Isu Rohingya: Perlu Keseriusan dan Aksi Internasional

Etnis Rohingya.ist

PEMBERITAAN tentang isu minoritas etnis muslim Rohingya di Myanmar timbul-tenggelam, namun aksi kekerasan dan penderitaan yang dialami mereka tak pernah henti,  dan sampai hari ini belum tampak langkah serius masyarakat internasional untuk segera mengakhirinya.

Dalam peristiwa yang terjadi pertengahan November ini, paling tidak 86 warga Rohingya tewas dibantai aparat militer Myanmar dalam aksi balas dendam akibat penyerbuan oleh kelompok tidak dikenal terhadap tiga pos polisi di tapal batas Bangladesh sekitar pertengahan November ini.

Selain mengalami trauma dan kekhawatiran akan terulangnya serangan serupa, ratusan warga juga kehilangan rumah mereka yang dibakar atau dihancurkan.

Ribuan warga Rohingya di Arakan dalam beberapa hari terakhir ini berusaha menyeberangi Sungai Nar yang memisahkan Myanmar dan Bangladesh.  Sebagian diusir kembali ke Arakan oleh aparat keamanan Bangladesh, sebagian lagi tenggelam karena mereka menaiki perahu-perahu reyot seadanya.

Rohingya  adalah kelompok etnis Indo-Arya yang hidup di negara bagian Arakan , di bagian barat daya Myanmar (dulu Burma). Menurut versi Inggeris, Arakan disebut sebagai Rakhine.

Rohingya secara etno-linguistik berhubungan dengan Indo-Arya yang meninggali India dan Bangladesh, berbeda dengan penduduk Myanmar yang Sino-Tibet.

Saat ini etnis Rohingya menyebar di sejumlah negara di Asia, terbanyak di negara bagian Arakan, Myanmar (satu juta), Arab Saudi (400.000), Bangladesh (300.000), Pakistan (200.000), Thailand (100.000) dan Malaysia (28.000).

Peradaban muslim di Arakan sudah ada pada abad ke-8 saat pedagang Arab berdatangan ke kota Mrauk-U dan Kyauktaw yang dihuni etnis Rohingya di Burma. Pada 1785 Burma menguasai Arakan sehingga sekitar 35.000 etnis Rohingya kabur ke Chittagong, Bangladesh  yang dikuasai Inggeris. Mereka kemudian diminta Inggeris kembali ke Arakan untuk bertani.

Operasi King Dragon yang dilancarkan rezim militer Myanmar pada 1978 memaksa sekitar 250.000 warga Rohingya di Arakan menyingkir ke wilayah Cox Bazar di Bangladesh, namun pemerintah setempat juga tidak bersahabat, sehingga sebagian dari mereka melarikan diri ke sejumlah negara Asia .

Kerusuhan antara warga pemeluk Budha dan etnis muslim Rohingya di Negara Bagian Arakan Utara pecah lagi pada Juni dan puncaknya Oktober 2008, menewaskan 100-an warga Rohingya  dan membuat 20.000 kehilangan tempat berteduh. Masyarakat internasional mengecam tindakan pemerintah Myanmar mengisolasi muslim Rohingya di kemah-kemah pengungsi, berlaku kasar dan menutup akses bantuan kemanusiaan bagi mereka.

Rezim Myanmar hanya mengakui etnis Rohingya yang sudah  berada di wilayah Arakan prakemerdekaan negara itu dari Inggeris pada 1948, sedangkan kelompok yang tiba setelah itu dianggap pendatang haram . Faktanya, seluruh etnis Rohingya mendapat perlakuan diskriminatif, dibatasi ruang geraknya dan mereka sulit  mendapatkan surat identitas diri.

Pada 2015 terjadi lagi eksodus sekitar 25.000 warga Rohingya melalui wilayah darat ke sejumlah negara Asia dan mengunakan jalur laut melalui Teluk Benggala dan Selat Malaka.  Sebagian terdampar di Thailand, Malaysia dan Indonesia (di Propinsi Aceh) dan ratusan diantaranya meregang nyawa di tengah perjalanan.

Indonesia sebagai negara dengan mayoritas warga muslim juga telah berupaya membantu solusi masalah Rohingya melalui saluran diplomasi, baik hubungan bilateral, regional (dalam kerangka ASEAN) maupun di bawah payung PBB. Namun demikian, semangat ASEAN untuk tidak saling mengintervensi urusan dalam negeri masing-masing anggotanya, membuat  RI tidak bisa terlalu jauh melibatkan diri dalam isu Rohingya, apalagi untuk menekan pemerintah Myanmar.

“Situasinya tidak akan malah membaik, “ kata Cendekiawan Islam, Prof. Dr. Azyumardi Azra menanggapi desakan Pemuda Muhammadiyah agar RI memutuskan hubungan diplomatik dengan Myanmar. Menurut dia, upaya diplomatik, di level, bilateral, regional maupun internasional akan lebih baik untuk membujuk pemerintah Myanmar agar mengedepankan kemanusiaan bagi penyelesaian isu  Rohingya.

Menlu RI Retno LP Marsudi menyatakan, Indonesia terus berupaya mendukung terwujudnya masyarakat Arakan yang inklusif dan juga telah memberikan bantuan kongkrit di bidang pendidikan dan kesehatan di wilayah tersebut.

Sementara Dubes RI untuk Myanmar Ito Sumardi yang mengaku telah mengunjungi wilayah Arakan   bersama sejumlah dubes negara-negara lainnya mengingatkan agar warga Indonesia tidak terpancing berita-berita yang berlebihan tentang peristiwa itu.

Menurut dia,kejadiannya bermula dipicu oleh serangan terhadap tiga pos polisi di wilayah Arakan, berujung balas dendam yang menewaskan puluhan etnis Rohingya. “Memang ada sejumlah rumah terbakar dan dirusak, tetapi tidak ribuan seperti yang dilaporkan oleh Human Right Watch, “ ujarnya.

Ditunggu, keseriusan dan aksi nyata masyarakat internasional agar korban warga Rohingya tidak terus berjatuhan, baik akibat aksi kekerasan pihak militer atau kelompok warga mayoritas Myanmar maupun akibat tenggelam saat menjadi manusia perahu, mengarungi sungai atau laut, bergulat dengan maut  menuju kebebasan.    (Oleh: Nanang Sunarto)

Advertisement