Jaman Prank dan PHP

Rombongan Gubernur Anies Baswedan saat makan bersama di Warteg milik Takuri. Rombongan gubernur pergi, warga menyerbu dan makan gratis, tekorlah Takuri.

 MINGGU ini banyak kejadian lucu dan ironis. Ada juara turnamen bulutangkis Bupati Pekalongan Cup yang berhadiah Rp 50.000,- ; pemenang lomba maraton yang baru dibayar Rp 50 juta sementara sisanya masih diutang KONI. Bahkan bantuan Presiden untuk pedagang pasar saja ada yang amplopnya terima kosong. Berkat medsos, berita yang beginian jadi viral. Apakah sekarang memang jamannya orang ngeprank dan PHP (Pemberi Harapan Palsu)?

Apa itu prank? Apa ada hubungannya dengan Frank Sinatra penyanyi legendaris dari New Yersey AS? Jelas tidak ada! Prank adalah bahasa gaul anak muda era milenial yang maksudnya adalah ngerjain dengan tujuan berlucu-lucu saja. Jika korbannya kaget, si tukang jahil merasa puas. Yang berdekatan dengan itu adalah PHP. Sebab pihak yang dikerjain kadang kadung timbul harapan yang berlebihan, padahal kosong belaka.

Sebetulnya kejadian-kejadian semacam itu banyak di sekeliling kita, dari jaman kuda gigit besi sampai kuda tak pernah Lebaran. Tapi di era digital dengan medsos sebagai panglima, setiap orang bisa jadi Pemred & Penanggungjawab atas HP miliknya, kemudian memposting apa saja yang dianggapnya menarik untuk diketahui publik. Padahal tidak semua yang menarik itu harus diketahui publik, sebab Indonesia yang punya pegangan Pancasila opini orang dibatasi oleh SARA.

Jika di era Orde Baru, berita amplop kosong dari Istana itu tak bakalan masuk koran. Bila nekad bisa panjang urusannya, sebab bisa dianggap mencemarkan nama baik Istana secara umum, atau Pak Harto secara khusus. Masak sih, presiden memberikan amplop kosong tanpa lembaran uang kepada sejumlah pedagang Pasar Ciceheum Bandung? Padahal itu terjadi karena keteledoran staf Istana saja. Dari ratusan amplop “Bantuan Kemasyarakatan”, ada satu amplop yang belum diisi uang tapi terlanjur ikut dibagikan.

Sebelum pedagang Pasar Cicaheum Bandung, yang kena prank KONI adalah Jack Ahearn pemenang Indonesia Marathon 2022.  Acara itu sendiri sudah berlangsung bulan Juni, tapi hadiahnya baru diserahkan 2 minggu lalu. Itupun baru Rp 50 juta, sementara yang Rp 100 juta masih diutang KONI selaku pendukung kegiatan tersebut. Ketika Jack Hearn asal Australia ini terus menagihnya, KONI pun melemparnya ke penyelenggara. Kemungkinan hadiah menjadi seret gara-gara sponsor tak sesuai target.

Tak kalah uniknya adalah pemenang kejuaraan bulutangkis Bupati Pekalongan Cup. Biaya pendaftaran Rp 100.000,- tapi hadiah untuk juara III (anak-anak) hanya Rp 50.000,- sementara juara I Cuma Rp 125.000,- Juara II (kemungkinan) Rp 100.000,-  Apa nggak rugi bandar? Padahal acara ini melibatkan PBSI Pekalongan. Keruan saja Bupati  Fadia Arafiq malu sekali, sudah mencatut namanya tanpa izin nilai hadiahnya malah menjatuhkan nama Bupati. Agaknya panitianya kere sekali, karena peralatan pertandingan juga mengandalkan dari pemasukan uang pendaftaran.

Mundur ke belakang, Gubernur Anies Baswedan yang mau lengser pertengahan Oktober mendatang, pada  pertengahan Oktober 2021 juga pernah “ngeprank” warga Jakarta di Pasar Burung Pramuka, meski secara tak sengaja. Usai acara “Tak boleh ada yang lapar di Jakarta”, rombongan Anies ramai-ramai makan bersam di Warteg milik Takuri. Usai makan rombongan Anies meninggalkan uang Rp 1 juta. Ternyata sepeninggal Anies warga menyerbu, dikiranya program makan gratis masih berlangsung. Tadinya nyaris untung Takuri akhirnya malah jadi buntung.

Kisah serupa tapi tak sama, pernah pula dilakukan oleh  rombongan Menpora Roy Suryo pada Maret 2014. Dijamu oleh Dispora Surabaya, rombongan mentri ini ditraktir makan siang di RM Rawon Setan di Jalan Embong Malang. Selesai makan rombongan menteri pergi begitu saja, sedangkan pemilik warung sungkan menagih rekening sebesar Rp 872.500,- itu. Ternyata itu semua terjadi akibat keteledoran pihak panitia, tapi yang jelek jadi nama Menpora.

Tapi “ngeprank” paling tega dan paling berani hanya dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan korban eks Menko Maritim & Sumber Daya Rizal Ramli. Pada Juli 2016 terjadi reshufle kabinet, salah satunya pencopotan Rizal Ramli, seorang menteri yang kata Jusuf Kalla cukup pintar tapi tak bisa memimpin anak buah. Selesai pelantikan menteri baru, Rizal Ramli yang masih penasaran atas pencopotannya datang ke Istana untuk bertemu Presiden. Jokowi berjanji akan ditemui setelah rapat kabinet. Ternyata Rizal Ramli setia menunggu. Sekitar pukul 22:00 Presiden Jokowi baru selesai dengan tugasnya. Dia bertanya kepada stafnya, apakah Rizal Ramli masih ada? Ternyata masih menunggu. “Biarin saja,” kata Presiden dan pulang lewat pintu lain.

Begitulah, PHP dan ngeprank bisa dilakukan oleh rakyat biasa hingga para pejabat tinggi negara. Yang nonton dan baca beritanya bisa senyum-senyum sendiri, tapi korban PHP dan prank itu jika tak segera move on bisa sakitnya sampai di sini. (Cantrik Metaram).

Advertisement