SUKABUMI – Angka pengangguran di Kabupaten Sukabumi masih tinggi dan didominasi oleh penduduk berusia muda yang produktif. Hal ini diakibatkan karena putus sekolah, penyandang disabilitas, serta berasal dari keluarga miskin.
Dari hasil analisis Pusat Data dan Informasi Ketenagakerjaan per Agustus 2015 lalu, angka pengangguran terbuka di Kabupaten Sukabumi mencapai 81.535 orang. Termasuk diantaranya penyandang disabilitas.
“Kendati pemerintah telah mengeluarkan UU No 13/2013 tentang Ketenagakerjaan ternyata diskriminasi terhada kaum muda di Kabupaten Sukabumi untuk memperoleh pekerjaan masih ada,” kata Central Area Senior Manager Yayasan Sayangi Tunas Cilik, Brian Sriprahastuti, Rabu (28/12/2016).
Ditambahkannya, angkatan kerja muda berpendidikan terakhir SMA kerap terpinggirkan untuk mengakses dunia kerja dan usaha.
“Mereka semakin berat berkompetisi di pasar kerja. Karena itu, pemerintah harus segera menyingkap para pengangguran usia produktif secepatnya melalui pemberdayaan kemampuan,” katanya, seperti dilansir PR.
Penyebab pengangguran usia produktif ini karena kualifikasi pendidikan yang tidak sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja, dan ketidaksesuaian ketrampilan kaum muda dengan permintaan pasar.
Brian mencontohkan, banyak lulusan pendidikan ketrampilan komputer di Kabupaten Sukabumi, namun sebagian besar pabrik tidak banyak membutuhkan tenaga kerja dengan kemampuan mahir komputer.
Untuk mengatasinya menurut Brian bisa dilakukan melalui program Strengthened Civil Society & Inclusive and Empowered Youth in West Java (CREATIVE) pemberdayaan yang melibatkan Save the Children dan Konfederasi Anti Pemiskinan dengan dukungan dari Uni Eropa diharapkan dapat meningkatkan kualitas tenaga kerja sesuai dengan kemampuannya.
Apalagi dari hasil studi yang dilakukan lembaganya, para pemilik usaha menilai kemampuan soft skill para pekerja muda di Kabupaten Sukabumi dinilai rendah. Termasuk kurangnya motivasi bekerja dan kemampuan berkomunikasi dengan orang lain.
Sementara itu Koordiantor Konfederasi Anti Pemiskinan Indonesia, Bambang Y. Sundayana mengatakan program yang melibatkan tiga ratus orang yang berasal dari tiga kecamatan dan sepuluh desa itu diharapkan tidak hanya dapat memberdayaan kelompok masyarakat. Tapi juga mampu menguatkan program pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja kaum muda.





