Ini Dahsyatnya Dampak Banjir di Asia Selatan

NEW DELHI—Cuaca ekstrim yang terjadi di sejumlah wilayah menimbulkan kerugian yang sangat besar. Banjir dan badai terjadi di Houston Amerika Serikat, Hong Kong, Sierra Leone, dan Asia Selatan. Dari kesemua wilayah itu, Asia Selatan yang memiliki dampak paling parah.

Hujan monsun yang jauh lebih besar daripada biasanya di negara-negara Asia Selatan seperti Bangladesh, India, dan Nepal merupakan bencana terburuk dalam satu dekade ini. Hampir 41 juta orang terdampak, dan ribuan orang tewas.

Jagat Patnaik, Kepala Regional Asia di ActionAid International, yang bekerja dari New Delhi, menceritakan dampak kerusakan yang terjadi saat banjir melanda Asia Selatan. Ia bekerja untuk memastikan uang tunai tersedia untuk membeli barang-barang penting dan pekerja bantuan lokal mengirimkan makanan darurat.

Menurutnya, hujan lebat yang membunuh ribuan orang dan membuat jutaan orang kehilangan tempat tinggal di India, Bangladesh, dan Nepal, tidak banyak dilaporkan oleh media Barat. Mereka lebih banyak terfokus pada pelaporan bencana banjir di Freetown dan Houston.

Dilansir Republika, Asia Selatan, sebagaimana Texas, memiliki siklus cuaca tahunan yang biasanya sudah diantisipasi. Namun, tahun ini sistem cuaca tidak bergerak seperti biasanya. Seolah keran dihidupkan dan dibiarkan mengeluarkan air di satu area.

Lebih dari sepertiga Bangladesh dan Nepal, serta daerah-daerah besar di India diterjang banjir. Situasinya diperkirakan akan semakin memburuk saat musim hujan terus berlanjut sampai akhir September.

“Dalam istilah media, mungkin persepsi tentang banjir monsun adalah ”hanya” sedikit lebih buruk dari biasanya. Sehingga bagi mereka hal ini tidak mengejutkan,” ujar Patnaik, dikutipĀ The Independent.

Jutaan orang akan terus terpengaruh oleh perubahan iklim, baik di negara maju dan berkembang. Namun tidak semua orang mampu membangun kembali rumah mereka setelah menghadapi bencana ini. Situasi paling memprihatinkan di Asia Selatan dihadapi perempuan dan anak perempuan. Kewajiban sosial di dunia ini seringkali membatasi akses perempuan ke ruang publik. “Yang berarti jutaan perempuan dan anak perempuan yang terkena dampak tidak dapat sepenuhnya terlibat dalam mendapatkan bantuan yang kami berikan,” kata dia. ROL

Advertisement