SAAT Bupati Purworejo (Jateng) dijabat oleh Gurnito, tahun 1995-an beliau pernah mengusung kesenian daerahnya, Jidur atau Dolalak pentas ke Jakarta, dalam rangka HUT Brimob, Jl. Prapatan, Kwitang. Selasa 12 Februari lalu, tiba-tiba Jidur muncul lagi menyambut kehadiran Presiden Jokowi untuk membuka Rembug Nasional Pendidikan Kebudayaan (RNPK) 2019 di Pusdiklat Kemdikbud, Sawangan, Depok.
Tapi jidur yang tampil kali ini agak berbeda. Bila di Kwitang full Jidur Wedok, yang di depan Presiden Jokowi Jidur Wedok sudah pakai jilbab, kaki dibungkus celana panjang. Padahal sebelum dimodifikasi, Jidur Wedok biasanya tampil dengan celana pendek, sehingga memamerkan pahanya yang mulus-mulus, bikin mata lelaki jelalatan dan jantung sedut senut!
Jidur Wedok, memang tinggal itulah yang masih hidup di Kab. Purworejo, sementara jidur lelaki sudah jarang tampil alias tenggelam sejak tahun 1976-an. Terakhir tampil September 2012 di Desa Susuk Kec. Ngombol Kab. Purworejo, dengan sponsor almarhun Bapak Slamet Wiyadi MA mantan diplomat era Bung Karno.
Mengapa Jidur Wedok masih bisa bertahan ala kadarnya? Karena dikemas lebih berani. Sengaja pakai kostum celana pendek, sehingga menampilkan paha-paha mulus, sementara pantat njedit nampak megal-megol merangsang mata kaum lelaki. Boleh percaya boleh tidak, di daerah Purworejo sekarang, bila kebetulan ada tontonan jidur dan wayang kulit bersamaan meski beda tempat, panggung wayang kulit sepi penonton. Semua tumplek di arena Jidur Wedok yang menawarkan pemandangan paha mulus dan pantat njedhit itu tadi.
Nanyian dalam pentas jidur mirip Bahasa Arab, bahkan seperti salawat tapi sudah banyak lari dari bahasa aslinya. Setiap mulai pentas selalu diawali dengan kata pembuka: asalam mungalaeka ya ena lo’a, abe yame asalam murngali. Assalam murngalim hi asalam mungala ala moka, tumilir kilir, keroh hi asam mungalim… Kemudian disambut suara music berupa terbang, kendang, bedhug dan sekarang ditambah organ tunggal. Para pemain sebanyak 12 orang berjejer baris 6-6 siap berjoged mirip dansah dan beksan wayang orang.
Sebagaimana jathilan di Yogyakarta, jidur juga mampu menghadirkan lelembut (makhluk halus) dalam pementasannya. Tiba-tiba salah satu pemain bergerak lebih agresif, orang Purworejo menyebutnya: ndadi. Ini adegan yang ditunggu para penonton, meski kadang penoton sendiri yang jadi “korban”, kerasukan setan jidur yang masuk ke dalam tubuhnya. Setelah trance barang 10 menit, barulah pawang jidur mengobatinya.
Kata seorang pemain yang sempat ndadi, saat setan jidur masuk memang tak ingat apa-apa lagi. Cuma gelagatnya lain. Saat makhluk halus itu masuk ke dalam tubuh, tiba-tiba tercium bau wangi. Kulit kuduk terasa tebal sekali, jempol kaki kesemutan terus menjalar ke perut dan selanjutnya ….wusss, lupa akan segalanya. Ketika setan jidur telah pergi, tubuh menjadi lemas tak berdaya.
Kata orang, lelembut yang merasuk ke tubuh pemain biasa disebut endhang, dia golongan makhluk halus. Dia tak sembarangan masuk, karena harus ada syarat jampi-jampinya. Waktu kehadirannya juga tak menentu. Jika pentas malam, biasanya baru mau masuk pukul 24.00. Pentas siang pukul 11.00 sudah ndadi, karena ingin segera makan siang berupa kembang!
Sacara umum di Kab. Purworejo jidhur lebih dikenal dengan nama Ndolalak. Tapi entah kenapa, di Purworejo Kidul (Bagelen) dan sekitarnya disebut Jidhur. Mungkin karena musik pengiringnya dikompliti dengan jedhor (bedhug kecil). Yang jelas kesenian Jidhur telah hadir kali pertama tahun 1925. Mengapa syair-syair lagu berbau pesan-pesan moral Islami, karena perintisnya santri muda bernama Rejotaruno, Duliyat, dan Ronodimejo.
Purworejo di jaman penjajahan banyak tangsi kompeni Belanda. Tempo-tempo para serdadu cari hiburan, berjoged dan menari bersama orang kampung dengan lagu yang notnya cuma: do la la (1, 6, 6). Terpengaruh para serdadu Belanda, orang kampung mereka-reka bikin grup kesenian yang salah kaprah dinamakan ndolalak hingga kini. Kostumnya mirip serdadu Belanda, sementara gaya berjogednya gabungan antara dansah dan beksan wayang orang.
Di daerah Kec. Ngombol tahun 1960-an, manakala baru saja digelar tontonan Jidhur Lanang, bocah-bocah kompak menghapalkan syair-syair atau senggakan jidhuran semisal: Rokok kretek taline sutra, kirim potret kanggo tandha mata, atau: andeng-andeng diatas mulut, jangan mandeng nanti kepincut. Ada lagi: Jidhur ndadi kathoke polet, bali njidhur (maaf) silite kopet…..! (Cantrik Metaram)





