
MESIN perang raksasa Rusia ternyata bukan jaminan untuk bisa menaklukkan Ukraina secepatnya, bahkan pada hari keempat (Minggu, 27/2) pasukannya dilaporkan dipukul mundur dari sejumlah titik pertempuran.
Didukung serangan rudal-rudal balistik, ratusan pesawat tempur dan heli serang, tank tempur utama (MBT) , kendaraan pengangkut artileri dan panser-panser Rusia merangsek tapal batas Ukraina dari utara (Belarus), timur laut dan selatan.
Dari citra satelit yang diambil pihak Barat, tampak iring-iringan tank T-90, kendaraan artileri swagerak 2S35 Koalisija dan panser pengangkut personil BTR-80 sepanjang lima Km bergerak 64 km memasuki wilayah Ukraina ke arah ibu kota, Kiev, Minggu (27/2).
Sadar akan kelemahannya menghadapi serangan massif Rusia, pasukan Ukraina yang kalah jauh dalam jumlah dan juga alutsista, menerapkan taktik perang kota seperti yang diuji cobakan dalam latihan-latihan sebelumnya.
Rudal-rudal anti tank Javelin bantuan AS dan NLAW(rudal anti tank ringan generasi ke depan -NLAW) buatan Inggeris-Swedia dan panzerfaust (eks-Jerman) paling tidak, cukup efektif menahan gerak maju pasukan Rusia yang dimotori tank-tanknya.
Kemhan Ukraina merilis, sejak hari pertama invasinya (sampai Minggu, 27/2), Rusia suah kehilangan 4.300 pasukan, Â 46 pesawat tempur, 26 helikopter, Â 146 tank, 706 panser, Â 49 pucuk Meriam dan satu unit sistem rudal. Tidak disebutkan kerugian di pihaknya.
Menlu Ukraina Dmytro Kuleba mengklaim blitzkrieg (perang kilat ala Jerman dalam PD II) Rusia gagal total dan tujuan strategis Presiden Rusia Vladimir Putin (menginvasi Ukraina-red) meleset semua.
Putin disebutnya belum mencapai satu pun tujuan strategis selama empat hari invasi Rusia ke Ukraina.
“Ia bertujuan melakukan operasi blitzkrieg atau perang kilat untuk memaksa Ukraina bertekuk lutut, menghancurkan kami, membuat kami mundur, dan merebut ibu kota, Kiev, “ kata Kuleba.
Menurut Kuleba, tidak ada kota besar di Ukraina yang yang sudah jatuh ke tangan Rusia dan meski terjadi pemboman masif, pertahanan darat di ibu kota Kiev, membuat musuh (Rusia) belum mendapatkan kendali apa pun.
Kerahkan Separuh Kekuatan Â
Sementara menurut informasi Pentagon, Rusia telah mengerahkan setidaknya 50 persen dari kekuatan yang disiapkan untuk invasi besar-besaran di Ukraina.
Presiden Putin juga memerintahkan pasukan nuklirnya dalam siaga tinggi, menyiapkan kemungkinan keterlibatan AS bersama kekuatan Aliansi Pertahanan Atlantik Utara (NATO) bersama 30 anggotanya yang dianggapnya menunjukkan gelagat tidak bersahabat.
Perekonomian Rusia juga diprediksi bakal memburuk setelah AS, negara-negara UE, Kanada dan Jepang mengenakan sanksi ekonomi dan memblokir akses bank-banknya dari sistem pembayaran internasional (SWIFT).
Negara UE dan Kanada menutup koridor udara mereka bagi pesawat-pesawat komersial Rusia sehingga hal ini bakal membuat negara beruang merah itu terisolasi dari akses hubungan internasional.
Jerman membekukan proyek pipanisasi gas alam Nordstream 2 (NSGP) bernilai 11 milyar dollar AS yang membentang sepanjang 1.224 Km dari Rusia ke Jerman, mengalirkan 55 milyar M3Â Â gas alam setahun atau separuh kebutuhan gas Eropa.
Keputusan Barat memblokir bank-bank Rusia dari SWIFT (Society for Worldwide Interbank Financial Telecommunication) bakal  mengerek harga minyak jauh di atas 100 dollar AS per barel.
SWIFT adalah sistem jaringan pembayaran lintas batas global yang memfasilitasi sekitar 11.000 lembaga keuangan int’l di 200 negara untuk melakukan transaksi keuangan secara aman.
UE juga bakal memperketat sanksi terhadap Rusia, menargetkan sekutu Moskwa yakni Belarus, dan mendukung persenjataan Ukraina guna membantunya mempertahankan diri dari invasi Rusia.
Seorang pejabat senior AS menilai, pemblokiran bank-bank Rusia dari jaringan SWIFT bakal melumpuhkan Bank Sentral Rusia dan    membuat Moskwa menjadi “paria” dalam sistem keuangan global serta  membuat Rubel “terjun bebas”.
Sementara Swiss yang biasanya berposisi netral, menurut Presiden Ignazio Cassis, “sangat mungkin” akan mengikuti langkah UE untuk mengenakan sanksi dengan membekukan aset Rusia di negerinya.
Sebaliknya raksasa industri energi Rusia, Gazprom, menyatakan ekspor gas Rusia melalui Ukraina ke Eropa masih berlanjut secara normal, sejalan dengan permintaan dari pelanggan.
Invasi Rusia juga menciptakan sekitar 400 ribu pengungsi Ukraina yang membanjiri tetangganya, Polandia, Rumania, Moldova dan Ceko sehingga kemacetan parah  di tapal batas tidak terhindarkan.
Terlalu dini memprediksi, apa yang terjadi terkait konflik Rusia vs Ukraina. Bisa jadi Presiden Putin akhirnya menyerah akibat tekanan int’l, menarik pasukannya dan menuju meja perundingan.
Skenario terburuk, AS dan NATO turun tangan mendepak Rusia keluar dari Ukraina, atau salah satu, Presiden AS Joe Biden atau Presiden Putin akan menarik picu instruksi serangan nuklir di tas  hitam yang selalu dibawa-bawa ajudan yang berada di sampingnya sehingga memicu Perang Dunia III.
Semoga skenario terburuk yang bakal menjadi bencana umat manusia itu tidak terjadi!




