Indonesia Swasembada Beras 2019 – 2021.

Institut Riset Padi Int'l (IRRI) memberikan penghargaan pada pemerintah RI yang dinilai mampu menerapkan sistem ketahanan pangan dan mencapai swasembada beras selama tiga tahun (2019 - 2021).

INSTITUT Penelitian Padi Internasional (IRR) memberikan penghargaan kepada pemerintah RI yang dinilai memiliki sistem ketahanan pangan nasional yang baik dan mencapai swasembada beras pada 2029 – 2021.

Penghargaan dari IRRI yang bermarkas di Los Banos, Filipina itu dierahkan langsung oleh Dirjen IRRI Jan Balie kepada Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Minggu (1/8).

Apresiasi bertema: ”Penghargaa Sistem Pertanian Pangan Tanggguh dan Seasembada Beras 2019 – 2021 melalui Teknologi Inovasi Padi” diharapkan bisa menjadi pelecut,  tidak saja untuk menggenjot produksi tetapi juga menjamin kesejahteraan petani.

BPS mencatat, produksi beras Indonesia pada 2019 mencapai 31,31 juta ton, lalu naik menjadi 31,35 juta ton pada 2020 dan 33,36 juta ton pada 2021.

Selama tiga tahun (2019 -2021) RI memang tidak lagi mengimpor beras untuk dikonsumsi bagi pangan  pokok mayoritas penduduknya, melainkan hanya beras jenis tertentu.

Sementara Koordinator Nasional Koalisi Rakyat untuk Keadilan Pangan, Said Abdullah kepada Kompas (14/8) menilai positif pengakuan dari IRRI tersebut.

Namun demikian, ia berharap agar RI tidak lengah, mengingat juga pernah mendapat penghargaan oleh Bada Pangan Dunia( WHO) ketika mencapai swasembada beras pada 1984 denga judul “Dari Negara Pengimpor Beras terbesar di Dunia ke Swasembada”.

“Dua tahun kemudian, Indonesia mengimpor beras lagi karena terjadi ledakan hama yang menekan produksi beras nasional, “ ujarnya. Menurut catatan, saat itu terjadi endemi wereng coklat yang menyerang sentra-sentra pertanian padi di Jalur Pantura, Jawa Barat, Sumatera Utara, Jawa Timur dan Sulawesi Selatan.

Saat ini seringnya perubahan musim juga berpotensi mengancam produksi padi sehingga aksi mitigasi harus terus dilakukan agar swasembada tetap bisa dipertahankan.

Selain itu, yang tak kalaha pentingnya, ujar Abdullah, penghargaan IRRI harus dijadikan cambuk untuk meningkatkan Nilai Tukar Petani (NTP) tanaman pangan yang masih berada pada tingkat terendah.

NTP adalah indicator untukmengkur tingkat kesejahteraan petani. NTP lebih dari 100, berarti indeks harga yang diterima petani lebih tinggi dari harga yang dibayarkannya.

Menurut catatan BPS, NTP tanaman pangan di atas seratus hanya dicapai  pada Januari 2021,  lalu turun menjadi 100,86 pada Januari 2022 dan turun lagi menjadi 95,28 pada Juli 2022.

Amankan dan tingkatkan terus swasembada beras, namun jangan lupakan juga kesejahteraan petani!

 

 

Advertisement