JOMBANG – Warga Dusun Gondanglegi, Desa Gondangmanis, Kecamatan Bandar Kedungmulyo, Jombang, harus berjuang memanjat tebing yang dilapisi batu sebagai penahan agar bibir tanggul tidak longsor, untuk bisa sampai rumah dan sekolah.
Semua dilakukan sejak jembatan yang menghubungkan dua dusun tersebut putus karena tergerus arus sungai, Maret 2107 lalu.
Selain jembatan amblas, tanggul sepanjang Sungai Konto juga menipis. Jika tanggul itu jebol, maka Dusun Gondanglegi akan tenggelam.
“Dulu lewat jembatan yang ambrol itu, kalau airnya tinggi dan deras terpaksa harus memutar jauh. Awalnya takut turun tebing tanggul yang curam, tapi sekarang sudah biasa,” ujar Bustomi (7), salah satu murid SD, dilansir beritajatim, Rabu (24/5/2017).
Kepala Dusun Gondanglegi Sukiat mengaku cukup tersentuh dengan perjuangan anak sekolah yang notabene warganya. Namun bagaimana lagi, di Dusun Gondongalegi tidak ada sekolah SD. Sehingga sebanyak 40 anak bersekolah di SDN Gondangmanis II dan juga Madrasah Ibtidaiyah (MI) setempat, karena sekolah itulah satu-satunya yang terdekat.
Sukiat menambahkan jika memang ada jalan raya yang menghubungkan Dusun Gondanglegi ke Gondangmanis. Hanya saja, warga harus memutar cukup jauh. Belum lagi jika jalanan macet, maka sampai di sekolah bisa terlambat.
Sukiat menambahkan, sebelum ada jembatan alternatif dari batu, pihak desa harus menyediakan mobil siaga desa (MSD) guna mengangkut anak-anak itu ke sekolah. Karena untuk melintas sungai sudah tidak mungkin. Sudah jembatan ambrol, debit air juga tinggi.
Ia berharap pemerintah segera membuatkan jembatan yang layak buat warganya sehingga anak-anak jika bisa sekolah dengan nyaman.





