bagi orang Indonesia, terutama yang tinggal di pedesaan, suara kokok ayam menjelang pagi itu justru sebuah keindahan tiada tara. Hidup itu tidak lengkap jika menjelang pagi tak terdengar suara kokok ayam.
Tapi kita maklumlah, rupanya di bumi Eropa sana termasuk Eropa, tak ada species ayam. Baik itu ayam negeri, ayam kampung maupun ayam kampungan. Suara ayam jago yang diawali oleh kepak sayap bak bak bak…..lalu disusul suara kukuruyuuuuukkk….., bagi mereka sangat mengganggu.
Ternyata tiap daerah suara kokok ayam itu beda diterima telinga masyarakat setempat. Di Jateng, Jatim dan DIY, bunyinya: kukuluruukkkk, di bumi Pasundan Jabar kongkorongok. Di Indonesia Timur terdengarnya: cingkurunggelung. Di Inggris justru terdengarnya: bodeldiyu dengan ejaannya: “cock-a-doodle-do”.
Bahkan ahli kelirumologi Jaya Suprana menulis di Kompas.com, aksen kokok ayam jago di luar negeri, khususnya Eropa. Kokok ayam jago Italia ditulis sebagai “chichirichi” dan ayam jago Spanyol berkokok “kikiriki”. Lain halnya ayam jago Perancis yang di komik Asterix selalu nyaring berkokok “cocorico”.
Dalam bahasa Belanda kokok ayam jago: kukeleku, Denmark: kykyliky, Finlandia: kukko klekuu, Jerman: kikeriki, Yunani: kikiriku, Ibrani: cookoorikoo, Hungaria: kukuriku. Lalu dikaitkan dengan perang Rusia-Ukraina, pemilik usaha Jamu Jago itu mencoba bercanda: bagaimana kokok ayam jago Ukraina dengan Rusia, pastinya hanya Zalenski dan Putin lebih tahu.
Tapi ditilik dari berita protesnya turis Rusia di Bali, rupanya di Rusia tak ada orang pelihara ayam, sehingga suara kokok ayam itu sangat mengganggunya. Padahal ayam jago sepanjang malam biasa berkokok 2 kali. Pertama sekitar pukul 01:00 dinihari dan pukul 03-04 menjelang pagi. Bila ada ayam jago berkokok pukul 19:00 malam, konon ada janda hamil!
Di dalam sastra Jawa lama, banyak narasi-narasi yang menggambarkan keindahan menjelang pagi karena ditingkah oleh suara kokok ayam. Misalkan lagu Dandanggula “Jago Kluruk” yang sangat terkenal dan juga sangat dikenal di Suriname –setidaknya sampai tahun 1990-an– negara di Amerika Selatan yang banyak dihuni orang Jawa.
Begini sebagian liriknya: Jago kluruk rame kapyarsi (kokok ayam jago ramai terdengar), lawa kalong luru pandhelikan (kelelawar mencari tempat persembunyian), jrih kawanan ing semune (sepertinya takut kesiangan), bang wetan sulakipun (ufuk timur berwarna merah), mretandhani yen wus bangun enjing (pertanda fajar menyingsing), dan seterusnya……
Pada sastra pedhalangan, ada juga suluk kidhalang yang mengisyaratkan waktu sudah menjelang pagi. Misalnya: Meh rahina semubang ywang haruna, Kadi netraning hangga rapuh, Sabdaning kukila, Mring kanigara saketer, oo……Kinidunganing kung,
Lir wuwusing pini panca, oo….. Pepetoging ayam wana, oo. Intinya dimaksudkan, waktu menjelang pagi, matahari bagaikan mata raksasa, terdengar suara burung ditingkah suara ayam hutan.
Ayam jago memang tak hanya indah suaranya, tapi juga enak dibuat ingkung kenduri. Bagi masyarakat Jawa, slametan tanpa ingkung ayam bisa digosipin tetangga: bangeten slametan kok ora nganggo ingkung (terlalu, slametan tanpa ayam ingkung).
Dalam legenda Jawa dan cerita wayang, juga banyak yang bersinggungan dengan ayam jago. Maka ada wayang lakon Kangsa adu jago, ada pula dongeng Kamandaka adu jago. Dari Layang Panji yang berkaitan dengan cerita Panji Asmara Bangun dan Galuh Candrakirana, terselip juga lelagon (nyanyian): kukuluruk, jagone Cinde Laras, omahe tengah alas, payone godhong klaras (kukuruyuk, ayam Cinde Laras rumahnya di tengah hutan, beratapkan daun pisang kering).
Dan hobi ngadu ayam, hobi orang kuna tetap subur menjamur hingga kini. Meski dilarang polisi, masih saja ada orang mengadu ayam secara sembunyi-sembunyi. Bahkan di Bali, hobi mengadu ayam dengan pisau di tajinya, sudah menjadi kebanggaan masyarakat setempat. Maka ketika turis Rusia protes atas kokok ayam jago, para pemilik ayam jago tak peduli. Bukankah ada pepatah mengatakan, di mana bumi berpijak di situ langit dijunjung. (Cantrik Metaram)





