Indonesia Minim Film Bermutu

JAKARTA – Dalam peluncuran program sedekah tiket Sabtu (28/5) di XXI Djakarta Theather, Helvi Tiana Rosa Penulis novel Ketika Mas Gagah Pergi (KMGP) megatakan, kini Indonesia sedang mengalami krisis film bermutu.

“Kalau kita melihat daftar film yang masuk 10 besar, KMGP duduk di peringkat 8, diatasnya KMGP itu urutan 1-8 rata-rata film yang tidak mempuyai dampak langsung ke kehidupan, seperti film komedi, cinta-cintaan,” kata Helvi.

Helvi Tiana Rosa menambahkan bahwa film yang bermutu harus mempunyai dampak langsung ke kehidupan, baik itu artis pemerannya maupun orang yang melihatnya. Film KMGP 1 sendiri sudah memberikan inspirasi dan nilai positif kepada artis pemeran dan para penontonnya.

“Pemeran Yudi, Masaji Wijayanto itu kan mantan cover boy di salah satu majalah, dia sebelumnya sholat ketika mau aja, setalah ikut KMGP langsung sholatnya rajin. Bahkan sampai bangunin Hamas (Pemeran Mas Gagah) untuk sholat ke masjid,” ungkapnya.

Lebih lanjut Helvi menuturkan, sewaktu roadhshow film KMGP 1 di berbagai kota, ia sampai terkejut banyak sekali masyarakat yang hidupnya telah berubah setelah menonton film KMGP 1.

“Ada seorang anak yang setelah nonton film KMGP 1 langsung memutuskan terjun ke kegiatan sosial setelah melihat rumah cinta bahkan salah satu sekolah di Makassar mewajibkan muridnya untuk menonton dan mendiskusikan nilai dan pesan moral yang ada di film KMGP 1,” tambahnya.

Helvi mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk mulai menonton film-film yang bermutu. Ia berpendapat bahwa tregedi kemanusia seperti kasus Yuyun dan Cangkul itu tidak terjadi secara instan, tetapi terjadi setelah pikiran terkontruksi sejak lama melalui konten-konten yang tidak bermutu dan merusak moral.

“Kita lihat saja konten-konten apa saja yang di lihat sekarang ini. Konten-konten yang kita tonton itu akan mempengaruhi pandangan dan tindakan kita kedepannya. Kalau konten bagus kita juga akan bagus, kalau konten jelek maka tragedi kemanusiaan yang terjadi,” pungkasnya.

Advertisement