Jalur Alternatif Pasokan Minyak Saudi Lumpuh Diserang Houthi

Arab Saudi kembali mengirimkan ekspor minyaknya melalui Selat Hormuz karena jalur alternatif melalui pipa darat ke L. Merah dibombardir oleh Houthi (foto: stok. ist)

JAKARTA – (KBKNEWS) – 23/9 – RENCANA Arab Saudi mengalihkan pasokan minyak dari Selat Hormuz ke Laut Merah melalui jalur pipa darat  menemui jalan buntu karena  jalur tersebut lumpuh akibat serangan milisi Houthi.

Negara eksportir minyak terbesar dunia tersebut kini terpaksa kembali memuat minyak mentah dari Teluk Persia dan melintasi jalur perairan rawan di Selat Hormuz.

Berdasarkan data pelacak kapal Kpler, sekitar 2,4 juta barel minyak mentah dan kondensat Arab Saudi per hari kembali mengalir melalui Selat Hormuz dalam dua pekan terakhir.

Angka ini mencapai level tertinggi sejak awal Juli, sebelum milisi Houthi mengumumkan blokade maritim terhadap kapal-kapal terkait Arab Saudi di Laut Merah.

Data penyedia informasi maritim Vortexa menunjukkan, rata-rata pengiriman harian minyak mentah dari dalam Teluk Persia bahkan melonjak hingga lebih dari 2 juta barel pekan lalu.

Padahal, volume pengiriman sempat menyentuh angka mendekati nol sepanjang Juni dan di bawah 1 juta barrel per hari pada Juli.

Sebaliknya, pengiriman dari terminal Laut Merah merosot hingga nol sejak awal September, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (22/9).

Guna meminimalkan risiko di tengah ancaman rudal dan drone Iran serta sekutunya, produsen minyak milik negara, Saudi Aramco, menerapkan pola pengiriman khusus.

Mereka mengangkut minyak dari terminal Ras Tanura di Teluk Persia, melewati Selat Hormuz, lalu memindahkan muatan ke kapal lain di lepas pantai Sohar, Oman, untuk diteruskan ke pelanggan utama di Asia seperti China, Korea Selatan, dan Jepang.

“Kami benar-benar melihat Arab Saudi memuat lebih banyak minyak mentah dari Ras Tanura dan mengangkutnya lewat sana,” ujar Richard Matthews, Direktur Konsultasi dan Riset di perusahaan pialang kapal

EA Gibson.

Harga Minyak Dunia Tembus 108 Dollar AS Menurut Matthews, Arab Saudi sebelumnya tidak menggunakan metode ini karena memiliki opsi rute lain.

“Tetapi opsi-opsi tersebut kini sudah tidak ada lagi,” ucapnya. Tingginya permintaan untuk rute bolak-balik ini bahkan membuat kapal-kapal supertanker tua berumur 20 tahun kini dikerahkan kembali.

Lumpuhnya rute alternatif Langkah balik arah ini dipicu oleh tumbangnya berbagai rute pengalihan yang dibangun Arab Saudi.

Sebelumnya, Arab Saudi mengalihkan jutaan barrel minyaknya melalui jalur pipa East-West Pipeline menuju Pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Ketika milisi Houthi meningkatkan serangan terhadap pelayaran terkait Arab Saudi di sekitar Bab el-Mandeb pada Juli, sebagian kargo dialihkan ke utara menuju Mesir menggunakan Terusan Suez dan sistem pipa Sumed.

Namun, skenario alternatif tersebut runtuh setelah serangan drone dari Irak melumpuhkan East-West Pipeline awal bulan ini.

Di saat yang sama, melintas di Selat Hormuz tetap menjadi pertaruhan mematikan.

Pada Senin (21/9/2026), sebuah kapal tanker yang memasuki selat dihantam proyektil tidak dikenal hingga melukai dua awak kapal, menurut lembaga Operasi Perdagangan Maritim Inggris (UKMTO).

Kapal tanker lain juga dilaporkan terkena puing-puing. Sebelumnya pada bulan ini, dua supertanker pengangkut minyak mentah Saudi dihantam proyektil tidak dikenal hanya dalam selang waktu beberapa menit saat berlayar keluar dari Selat Hormuz.

Peneliti senior tidak tetap di Center for a New American Security, Rachel Ziemba, menilai fenomena ini menjadi peringatan bagi pasar energi global.

“Ini adalah pengingat bahwa jalur alternatif tidak sepenuhnya aman. Semua opsi memiliki masalah dan biayanya masing-masing, seiring meningkatnya tarif kapal tanker dan asuransi yang beriringan dengan risiko fisik,” kata Ziemba.

Melonjaknya ongkos kirim Kembalinya ketergantungan pada Selat Hormuz memicu lonjakan biaya logistik yang drastis.  Michael Haigh,

Kepala Riset Komoditas di bank asal Perancis Societe Generale, mencatat biaya pengangkutan minyak mentah dari Pelabuhan Ras Tanura ke Pelabuhan Ningbo di China melambung dari sekitar 4,5 juta dollar AS menjadi hampir 63 juta dollar AS per perjalanan.

Untuk mengompensasi tingginya ongkos kirim dan risiko yang ditanggung pembeli di Asia, Saudi Aramco diperkirakan bakal menawarkan potongan harga jual minyaknya.

Kondisi ini memberi tekanan berat pada perekonomian global. Militer AS sejauh ini berupaya menekan serangan Iran agar jutaan barel minyak tetap dapat melintas di Hormuz setiap hari.

Namun, rentetan serangan dari milisi pendukung Iran di Irak dan Houthi terus mengikis dampak dari upaya pemulihan tersebut. (WSJ/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here