Jangan Remehkan Kardus

Pasukan pemulung kardus. Meski kelihatannya remeh dan pekerjaan tak bergengsi, tapi hasilnya menjanjikan.

SEJAK kemarin nama kardus kembali naik daun. Gara-garanya, perlengkapan rumahtangga itu dikaitkan dengan hiruk pikuk Pilpres 2019. Lantaran kecewa akan sikap Ketum Gerindra Prabowo, elit politik Partai Demokrat meledek Capres mantan Pangkostrad itu sebagai “Jendral Kardus”. Eittt…..nanti dulu, jangan remehkan kardus! Biar kardus itu sekedar perlengkapan rumahtangga dan perkantoran untuk kemas-mengemas, tapi juga sangat menghidupi kaum pemulung di seluruh nusantara!

Koran Pos Kota 24 Februari 2018 lalu bahkan memberitakan, Mastain (36) perantau dari Tuban (Jatim) sukses di Jakarta lantaran jadi pemulung kardus. Awalnya memulung langsung dari pasar ke pasar bilangan Pasar Minggu, lama-lama ngebosi para pemulung gerobakan. Kini bisa menyelesaikan kuliahnya dari uang kardus. Dan berkat kardus dan plastik pertokoan Robinson dan Ramayana, dia tercatat sebagai perantau sukses di Ibukota! Mustain pun bangga dengan sebutan Bos Kardus, bahkan dicetak pula dalam kartu namanya.

Berapa jumlah “manusia kardus” di negeri ini, belum pernah didata oleh BPS (Badan Pusat Statistik). Yang jelas, bisa mencapai jutaan. Di satu kota saja, bila ada 10 pengepul kardus bekas mempekerjakan rata-rata 50 orang, itu sudah 500 orang yang hidup dari kardus. Padahal setiap kota di Indonesia pasti adalah juragan “bos kardus” itu, sehingga angka jutaan “manusia kardus” bukanlah cerita fiksi. Mereka layak membentuk organisasi Persatuan Pemungut Kardus Indonesia (PPKI).

Dan ternyata “manusia kardus” bukan monopoli Indonesia saja. Di Hongkong sedikitnya 5.000 pensiunan kakek nenek berusia 65 tahunan mengisi sisa-sisa hidupnya dengan mengandalkan penghasilan dari memungut kardus. Dari pagi sampai petang mereka berburu kardus bekas dari gang ke gang perkampungan. Dilihat dari gambar-gambarnya, mereka nampak kurus dan tipis seperti kardus-kardus yang dipulungnya.

Kardus-kardus bekas yang telah menghidupi berjuta-juta manusia di belahan bumi mana saja, terbuat dari pulp (bubur kayu) sebagaimana kertas. Pertama kali diproduksi tahun 1817 di Inggris. Jenisnya dua macam, yang bergelombang  dan satu lapis yang biasa disebut karton (paperboard). Tapi jangan salah paham, istilah kartunis yang sering kita dengar, bukan berarti pemungut karton, melainkan tukang bikin gambar lucu di surat kabar/majalah termasuk media elektonik.

Penulis di masa kecilnya di Purworejo (Jateng), gemar sekali bikin wayang. Setiap ketemu kerdus, senangnya bukan main, langsung dibuat wayang. Maklum di kampung taun 1960-an, jarang orang berbelanja barang yang berkemasan kardus macam jaman sekarang. Bila sudah “ketagihan” bikin wayang kardus, kadang sampul buku tulis yang berkarton tebal, dikorbankan. Kadang pula bungkus peci baru dipakai juga. Tapi kardus dari kemasan peci ini jelek sekali, mbedhel (rapuh) saat dipahat untuk dijadikan wayang.

Wayang tatahan (dipahat) kardus yang dijual saat musim Lebaran di pasar, atau dalam tontonan wayang, garapannya cukup halus, meski tidak dicat. Tapi anak kampung mana punya uang. Maka baru mampu beli wayang kardus tatahan hanya ketika Lebaran, karena dapat sangu saat ngider halal-bihalal.

Di masa sekarang, ketika barang-barang elektronik sudah masuk kampung, kardus sudah barang langka di pedesaan. Ditambah orang kota yang mudik ke kampung halaman dengan mengemas bawaannya pakai kardus supermie, sampah kardus kini sudah merupakan hal biasa. Untungnya kardus termasuk bahan ramah lingkungan, mudah terurai sehingga tak mencemari lingkungan. (Cantrik Metaram)

 

 

 

 

Advertisement