
WALAU potensi ancaman kini sudah jauh mereda dibandingkan dengan era Perang Dingin lalu, Jerman agaknya masih belum bisa lepas dari bayang-bayang perlindungan keamanan dari Amerika Serikat.
Hal itu tercermin dari pernyataan Menlu Jerman Heiko Maas di tabloid Bild am Sonntag (7/6) terkait rencana Presiden AS Donald Trump menarik 9.500 dari 34.000 personil militernya yang ditempatkan di bawah Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO).
Menurut Maas, walau hubungan trans-Atlantik (antara AS dan Uni Eropa-red) menjadi rumit di era kepemimpinan Trump, AS dan Jerman tetap menjalin kerjasama erat dan menganggap penarikan tentara AS berisiko bagi keamanan di kawasan Eropa.
Sementara anggota senior parlemen partai konservatif pimpinan Kanselir Angela Merkel, Johann Wadephul menyebutkan, rencana Trump menarik pasukan menunjukkan pengabaiannya pada peran penting AS bagi penegakan keamanan di kawasan itu.
Namun Wadephul berpandangan bahwa hal itu bisa dijadikan pelecut bagi negara-negara Eropa untuk lebih bertanggung jawab atas pertahanan mereka sendiri dan mengingatkan, setiap perselisihan antara sesama anggota NATO hanya akan menguntungkan China dan Rusia.
Sebaliknya, Presiden Trump juga pernah melontarkan kekecewaannya karena negara-negara anggota NATO lainnya hanya menyisihkan anggaran pertahanannya di bawah dua persen, sehingga AS harus lebih banyak memberikan kontribusinya.
Di sisi lain, sebenarnyaa ancaman nyata terhadap NATO juga sudah jauh mereda pasca runtuhnya Uni Soviet yang menandai berakhirya era Perang Dingin, diikuti bubarnya Pakta Warsawa yang dipimpin negeri beruang merah itu.
Bahkan sebagian negara sempalan Soviet di Laut Baltik seperti Estonia, Latvia dan Lithuania dan negara eks-Yugoslavia yakni Kroasia, Montenegro, Makedonia Utara dan Slovenia serta negara-negara anggota Pakta Warsawa seperti Albania, Polandia, Rumania, Ceko dan Slowakia malah kini bergabung ke dalam NATO.
Jadi, potensi ancaman sesungguhnya bagi NATO yang eranggotakan 30 negara saat ini tinggal Rusia atau mungkin China yang mulai muncul sebagai kekuatan militer baru penyeimbang AS.
Jerman yang berbagi front dengan Jepang melawan AS dan sekutu-sekutunya dalam Perang Dunia II (1939 – 1945) yang menewaskan 55 juta orang, kini menjadi konco erat AS.
“Tidak ada teman atau musuh sejati, kecuali kepentingan yang abadi, “ ungkap pameo lawas. (AP/AFP/ns)




