Indonesia Ingin Tularkan Islam Jalan Tengah

Indonesia ingin menularkan konsep Islam jalan tengah atau wasathiyah yang menyejukkan dan toleran guna mengatasi berbagai peroalan dunia termasuk ekstremisme dan radikalisme.

ISLAM jalan tengah atau wasathiyah yang menyejukkan dan toleran selain keniscayaan bagi keragaman Indonesia, perlu ditularkan pula di tataran global demi terwujudnya dunia yang lebih aman dan damai.

Semangat itu mengemukan dalam acara syukuran Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Azyumardi Azra dibarengi peluncuran bukunya berjudul “Politik Globalisasi Islam Wasathiyah” di Jakarta, Rabu (4/3).

Salah satu pembicara, Wapres Ma’ruf Amin mengusulkan Indonesia sebagai tuan rumah forum diskusi antartokoh lintas agama yang ingin bersumbang-saran menyelesaikan konflik dan persoalan global termasuk radikalisme dan ekstremisme.

Menurut dia, Indonesia selama ini sudah melakoni Islam wasathiyah yang menjadi rahmatan lil alamin atau rahmat bagi seluruh umat manusia dan alam.

Makna sederhananya, ujar Ma’ruf Amin, Islam wasathiyah merupakan cara fikir yang dinamis, tidak tekstual, namun memiliki manhaj atau metodologi , sehingga bukan berarti asal-asalan atau ngawur.

Jadi, lanjutnya, untuk membangun kondisivitas dan persaudaraan global, Indonesia bisa berinisiatif menggagas pertemuan antartokoh agama dalam upaya menumpas radikalisme, ekstremisme dan islamophobia.

“Umat agama lain juga harus mengambil sikap di jalan tengah, “ ujarnya.

Sedangkan Mantan Wapres Jusuf Kalla mengakui, RI juga menghadapi ancaman radikalisme dan ekstermisme  yang dihadapi pemerintah melalui deradikalisasi dengan pendekatan yang manusiawi dan santun.

Islam moderat di Indonesia, menurut Kalla, terwujud sejak dari awal, karena  penyebarannya dilakukan oleh para saudagar yang juga ulama.

Kalla berpendapat,  dinamika politik global menjadi pemicu munculnya radikalisme seperti Al Qaeda dan NIIS yang merupakan bentuk ketidakpuasan atau perlawanan pada tatanan politik global.

Selain memperkuat moderasi beragama, menurut Kalla,  peningkatan kesejahteraan dan stabilitas ekonomi juga berkontribusi dalam upaya menumpas radikalisme dan ekstremisme.

Menurut catatan, kapitalisasi agama oleh sejumlah politisi dalam kontestasi Pilkada DKI Jakarta 2017 dan Pilpres 2019 ternyata masih efektif untuk digunakan mendulang suara di tengah rendahnya literasi politik dan masih kuatnya sikap primordialisme di tengah masyarakat.

Sebelum mengajak komunitas dunia menularkan moderasi agama, Indonesia juga harus menyadarkan para politisi untuk tidak  mengatasnamakan agama di pentas politik mereka.(Kompas/NS)

 

 

 

Advertisement