KONFERENSI damai di Astana, ibukota Kazakhstan antara delegasi rezim petahana Suriah pimpinan Presiden Bashar al-Assad dan Pasukan Pembebasan Suriah (FSA) , walaupun belum mampu mengakhiri konflik di negeri itu, paling tidak bisa mencegah bertambahnya korban.
Sejak semula, rembug damai prakasa Iran, Rusia dan Turki 22 – 24 Januari tersebut memang disasar guna mengukuhkan gencatan senjata yang sudah dicapai sejak 29 Desember 2016, membuka dialog antara kubu petahana dan FSA serta untuk memerangi terorisme.
Deklarasi Astana berisi kesepakatan untuk mengawal Suriah sebagai negara multi-agama, memperkuat pelaksanaan dan pemantauan gencatan senjata, membuka akses bantuan di wilayah terkepung dan akses proses politik sesuai resolusi DK PBB No.2245 serta mendorong faksi-faksi bersenjata hadir di pertemuan damai di Jenewa, 8 Februari nanti.
Kedua belah pihak yang bertikai cukup puas atas hasil pertemuan Astana tersebut. Pimpinan delegasi pemerintah Suriah, Bashar Ja’afari menilai pertemuan Astana berhasil mencapai konsensus guna mengonsolidasikan gencatan senjata dan membuka peluang dialog antarsesama rakyat Suriah.
Sebaliknya, pimpinan delegasi kubu oposisi Muhammad Alloush berjanji, pihaknya berkomitmen mengawal kesepakatan gencatan senjata, sepanjang rezim petahana juga melakukan hal sama.
Kelompok perlawanan mengusulkan pembentukan komite pengawas gencatan senjata di titik-titik strategsis yang disepakati dan seluruh milisi asing pendukung masing-masing pihak bertikai meninggalkan Suriah paling lambat dalam satu bulan.
Konflik Suriah selain dipicu persoalan internal antara kubu loyalis al-Assad dan kubu perlawanan yang tergabung dalam FSA , juga akibat akumulasi kepentingan dan perebutan pengaruh negara-negara sekitarnya dan juga “pemain” kelas dunia (AS dan Rusia) serta konspirasi politik sektarian.
Perebutan pengaruh di kawasan terjadi antara Arab Saudi dan Turki di satu pihak dan Iran, Irak dan Kurdi di pihak lain, sementara dari kelompok sektarian terjadi perebutan pengaruh antara paham Syiah dan Sunni.
Korban tewas 320.000 orang
Dua juta warga Suriah hengkang, menyabung nyawa menyeberangi Laut Mediteranea atau melintasi daratan Turki menuju Eropa, sekitar 12 juta kehilangan nafkah dan 320.000 korban tewas terperangkap di tengah konflik yang berkecamuk sejak sekitar lima tahun lalu.
Sejumlah pertemuan yang diprakasai PBB berujung kegagalan, karena terbentur isu utama yakni pro-kontra mengenai kelanjutan pemerintahan petahana pimpinan Bashar al-Assad.
FSA yang didukung negara-negara Barat menganggap rezim al-Assad adalah sumber persoalan sehingga harus dikesampingkan dalam setiap perundingan damai, namun sebaliknya, Rusia dan Iran ngotot mengajak rezim al-Assad dan bersikeras menganggap persoalan Suriah harus diselesaikan sendiri oleh rakyatnya.
Rusia yang berpihak dan memasok senjata secara besar-besaran bagi Suriah untuk menghadapi Israel, ngotot mendukung rezim al-Assad karena negara beruang merah itu juga menganggap kemitraannya dengan Suriah sangat strategis, terutama terkait penempatan armada angkatan lautnya di Tartus, Suriah.
Konferensi Astana semula disangsikan akan mampu membuat kedua belah pihak bertikai, kubu rezim al-Assad dan FSA keluar dari jalan buntu, karena tidak seluruh kelompok perlawanan terwakili.
Front Fath al-Syam (sebelumnya al-Nusra) dan kelompok Negara Islam di Irak dan Suriah (NIIS) yang berada di kubu kelompok perlawanan tidak diundang karena mereka distigmakan sebagai gerakan terorisme.
Salah satu sponsor pertemuan, Turki, juga menolak kehadiran wakil kubu oposisi lainnya dari kelompok milisi Kurdi (Satuan Pelindung Rakyat – YPG) untuk dihadirkan dalam pertemuan Astana.
Kehadiran YPG sangat dilematis bagi Turki karena milisi Kurdi tersebut selain mitra, sekaligus juga seteru yang harus diperangi.
Walaupun masih jauh, Konferensi Astana paling tidak membuat proses perdamaian naik ‘seanak tangga’ lagi.
Ditunggu, kenaikan ke ‘anak-anak tangga’ lebih tinggi lagi yang berujung terwujudnya perdamaian abadi di tanah Suriah. (AP/AFP/Reuters/NS)
,





