
PANDEMI Covid-19 yang sudah menewaskan 276 ribu orang dan memapar sekitar 4,2 juta penduduk di 214 negara serta melumpuhkan kegiatan ekonomi dan usaha, di sisi lain juga bisa menjadi peluang dan berkah.
Dokter Arvind Lal dari India misalnya, mampu meraup lebih satu milyar dollar AS (sekitar Rp15 triliun) dengan membuka praktek pengetesan patologi dan radiologi Covid-19 yang semula hanya bisa dilakukan di laboratorium pemerintah atau di RS-RS besar.
Majalah Forbes (7/5) melaporkan, jaringan diagnostik yang dikelola Dr. Lal saat ini termasuk yang terbesar di India dengan 200 lab, 2.500 pusat layanan pasien serta 6.500 titik pegambilan specimen yang sanggup melakukan 4.500 tes Covid-19 sehari.
Di India tes Covid-19 sebelumnya hanya bisa dilakukan di rumah-rumah sakit atau lab. pemerintah, namun akibat kewalahan menangani lonjakan pasien Covid-19, akhirnya sejak Maret lalu, klinik swasta juga diizinkan melakukannya.
Selain di ibukota, New Delhi, dokter Tal juga mengelola lab pengetesan Covid-19 di Kalkuta, India Timur dan Indore, India Tengah. Specimen warga diambil melalui rapid test dari sampel darah atau melalui Polimeryzed Chain Reaction (PCR) melalui swab/pengusapan di tenggorokan.
India yang memberlakukan lockdown guna mencegah penyebaran Covid-19, tercatat sekitar 1.200 orang warganya meninggal dan sekitar 35-ribu orang terpapar virus yang sudah menyerang 4,2 juta warga dunia di 214 negara.
Di Indonesia, kisah sukses ditorehkan oleh legenda campursari, Didi Kempot yang menjelang akhir hayatnya (meninggal, 5 Mei lalu) menggelar konser dari rumah tanpa penonton (Kompas TV,11/4).
Maestro campursari tembang Jawa yang dijuluki “Godfather of the Brokenhearts” itu meninggalkan legacy, sukses menghimpun Rp5 milyar dalam konser amal berdurasi 3,5 jam tersebut dan bertambah lagi sampai Rp7,6 milyar beberapa hari setelahnya yang seluruhnya didonasikan bagi korban Covid-19.
Di tengah pembatasan transportasi dan seruan tinggal di rumah demi mencegah penyebaran Covid-19 dalam program PSBB, usaha-usaha baru yang tidak memerlukan lokasi penjualan atau temu fisik juga bermunculan.
Grup-grup WA keluarga, alumni, kolega kantor atau komunitas lainnya diramaikan oleh berbagai penawaran, mulai dari masker, aneka panganan olahan dan beku, jus buah, kue-kue basah dan kering untuk kudapan berbuka atau persiapan lebaran sampai hantaran sayur-mayur.
Tidak semuanya sukses memang, karena di tengah pandemi Covid-19 yang berlangsung hingga hari ini, tampak berlaku “Buyer’s Market” dimana tersedia banyak penawaran, sementara daya beli anjlok tergerus imbas Covid-19.
Gelaran webinar atau seminar jarak jauh juga tidak kalah maraknya, peluang bagi penyelenggara dan dimanfaatkan untuk menimba ilmu bagi mereka yang harus berdiam diri di rumah selama PSBB, atau sekedar membunuh waktu atau melepaskan diri dari kejenuhan.
Live Instagram obrolan sekitar kuliner seperti ditampilkan juru masak kondang, Om Will (William Wongso) digemari berbagai kalangan, begitu pula aneka topik kesehatan, olahraga dan edukasi yang ditampilkan penyelenggara webinar lainnya.
Pandemi Covid-19, selain malapetaka dan kerugian bagi negara dan banyak orang, juga peluang bagi orang-orang yang kreatif dan jeli memanfaatkan kesempatan di tengah kesulitan.




