
SETELAH tertunda 24 jam dari yang disepakati, gencatan senjata atau Jeda Kemanusiaan selama empat hari antara Hamas dan pasukan Israel di wilayah Gaza, Palestina diawali tukar menukar tawanan antara kedua belah pihak.
Hamas, Jumat pagi waktu setempat dilaporkan melepas 13 warga Israel, 10 warga Thailand dan satu warga Filipina yang dibawanya saat penyerangan ke wilayah Israel pada 7 Okt., sebaliknya Israel melepas 39 warga Palestina yang ditahan di penjara di negeri itu.
Sesuai kesepakatan, Hamas akan melepaskan 50 sandera dan perempuan dari seluruhnya 240 sandera dan sebagai imbalan, Israel akan membebaskan 150 dari sekitar 7.800 tahanan Palestina yang meringkuk di penjara-penjara Israel.
Jeda Kemanusiaan yang dimediasi Qatar, Mesir dan AS, di lapangan pada awalnya menghadapi keruwetan di lapangan terkait nama-nama sandera yang ada di tangan Hamas, teknis pembebasan dan juga ketidak-sepahaman masing-masing pihak pada kesepakatan itu.
Sebelumnya laman Times of Israel (23/11) mengutip seorang pejabat negara Yahudi itu menyebutkan, penundaan Jeda Kemanusiaan terjadi karena perbedaan pemahaman tentang penandatanganan kesepakatan antara kedua belah pihak dan juga nama-nama sandera yang akan dibebaskan.
Sementara Direktur Dinas Rahasia Israel Mossad David Barnea mengaku daftar nama-nama gelombang pertama sandera warganya yang akan dibebaskan tidak sesuai dengan kesepakatan.
Warga sipil di Gaza bersuka cita menyambut gencatan senjata, selain merasa terbebas sejenak dari trauma dan rasa takut akan menjadi korban sasaran bombardemen atau tembakan dan juga berdatangannya bantuan logistik untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Israel mengijinkan 200 truk pengangkut bantuan berupa obat-obatan, makanan dan air bersih ke Gaza setiap hari selama empat hari Jeda Kemanusiaan termasuk pasokan 130.000 liter BBM untuk menjalankan generator pembangkit tenaga listrik yang diperlukan untuk penerangan dan memasak.
Sebagian warga Gaza selatan juga berbondong-bondong dari pengungsian untuk melihat kondisi rumah masing-masing setelah sekitar sebulan ditinggalkan, walau sebagian kecele karena rumah mereka tinggal puing-puing akibat bombardemen Israel.
Konflik berdarah Hamas vs Israel berlangsung pasca serangan ribuan roket dibarengi serbuan mendadak milisi Hamas dan penyanderaan 240 warga di wilayah Israel Selatan (7 Okt), dibalas bombardemen dari darat dan udara serta serbuan pasukan Israel ke wilayah Gaza di Palestina (8 Okt), sampai hari ini.
Di pihak Israel, 1.200 orang warganya tewas pada 7 Okt., sebaliknya aksi pembalasan dengan bombardemen massif Israel termasuk ke fasilitas umum seperti rumah ibadah, bangunan sekolah dan rumah sakit sejak 8 Okt. menewaskan sekitar 14.850 warga Palestina, lebih separuhnya perempuan dan anak-anak, serta melukai 30.000 lainnya.
Saling tuding
Masyarakat int’l dan pihak Hamas menuding Israel sedang melakukan aksi genocida terhadap warga Palestina di Gaza, sebaliknya, Israel yang didukung AS dan negara-negara Uni Eropa menganggap aksi Israel sebagai tindakan untuk membela diri.
Konflik Arab – Israel terkait isu Palestina yang terus menjadi bara dalam sekam di kawasan Timur Tengah sejak pembagian wilayah berdasarkan Deklarasi Balfour ditandai kemerdekaan Israel pada 1948.
Sejak perang kemerdekaan Israel pada 1948, diikuti Perang Enam hari Arab – Israel pada 1967 dan Perang Yom Kippur pada Oktober 1973, terjadi proses peredaan ketegangan untuk mengupayakan perdamaian, walau isu Palestina masih tetap mengganjal.
Pembukaan hubungan diplomatik dengan Israel diawali Mesir dengan ditekennya Kesepakatan Camp David (1978), Jordania (1994), lalu Bahrain, Maroko, Sudan dan UAE berdasarkan Kesepakatan Abraham pada 2021.
Arab Saudi dilaporkan sedang melakukan pendekatan-pendekatan menuju hubungan diplomatik dengan Israel dan selama ini diam diam sudah menjalin kerjasama a.l. tukar-menukar informasi intelijen dan penggunaan jalur penerbangan udara.
Namun akar isu Palestina sampai hari ini belum terselesaikan karena Israel tetap ngotot mempertahankan wilayah Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur yang didudukinya, bahkan memindahkan ibu kota dari Tel Aviv ke Yerusalem.
Jeda Kemanusiaan empat hari diharapkan bisa diperpanjang guna membangun saling kepercayaan antara kedua belah pihak sehingga beranjak ke proses perdamaian komprehensif dan pada gilirannya tercapai solusi “dua negara” yakni Palestina dan Israel yang hidup berdampingan secara harmonis. (NS/berbagai sumber)




