JAKARTA (KBK)– Vera Pariati , 54 tahun, hanya dapat duduk terdiam saat melihat rumahnya dieksekusi menggunakan escavator milik Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta. Ibu lima anak ini merupakan salah seorang dari ratusan warga kawasan Pasar Ikan, Kampung Aquarium, Luar Batang, Penjaringan, Jakarta yang digusur pada Senin (11/4/2016).
Sudah 38 tahun, Ia tinggal di rumah berukuran 13×6 meter yang digaruk oleh escavator tersebut. dalam hitungan menit, rumah peninggalan almarhum suaminya yang meninggal 13 tahun lalu itu rata dengan tanah.
Pariati memang mendapatkan tempat tinggal pengganti yang disediakan oleh Pemprov DKI Jakarta berupa rumah susun sewa di daerah Rawa Bebek. Namun dirinya merasa keberatan jika harus tinggal disana.
“Tempatnya sempit. Sekitar 6×4 meter. Tidak ada kamar tidur, dan satu kamar mandi,” ujarnya kepada KBK di Jakarta, Selasa (12/4/2016).
Selain itu dirinya tidak menyanggupi untuk membayar sewa tiap bulan. Besarnya biaya sewa tersebut hingga saat ini belum diketahui.
“Untuk sementara saya masih mau gabung ke rusun, agar anak saya bisa tidur, tiga bulan kan masih gratis. Nah setelah itu saya harus mikir lagi bayar pake apa membayarnya, sedangkan uang gak ada,” katanya.
Sejak ditinggal suaminya, Pariati tidak mempunyai penghasilan. Dirinya tidak bekerja maupun berdagang. Untuk makan sehari-hari ia mengandalkan uang yang dikirim oleh anak-anaknya yang bekerja di Kalimantan.
Anak pertama hingga ketiga Pariati sudah menikah dan bekerja di Kalimantan. Sedangkan anak keempatnya masih bujangan dan bekerja di Balikpapan. Keempat anaknya yang bekerja tersebut hanya sebagai karyawan dan buruh. Sehari-hari dirinya tinggal bersama anak bungsunya yang saat ini duduk di bangku kelas 6 SD.
“Yang bungsu sejak malam saya titipkan di Rawa Bebek. Barusan nelpon teriak laper. Saya juga belum makan dari kemarin. Gak kepikiran makan,” jelasnya.
Dikatakannya, pada Senin malam ia bersama 50 warga lain tidur di pengungsian. Lelah akibat berdorong-dorongan dengan ribuan orang gabungan TNI dan Satpol PP pada Senin (11/4/2016) pagi memaksanya terlelap diantara puing-puing bangunan yang sudah digusur. Padahal sebelumnya Pariati dirawat di Rumah Sakit Atmajaya akibat kaget saat dirinya menerima surat pemberitahuan (SP) ke dua dari pemerintah untuk segera mengosongkan rumahnya.
Pada Jumat (8/4/2016), Pariati memaksa untuk pulang dari RS. Dirinya bersikeras untuk pulang agar dapat berupaya mempertahankan rumahnya. Padahal, lanjutnya, dokter tidak memperbolehkan untuk pulang.
Meskipun tahu bahwa dirinya beserta warga tidak sanggup menahan jutaan petugas, namun Pariati tetap berupaya agar pemerintah dapat memberikan dana kompensasi serta perpanjangan waktu. Pasalnya anaknya yang saat ini kelas enam SD cukup jauh untuk kesekolah jika harus pindah ke Rusunawa Rawa Bebek.
“Anak saya sekolahnya jadi susah, padalah sedikit lagi mau Ujian Nasional dan tes masuk SMP Negeri. Kalo ga dapet negeri saya ga sanggup masukin di SMP Swasta,” pungkasnya.





