Istri Lambe Nggambleh

Insiden di Menes Pandeglang. Menko Polhukam Wiranto sempat terjatuh dan berhasil diselamatkan di RSPAD Gatot Subroto.

KETIKA mendengar berita Menko Polhukam Wiranto ditusuk teroris di Pandeglang, Banten, rakyat Indonesia kaget dan marah. Namun ironisnya, ada sekelompok orang yang menganggap itu sekedar rekayasa pemerintah, sehingga mereka nyinyir di medsos bahkan cenderung nyukurin musibah itu. Tambah menyedihkan lagi, ada sejumlah istri tentara terjebak pada ujaran kebencian. Yang kasihan tentu suami mereka, karier jadi terganggu gara-gara istri yang suka lambe nggambleh.

Hari Kamis tanggal 10 Oktober lalu Menko Polhulkam Wiranto mengalami musibah. Pasca kunjungan di kampus Matla’ul Anwar Banten, mantan Ketum Hanura itu ditusuk kunai oleh Syahril Amansyah alias Abu Rara, sementara sejumlah orang lainnya ditusuk oleh Fitria Diana istrinya. Menurut penyelidikan polisi, mereka adalah kelompok jaringan JAD (Jamaah Ansharut Daulah) Bekasi, yang terdeteksi oleh BIN (Badan Intelejen Negara) memang sedang berkeliaran di daerah Menes, Pandeglang.

Meski sempat terjatuh, Wiranto berhasil diselamatkan dan kini masih dalam perawatan RSPAD Gatot Subroto, Jakarta. Adapun Abu Rara –Fitria Diana yang berhasil diringkus saat itu juga, kenekadannya siang itu dalam rangka “amaliyah”, sistem kilat masuk surga sesuai dengan keyakinannya.  Keduanya menyesal, kenapa tidak langsung didor polisi, sehingga langsung masuk surga janatunaim.

Dalam keyakinan mereka, membunuh togut (pejabat negara) lewat gerakan amaliyah, itu bagian dari jihad fisabililillah. Jika konsekuensi amaliyah itu harus ikut mati sebagai bunuh diri, atau kepala bolong didor polisi, mereka haqul yakin akan masuk surga tanpa dihisab. Di sana para “pengantin” itu akan disambut 72 bidadari, yang siap melayani mereka punya birahi.

Pada insiden di Menes tersebut, Abu Rara sebetulnya pengin langsung ditembak mati. Tapi ternyata hanya ditelikung, di bawa ke Polsek Menes. Di sana tentu saja tak ketemu bidadari dari surga, tapi malah diomeli “bidadari” Bupati Pandeglang,  yang memang cantik itu. “Kalau mau jihad bukan begitu caranya, bikin malu daerahku saja kalian,” kata Bupati Irna Narulita, istri politisi PPP Dimyati Natakesumah.

Dalam perspektif para perusuh negara, aksi teroris itu mereka samakan dengan jihadis jaman Nabi. Karenanya, gara-gara ulah Abu Rara- Fitria Diana, yang kecewa bukan saja Bupati Pandeglang, tapi juga 72 bidadari di surga karena Abu Rara tak kunjung datang. Padahal para bidadari itu sudah lama menunggu dan sudah minum jamu sari rapet.

Rakyat Indonesia kaget dan marah atas terjadinya musibah itu.  Teroris sudah mulai menyasar secara personal ke pejabat tinggi negara, bukan lagi bom dengan korban masal. Terlepas dari BIN yang dinilai kecolongan, sangat disesalkan sikap sekelompok orang yang menuduh kejadian ini setingan dan rekayasa belaka. Mereka mencemooh dengan segala alasannya. Ada artis, anggota DPRD, guru bahkan Jonru Ginting yang pernah masuk penjara gara-gara ujaran kebencian, mengulangi lagi penyakit lamanya.

Tambah menyedihkan, 7 istri anggota TNI-AD juga ikut berkomentar terlalu nyinyir lewat akun medsos. Mereka tak percaya kejadian itu, bahkan terkesan nyukurin. Maka Kasad Jendral Andika Perkarsa pun bertindak tegas, suami mereka dicopot jabatannya dan para istri nyinyir itu diproses kepolisian.

Dalam ketentaraan, karier cemerlang istri belum tentu menunjang karier suami. Tapi sebaliknya jika istrinya “macem-macem” justru akan mengancam karier suami. Biasanya yang “suwarga nunut nraka katut” para istri, di TNI justru sebaliknya. Sebagai anggota Persit (Persatuan Istri Tentara), mereka pasti tahu itu. Maka demi menjaga nama baik dan karier suami, paling aman bersikap netral dan santai saja dalam peristiwa politik. Jangan sampai dibully orang sebagaimana ledekan Suroto Srimulat pada Sumiati rekan mainnya, “Kamu ini cantik, tapi goblok!”

Paling kasihan adalah nasib Kol. Hendi Suhendi Dandim Kendari, Sulawesi Tenggara. Gara-gara jari jemari istri yang gatel, dia terpaksa kehilangan jabatannya yang baru dijalani 2 bulan, ditambah kurungan 2 minggu lagi. Ketika serah terima jabatan berlangsung, sang istri hanya bisa menangis. Nasi telah jadi bubur. (Cantrik Metaram)

Advertisement