Jelang Musim Kemarau, BMKG Imbau Masyarakat Tampung Air Hujan

Ilustrasi: Petugas Suku Dinas Sumber Daya Air (Sudin SDA) Kepulauan SeribuĀ memperlihatkan sarana penampungan air hujan (PAH) yang dibangun untuk memenuhi kebutuhan air bersih warga Kelurahan Pulau Harapan, Kepulauan Seribu Utara, Selasa (20/9/2022). (Foto: ANTARA/Abdu Faisal)

JAKARTA – Plt Deputi Bidang Klimatologi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) RI, Dodo Gunawan, mengimbau masyarakat untuk menampung air hujan sebelum memasuki musim kemarau.

Dia menyarankan agar masyarakat memanfaatkan air hujan yang terakhir kali turun di musim hujan untuk dijadikan sumber air selama musim kemarau. Selain itu, sisa air hujan yang masih ada dapat diresapkan ke tanah untuk memenuhi kebutuhan lingkungan yang lebih luas.

“Manfaatkan air terakhir di musim hujan, sebenarnya kita selalu mengimbau setiap masuk musim kemarau. Manfaatkan air hujan itu dengan ditampung agar suatu saat bisa digunakan saat musim kemarau,” kata Dodo dilansir dari Antara, Jumat (28/4/2023).

Salah satu program yang dicanangkan oleh pemerintah untuk mengatasi genangan air adalah dengan membuat lubang resapan vertikal bernama biopori.

Dodo menekankan agar air hujan tidak mengalir ke badan air, selokan, atau sungai, melainkan masuk ke dalam tanah. Dia juga mengatakan bahwa air yang ditampung atau diresapkan sangat bermanfaat untuk pertanian.

Dan, dapat disimpan di kolam-kolam penampungan atau cekungan di pinggiran sungai. Meskipun harus dipompa, tetapi tetap ada sumber air yang dapat dimanfaatkan.

“Jangan air hujan mengalir begitu saja ke badan air, selokan, sungai. Usahakan masuk ke dalam tanah. Untuk kebutuhan lingkungan itu bisa ditampung. Untuk lebih luasnya lagi, ya, diresapkan,” ujarnya.

Untuk rumah tangga, salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menampung air hujan menggunakan bak penampungan.

Dodo menyarankan agar masyarakat dapat menggali bak di dalam tanah yang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan air di rumah tangga selama musim kemarau.

“Misalnya, ada bak di dalam tanah yang cukup, digali, itu bisa dimanfaatkan paling tidak untuk kebutuhan masing-masing di rumah tangga selama musim kemarau,” tutur Dodo.

Namun, Dodo menegaskan bahwa upaya menampung dan meresapkan air hujan ini tidak bisa dilakukan oleh pemerintah maupun BMKG sendiri.

Perlu ada sosialisasi yang didukung oleh kelompok masyarakat dan LSM untuk menyosialisasikan gerakan memanfaatkan air hujan secara masif.

Meskipun BMKG hanya sebagai sumber informasi, namun bersama-sama dengan masyarakat dapat bergerak untuk memanfaatkan air hujan secara optimal.

“BMKG secara khusus hanya sebagai sumber informasi, tetapi bersama-sama kita tentu bisa bergerak bersama agar masyarakat juga sadar dan mau memanfaatkan air hujan, harus ada gerakan yang masif,” katanya.

Dodo juga menjelaskan bahwa suhu tinggi yang terjadi belakangan ini disebabkan oleh pola garis edar semu Matahari pada April, sesaat setelah 23 Maret melintasi ekuator, yang membuat Bumi di wilayah Indonesia mengalami musim terpanas dengan suhu maksimum karena kemiringan suhu Bumi.

Hal ini juga menandakan bahwa Indonesia akan segera memasuki musim kemarau di bulan Mei.

Advertisement