JAKARTA – Peneliti Indonesian Space Agency, Badan Riset dan Inovasi Nasional (INASA- BRIN) Andi Pangerang mengatakan wilayah Indonesia tak terlalu terdampak oleh fenomena badai matahari, yang sempat disebut mengancam gelombang radio dan listrik, karena tak ada perubahan signifikan pada pola magnet buminya.
“Setelah hasil diskusi saya dengan peneliti geomagnet di balai LAPAN-BRIN Pontianak, badai matahari 14 April tidak terlalu berdampak ke indonesia,” ungkapnya, Kamis (14/4).
“Alasannya variasi geomagnet di indonesia memperlihatkan pola yang biasa saja sebagaimana lazimnya pola variasi daerah lintang rendah,” lanjutnya.
Puncak badai matahari itu sendiri terjadi pada tengah hari. “Peak sekitar jam 12 waktu lokal untuk kasus tanggal 14 april,” ucapnya.
Andi mengatakan dampak dari badai Matahari itu bisa mengganggu internet hingga sambungan listrik. “Dampak ini dapat dirasakan di seluruh permukaan Bumi dan memang lebih terasa di lintang tinggi seperti Amerika, Asia Timur, Asia Tengah dan Eropa. Tetapi Indonesia tetap dapat mengalami dampak ini meskipun tidak separah di kawasan lintang tinggi,” ujar Andi, dalam keterangan tertulis.
Sebelumnya, badai matahari, yang terjadi akibat lontaran massa korona (coronal mass ejection/CME), diperkirakan akan menghantam Bumi pada Kamis (14/4) pukul 12.00 waktu setempat, dengan kecepatan 429 hingga 575 kilometer per detik.
Andi mengatakan peningkatan aktivitas matahari itu terjadi karena saat ini sedang menuju puncak siklus ke-25. Ia mengatakan awal siklus aktivitas matahari ini dimulai pada September 2019. Puncak siklus diperkirakan jatuh antara September 2023 hingga Desember 2024.
Menjelang puncak siklus ke-25 ini, kata Andi, aktivitas matahari semakin meningkat ditandai oleh banyaknya bintik maupun badai matahari.
Dampaknya secara umum dapat mempengaruhi satelit komunikasi, satelit navigasi, jaringan internet, jaringan listrik, maupun wahana antariksa lain termasuk astronaut yang bekerja di dalamnya.





