Jomblowan dan Jomblowati

RPTRA Kalijodo akan disulap menjadi ajang jomblowan-jomblowati mencari jodoh. (detikcom)

ENTAH siapa yang mengawali, perjaka tua dan perawan tua, menyandang status janda dan duda terlalu lama; diistilahkan sebagai jomblo. Ini memang bahasa gaul kawula muda. Nah, tiba-tiba Cawagub DKI terpilih, Sandiaga Uno, akan mengangkat harkat dan martabak para jomblowan dan jomblowati itu melalui program KJJ (Kartu Jakarta Jomblo). Mereka diberi ruang untuk bertaaruf di seluruh RPTRA di Jakarta, agar bisa ketemu jodoh, sehingga tidak jomblo lagi dalam keseharian.

Di Jateng, khususnya Kab. Purworejo, jomblo itu mengandung makna: buah kelapa yang membusuk karena dikencingi bajing. Berlawanan sekali kan maknanya, dengan istilah jomblo yang berlaku di era gombalisasi sekarang ini. Apa itu? Jomblo Purworejo buah kelapa yang tak laku dijual gara-gara menjadi korban kencing tupai, sedangkan jomblo di Jakarta tak punya kesempatan –maaf–  “kencing enak” yang menjadi fitrah manusia normal.

Boleh juga tuh gagasan Cawagub DKI, Sandiaga Uno. Begitu detil perhatiannya pada warga kota. Sampai-sampai perjaka tua dan perawan tua, atau pada duda dan janda, diberi akses untuk bisa saling bertemu. Lewat program yang namanya KJJ, lelaki dan  perempuan yang belum punya pasangan diberi ruang bertemu (taaruf) di RPTRA, untuk saling nontoni (melihat) seperti pembeli mobil di showroom. Siapa tahu ketemu jodoh, sehingga bisa ditindak lanjuti sampai ke KUA. Dari tadinya sekedar koalisi, langsung bisa eksekusi, yang dijamin halalan tayiban wa asyikan.

Kecuali penyandang LGBT tentunya, orang tak mau jadi jomblo atau hidup menjomblo. Ahli Ilmu Jiwa Sigmund Freud dari Jerman mengatakan, dalam diri manusia itu ada nafsu mempertahankan jenis, menginginkan keberlangsungan hidup. Bukan untuk dia sendiri, tapi juga anak keturunannya. Maka Allah pun menurunkan umat manusia berpasang-pasangan, laki dan perempuan, sehingga mereka merasa tenang di hidupnya.

Memang ada juga sih aksiomanya. Lelaki atau wanita menjadi jomblo bukan tak laku, tapi karena memang tak lagi punya gairah pada lawan jenisnya. Bisa karena trauma oleh kegagalan kehidupan asmaranya, bisa juga itu sudah menjadi pilihan hidup. Bahkan ada juga yang aneh, hidup berumahtangga secara normal, tapi sengaja tak mau memiliki keturunan. Jadi, pasangan hidupnya itu sekedar untuk bersenang-senang, ketimbang kedinginan tengah malam.

Tapi ada juga, meski bukan anggota LGBT, dia sudah kehilangan selera akan makhluk wanita. Padahal hartanya bermiliar-miliar, jika mau berbini 4 sekaligus juga bisa. Tapi dia memang tak butuh wanita, dia juga tak butuh lagi menambah harta. Tapi  kalau peluang ada, dia sangat membutuhkan sebuah tahta. Itu saja.

Di Jakarta ibukota negara, dipastikan banyak jomblowan-jomblowati itu. Sayang BPS tak pernah mencatatnya, berapa jumlah mereka. Bahkan Ahok pun, 3 tahun menjadi Gubernur DKI, tak pernah kepikiran soal ini. Dia memang banyak membangun RPTRA, tapi tak pernah ada niat mengajangi jomblowan-jomblowati bertaaruf di sini.

Untung ada Cawagub Sandiaga yang jeli. Dia melihat bahwa RPTRA di Ibukota kurang kegiatan. Maka jika telah menjabat mulai 8 Oktober 2017 mendatang, Kartu Jakarta Jomblo itu itu akan diluncurkan, dan silakan jomblowan-jomblowati ketemu di sini. Jika pinjam istilahnya Menpen Harmoko dulu, RPTRA bisa menjadi ruang interaksi positif antara pers eh……jomblowan dan jomblowati.

Bisakah program itu berhasil? Tidak malukah kejombloan mereka menjadi konsumsi publik? Sampai hatikah mereka, berburu jodoh sambil dilihat anak-anak? Masalahnya, sesuai namanya RPTRA juga merupakan arena permainan anak dari balita sampai remaja. Susah dibayangkan jika anak-anak itu kemudian melihat jomblowan-jomblowati sedang lobi sana lobi sini untuk menemukan pasangannya. Keseringan melihat adegan 17 tahun ke atas, apakah mereka tidak cepat menjadi dewasa? (Cantrik Metaram)

Advertisement