Ini Jeritan Pengemudi Taksi yang Demonstrasi

Di balik hadirnya inovasi layanan transportasi daring (online),  ternyata terdapat beberapa pihak yang merasa dirugikan. Pasalnya transportasi online menggunakan kendaraan yang notabene milik pribadi. Kendaraan yang mereka gunakan menggunakan plat hitam. Artinya mereka tidak berkewajiban untuk membayar pajak dan tanggungan lain yang harus dibayar oleh moda transportasi umum yang menggunakan plat kuning.

Merasa keberatan akan hadirnya transportasi online, ribuan pengendara taksi dan bajaj menggelar aksi demo di depan gedung DPR, Jakarta Pusat, Selasa (22/3/2016). Mereka menuntut untuk dibubarkannya taksi maupun ojek online.

Lea Agustin (47), seorang ibu rumah tangga yang juga pengemudi taksi tak mau kalah dengan demonstran lain yang mayoritas laki-laki. Dirinya berteriak lantang menyampaikan aspirasi di depan kokohnya pagar gedung DPR. Di tengah kerumunan demonstran lain, ibu satu anak ini tak henti -hentinya bertetiak “bubarkan taksi online”. Sejak pukul 8 pagi Lea mengikuti unjuk rasa.

“Jelas mereka lebih banyak mendapat penumpang. Harga lebih murah, berani bikin promo,” ujarnya kepada KBK.

Dikatakannya, perusahaan transportasi online tidak akan mengalami kerugian jika mereka mematok harga murah. Ya jelas, lanjutnya, mereka tidak harus bayar pajak. Sedangkan untuk para pengemudi taksi konvensional harus membayar pajak setiap hari setidaknya Rp 300-400 ribu.

“Hasil narik harus dikeluarkan untuk bensin dan juga setoran. Setoran itu nantinya untuk bayar pajak,” terang Lea.

Dirinya menambahkan dalam sehari untuk memenuhi target, wanita yang sudah tidak bersuami ini harus mendapatkan minimal Rp550 ribu untuk pajak dan juga bensin. Sedangkan sejak hadirnya transportasi online, dalam sehari Lea hanya dapat mengantongi Rp 300 ribu. Artinya setiap hari Ia mengalami Kurang Setoran (KS) setidaknya Rp 250 ribu. Hal tersebut menjadi beban hutang Lea kepada pihak perusahaan taksi yang Ia kendarai.

“Sampai saat ini hutang saya ke perusahaan Rp 20 juta,” pungkasnya.

Sebagai ibu rumah tangga yang harus menghidupi anaknya sendirian,  Lea harus narik taksi 24 jam sehari. Bahkan tidur di jalanan pun Ia lakoni. Mungkin hal tersebut sepadan pada tahun 2008 ketika dirinya mulai menjadi pengemudi taksi. Namun sekarang, sejak taksi online hadir, hanya kerugian yang ia dapatkan. Rugi waktu serta tenaga, terlebih lagi kesempatan untuk berjumpa dengan anak yang ia titipkan di rumah orangtuanya harus dikorbankan.

Terkait dengan keselamatan dirinya dalam aksi demo yang berjalan cukup panas, Lea tidak memperdulikan hal tersebut.

“Saya tidak peduli, walaupun harus terluka bahkan mati sekalipun tidak saya pikirkan. Yang saya pikirkan saat ini hanyalah makan apa anak saya hari ini dan selanjutnya,” ujarnya sambil menangis.

Advertisement