JAKARTA – (KBKNEWS) – 22/9 – MENDIKTI Saintek, Brian Yuliarto menyebutkan, berdasarkan perhitungan awal, pemerintah membutuhkan Rp 93,7 triliun untuk menggratiskan biaya pendidikan di perguruan tinggi negeri (PTN).
Brian, seperti dilaporkan Kompas.com (22/9) akan melapor kepada Presiden Prabowo Subianto mengenai analisis dan hitung-hitungan anggaran terkait rencana kuliah negeri gratis ini.
“Ya itu perhitungan awal Rp 93,7 triliun. Kita tentu baru menganalisis. Kita analisis semua kondisi yang ada, kemungkinannya bagaimana. Nanti kami tentu akan lapor kepada Bapak Presiden, tahapannya seperti apa,” ujar Brian di Istana, Jakarta, Selasa (22/9). Baca juga: PTN Gratis, PTS Membayar Harganya
Brian menjelaskan, pada intinya, Prabowo memberikan arahan bahwa pendidikan tinggi harus memberikan akses seluas-luasnya bagi seluruh masyarakat. Dengan begitu, kata dia, jika memang ada masyarakat yang tidak mampu berkuliah, maka negara tetap memberikan akses.
“Sampai saat ini, peran pemerintah sudah cukup besar, tapi Pak Presiden meminta terus ditingkatkan,” ucapnya. “Nanti mungkin setelah Pak Presiden sudah memberikan arahan, mungkin kalau tidak minggu ini, minggu depan kami adakan rapat terbatas khusus membahas hal ini,” imbuh Brian.
Pendidikan gratis sampai PTN
Presiden Prabowo Subianto menyatakan, pemerintah harus menyelenggarakan pendidikan gratis di sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas, dan Perguruan Tinggi Negeri.
Prabowo mengaku akan segera mengadakan rapat terbatas untuk memastikan pendidikan negeri dapat diakses secara gratis.
“Saya sangat setuju, saya akan segera mengadakan ratas atau pokoknya biaya Pendidikan negeri harus gratis! Biaya pendidikan negeri, SD, SMP, SMA, universitas negeri harus gratis!” kata Prabowo saat berpidato dalam HUT ke-28 Partai Amanat Nasional di JCC, Jakarta, Jumat lalu (18/9).
Pernyataan Prabowo yang disampaikan dengan menggebu -gebu disambut sorak sorai meriah para kader PAN yang memenuhi lokasi acara.
Prabowo menyebutkan, dana pendidikan gratis itu bisa diperoleh dari uang yang selama ini dikorupsi.
“Nanti akan ada yang bertanya, dari mana uangnya? Dari yang dikorupsi, yang dicolong, ” ujar dia. (Kompas.com/ns)




