Jemaah Kecewa Berjamaah

Selama masa pandemi Corona, ibadah haji diselenggarkan terbatas dan mengikuti Prokes secara ketat.

MUSIM hajiĀ  2020 Indonesia tak bisa memberangkatkan ratusan ribu jemaah hajinya, gara-gara penyakit Corona yang mendunia. Tahun 2021 kembali kita batal mengirimkan calhaj, karena pemerintah Arab Saudi belum memberikan lampu hijau. Sangat dimaklumi bila para jemaah menjadi kecewa berjamaah. Tapi mau bagaimana lagi, ini keadaan memaksa yang bukan maunya pemerintah Arab Saudi-RI. Pasca pengumuman Menag Yaqut Kholil Qoumas, Menko PMK Muhadjir Effendi hany bisa menghibur, musim haji 2022 calhaj 2020 akan diperioritaskan. Itupun, jika kondisi sudah pulih, Covid-19 sudah mereda dan melenyap.

Jika mengikuti rasa keadilan dan pasti didukung oleh Partai Keadilan Sejahtera, tentunya tahun 2022 nanti pemberangkatan calhaj untuk tiga musim sekaligus. Tapi mana mungkin rapelan tiga kuota haji ini dikabulkan kerajaan Arab Saudi. Tempatnya sangat tidak memungkinkan, karena rasa kecewa berjamaah itu bukan monopoli jemaah haji Indonesia belaka. Kalau bisa negara-negara lain juga dapat rapelan dong!

Komentar ustadz Adi Hidayat sangat menyejukkan dan mencerahkan. Beliau memahami alasan pemerintah, tapi sekaligus memberi masukan agar para jemaah mendapat penjelasan yang rinci sebagai pengobat rasa kecewa berjamaah. Tapi ironisnya, ada kelompok sebelah yang kemudian menuduh pemerintah macem-macem. Katanya, baru pemerintahan sekarang Indonesia tak memberangkatkan jemaah haji. Jelas oknum ulama ini tak membaca sejarah.

Sederet tuduhan dalam bentuk pertanyaan itu disampaikan pula lewat twitternya bahwa: Apakah karena faktor terlalu dekat ke RRC? Apakah karena kezaliman terhadap HRS? Dan lebih menyakitkan lagi ketika dianya mencicit, ā€œApakah karena dana haji dipaksa dipakai? Apakah murni alasan kesehatan? Apakah menunggu pengadilan akhirat saja?ā€

Mungkin karena tim siber Polri mulai ancang-ancang, sang ustadz pun segera menghapus cuitannya dan minta maaf. Sosok satu ini memang terkenal suka berkomentar nyeleneh dan cenderung menyesatkan, tapi kemudian diselesaikan dengan cara minta maaf. Agaknya di kantongnya banyak menyimpan meterai Rp 10.000,- untuk berjaga-jaga jika dipaksa minta maaf secara tertulis.

Sebelum Menag Gus Yaqut mengumumkan pembatalan haji Kamis (03/06) lalu, banyak isyu berkeliaran soal Indonesia tak dapat kuota haji tahun ini. Terutama dipicu pemberitaan bahwa Arab Saudi mengizinkan 11 negara Eropa-AS masuk negaranya. Isyunya itu kuota haji, padahal aslinya untuk keperluan di luar haji, dan itupun hanya untuk wilayah Arab Saudi di luar Mekah-Madinah.

Ada pula yang dikaitkan dengan masalah vaksinasi. Benar memang bahwa pemerintah Arab tidak mengeluarkan kuota haji karena pertimbangan pandemi Corona. Tapi bukan berarti menyoal RI karena calhajnya menggunakan vaksin Inovac yang belum direkomendasi WHO. Kabarnya yang baru direkomendasi WHOĀ  adalah produk AstraZaneca. Ini kan bisa dituduh pesanan sponsor.

Kemudian banyak saran dari DPR bahkan termasuk mantan Presiden SBY, agar Presiden Jokowi melobi raja Salman. Semua orang tahu, betapa dekatnya Jokowi-Salman ini, sampai-sampai hanya Jokowi Presiden RI yang diizinkan masuk ke dalam Ka’bah kiblatnya umat Islam sedunia. Tapi betapapun kedekatan itu, sehingga tiap tahun dapat tambahan kuora sampai 10.000-an jemaah, tapi tak mungkinlah Jokowi akan memaksa raja Salman memprioritaskan calhaj Indonesia. Apa kata dunia?

Sudahlah, Ā Menag telah memutuskan, ustadz Adi Hidayat juga telah memberi masukan, dan Menko PMK telah ā€œmenghiburā€ para calhaj. Manusia hanya bisa berencana, tapi Allah Swt yang menentukan. Semoga saja pandemi Corona segera berakhir, sehingga tahun 2022 dan seterusnya Indonesia bisa kirim jemaahnya secara normal. Calhaj harus bersabar, bukankah kesabaran adalah ujian bagi orang menunaikan ibadah haji?

Ketahuilah bahwa haji mabrur bukanlah jaminan untuk mereka yang berangkat ke Mekah-Madinah. Sebaliknya, tak jadi berangkat haji pun bisa memperoleh peringkat itu, manakala calhaj lebih peduli pada tetangganya yang kelaparan. Riwayat Abdullah bin Mubarok (118-181 H/726-797 M), seorang ulama asal Marwaz, Khurasan, mengisahkan hal ini. Saat tidur Ā dia bermimpi bahwa ada dua malaikat memperbincangkan gairah umat Islam berhaji tahun itu.

ā€œTapi dari 600.000 jemaah tak satupun yang memperoleh haji mabrur. Yang dapat jutru Muwafak tukang sepatu dari Damsyik (Damaskus), yang membatalkan keberangkatan hajinya. Sebab dia ikhlas memberikan semua ongkos hajinya demi sebuah keluarga yang terpaksa masak bangkai keledai akibat kemiskinan.ā€

Di Indonesia sini, ketika mau daftar haji, sempatkah tengok kanan kiri untuk melihat adakah tetangganya yang miskin? Justru sebuah kebanggaan, manakala setiap tahun bisa menunaikan rukun Islam ke-5. (Cantrik Mataram)

Advertisement