Jangan Bicara Sembarangan

Abah Radjab dan Mbah Fanani di Indramayu, berdialog cukup lewat sorot mata.

ADA sepotong daging dalam mulut orang, tapi jika bergerak-gerak barang sedikit saja dampaknya bisa ke mana-mana. Contoh kasus paling gres, Gubernur Ahok kemarin kalah telak dalam Pilgub DKI Jakarta, gara-gara suka bicara sembarangan. Kinerjanya bagus, tapi lantaran keseleo lidah dan “dimainkan” oleh para pembencinya, tumbanglah ambisinya untuk memperpanjang pemerintahannya di 2017-2022.

Daging sepotong dalam mulut itu tak lain adalah lidah. Lidah sapi atau kambing, ketika dibuat sate atau thengkleng, itu lezat luar biasa. Tapi lidah manusia, ketika gerakannya tak disinkronkan dengan otak dan hati, itu bisa membahayakan pemiliknya. Orang bisa tersinggung dan marah gara-gara bicara asal njeplak. Bahkan sering pula kejadian, di kota metropolitan seperti Jakarta, hanya karena omongan yang lepas kontrol bisa menyebabkan hilangnya sebuah nyawa (pembunuhan).

Gerakan lidah yang bisa menjadi berkah adalah milik para penyanyi, pesinden, dalang, mubaligh, MC,  juga penyiar dan pengacara. Suara mereka bisa dijual dan jadi duit. Rhoma Irama misalnya, dari lagu-lagu dangdutnya dia bisa kaya. Begitu pula Ahmad Dhani, lewat vokal dan musiknya dia jadi punya segalanya, dari rumah mewah hingga bini cantik. Tapi mulut pemilik Republik Cinta itu juga sering jadi masalah, ketika dia kecam sana kecam sini. Untung saja tidak sampai menjadi tuntutan hukum.

Paling gres adalah Ahok Basuki, Gubernur DKI petahana. Gara-gara omong sembarangan, sekali waktu kejeblos. Mengomentari “surat Almaidah 51”, langsung dianggap sebagai penistaan agama. Dia tak sadar bahwa sudah lama rakyat Jakarta yang anti dirinya menunggu kapan dia keliru omong. Akhirnya, ketika bicara soal “Almaidah 51” di Kepulauan Seribu, kenalah dia. Dua kali putaran di Pilgub DKI, suaranya semakin rontok dan gagalah menjadi Gubernur DKI dua periode.

Banyak orang bilang, sebetulnya jika diam saja tak banyak omong, menanglah dia. Tapi karena sudah bawaan dari sono, watuk lebih mudah diobati ketimbang watak; berantakanlah segala ambisi Ahok. Padahal dia pernah berjanji, untuk lebih santun. Tak hanya “memplester” mulutnya, tapi juga belajar njawani, semisal mengucapkan kata: matur nuwun, sugeng dalu, Gusti Allah ora sare.

Nasi sudah menjadi bubur encer, keadaan tak mungkin bisa diubah lagi. Maka orangtua selalu berpesan lewat pepatah: berjalan peliharakan kaki, berkata peliharakan lidah. Bahkan hadits Nabi juga mengingatkan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Bukhari Muslim no. 74)

Ungkapan Barat memang mengatakan: silence is gold (diam itu emas). Untuk pengacara jelas ungkapan ini tidak laku. Tapi secara umum, diam adalah sikap paling aman lantaran mulut tidak tercemar polusi kata. Bahkan yang baru rame sekarang, dua orang kakek yang berdialog lewat sorot mata bikin heboh di internet. Lihat saja Mbah Fanani dari Dieng (Wonosobo) dan Abah Radjab dari Balongan (Indramayu). Meski mereka hanya berdialog lewat sorot mata, dielu-elukan banyak orang dan disebut sebagai petapa sakti dan berumur panjang.

Orang bijak bicara seperlunya, tapi membawa pesan yang dalam. Maka orang Jawa punya ungkapan: janma limpat seprapat tamat. Maksudnya, orang pintar dan bijaksana, meski hanya mendengar sekilas kata seseorang, sudah bisa menangkap makna lebih jauh. Tapi bagaimana dengan tukang parkir, hanya menyebut “hup” mobil berhenti; apakah juga termasuk manusia bijak?

Yang sering terjadi, pesan atau omongan orang yang hanya sedikit, ketika disampaikan kepada pihak kedua, ketiga dan seterusnya; justru sering ditambah-tambahi hingga semakin berkembang tidak keruan. Apalagi dengan lahirnya teknologi komunikasi yang namanya internet, berita yang semula kecil jadi membesar dan membara, lantaran dikomentari yang macam-macam. (Cantrik Metaram)

Advertisement