JAKARTA, KBKNEWS.id – Influenza A bukan sekadar flu biasa, karena infeksi ini dapat berkembang menjadi pneumonia, gagal napas, hingga kematian, terutama pada kelompok rentan.
Balai Besar Laboratorium Kesehatan Masyarakat (BB Labkesmas) Makassar menjelaskan, gejala influenza A biasanya muncul mendadak, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan, nyeri otot, sakit kepala, dan kelelahan berat. Pada anak-anak dapat disertai mual, muntah, atau diare.
Kelompok berisiko mengalami komplikasi meliputi lansia, anak-anak terutama di bawah 5 tahun, ibu hamil, serta penderita penyakit kronis dan gangguan imunitas.
Jika gejala masih ringan, penanganan di rumah dapat dilakukan dengan cukup beristirahat, memperbanyak minum untuk mencegah dehidrasi, serta menggunakan parasetamol atau ibuprofen sesuai aturan untuk membantu menurunkan demam dan meredakan nyeri. Anak dan remaja yang mengalami influenza tidak dianjurkan mengonsumsi aspirin karena risiko sindrom Reye.
Penderita juga sebaiknya tetap di rumah, membatasi kontak dengan orang lain, menggunakan masker saat harus berada dekat anggota keluarga, rajin mencuci tangan, serta menerapkan etika batuk dan bersin. Ruangan perlu memiliki ventilasi yang baik agar pertukaran udara berlangsung optimal.
Pada kelompok berisiko atau jika gejala cukup berat, segera hubungi tenaga kesehatan. Obat antivirus seperti oseltamivir dapat diberikan berdasarkan penilaian dokter dan manfaatnya paling besar jika dimulai dalam 48 jam pertama setelah gejala muncul. Antibiotik tidak digunakan untuk mengatasi virus influenza, kecuali terdapat infeksi bakteri sekunder.
Segera ke fasilitas kesehatan jika muncul sesak atau napas semakin berat, nyeri dada, kebingungan, tanda dehidrasi berat, bibir kebiruan, demam tinggi yang menetap, atau kondisi sempat membaik tetapi kembali memburuk.





