TAIPE (KBK)-Bulan November mendatang genap sudah 7 tahun, Neneng (32) sebut saja begitu namanya , buruh migrant asal Bekasi, Jawa Barat tidak pulang ke tanah kelahirannya.
Rasa rindu pada anak perempuan semata wayangnya yang kini berusia 7 tahun pun harus dipendam.
Wanita yang telah menjanda sejak tahun 2011 ini tidak tau kapan ia akan pulang. Ia mengaku harus mengumpulkan uang sekitar 10 juta untuk bisa pulang ke Indonesia.
“Kalau mau pulang butuh uang yang nggak sedikit,”ucap Neneng kepada KBK melalui pesan elektronik baru-baru ini.
Begitulah sepenggal kisah salah seorang buruh migrant illegal yang kerja di Taipe, Taiwan.
Sejak pertengahan tahun 2009 Neneng sudah berstatus buruh migrant illegal. Sebelumnya, tahun 2006-2007 ia tercatat sebagai buruh migrant resmi dari sebuah agen di Bekasi. Lantaran enggan untuk memperpanjang izin, wanita yang hanya tamatan SMA ini nekad untuk terus bekerja di Taiwan.
Kata Neneng, buruh migrant illegal di Taiwan lebih banyak dibanding yang resmi. “TKI yang bermasalah lebih banyak dibanding yang resmi,”katanya.
Neneng menuturkan banyaknya agen TKI yang nakal, yang membuat aturan seenaknya, sehingga buruh migrant tersebut juga berstatus illegal. Neneng mencontohkan, dalam perjanjian terulis disebutkan bahwa TKI itu bekerja di sebuah panti jompo, tapi setelah sampai di Taiwan dipekerjakan di rumah pribadi sebagai PRT.
Sepanjang menjadi buruh migrant illegal, Neneng beberapa kali pindah kerja. Dari mulai pekerja kasar sampai bekerja pada majikan yang kurang ajar.
Masalah sweeping oleh aparat dan dinas imigrasi juga pernah dialaminya. Namun, ia diselamatkan oleh sang majikan.
“Sengsara pindah pindah kerja, gaji nggak jelas dan nggak bisa menabung,”katanya.
Bukan hanya dirinya yang merasakan hal itu, bahkan beberapa temannya ada yang lebih parah. “Ada beberapa orang yang disuruh makan babi, kalau tidak mau di denda sama majikannya,”terang Neneng.
Namun, nasib masih berpihak pada Neneng, sejak 3 tahun lalu ia sudah bisa bekerja dengan normal. Majikannya baik dan tidak neko-neko. Walaupun gaji perbulannya tidak terlalu besar, tetapi ia mulai bisa menabung.
Dengan tabungannya tersebut Neneng berharap tahun 2016 bisa pulang ke Bekasi. Ia mengaku sangat sedih jika melihat foto sang anak.“Mudah-mudahan tabungan cukup tahun depan,”harap Neneng.





